MARIA WOODWORTH ETTER

 MARIA WOODWORTH ETTER

"MENYATAKAN ROH KUDUS"











Maria Beulah Woodworth-Etter (22 Juli 1844–16 September 1924) adalah seorang penginjil penyembuhan Amerika . Gaya pelayanannya menjadi model bagi Pentakostalisme dan gerakan Karismatik selanjutnya , sehingga ia mendapat gelar " Ibu Pentakosta " di beberapa kalangan. 


Woodworth-Etter lahir di New Lisbon , Columbiana County, Ohio pada tahun 1844, dengan nama Mariah Beulah Underwood, putri keempat dari Samuel dan Matilda Underwood. Meskipun nama depannya sering dieja sebagai Maria, pengucapannya adalah Ma-rai-ah.


Tuhan telah memberikan satu misi khusus kepada saya untuk membawa roh persatuan dan kasih Tuhan sedang membangkitkan orang-orang di setiap negara yang selalu haus akan Allah dan berkata, 'Datang dan tolonglah kami. Kami menginginkan roh kasih. Kami menginginkan tanda-tanda heran dan mukjizat.


Belum pernah ada orang yang lebih hebat dalam menyatakan Roh Allah selain Maria Woodworth-Etter sejak Kisah Para Rasul dalam sejarah Pentakosta. Dia seorang wanita luar biasa yang memiliki karunia penglihatan dan kekuatan rohani serta tetap tegar dalam menghadapi pertentangan yang sengit, mengangkat tangannya yang mungil, dan mengizinkan Roh Kudus menyebarkan api-Nya. Sister Etter hidup dalam alam roh sebagai bejana penuh kuasa dari pimpinan ilahi dan manifestasi-manifestasi adikodrati-Nya. Dia adalah sahabat surga yang sejati, lebih memilih kehilangan reputasinya di dunia demi memperoleh reputasi surgawi.


Maria (dieja "Ma-ri-ah," bukan "Ma-re-ah") lahir pada tahun 1844 di tanah pertanian Lisbon, Ohio. Dia mengalami kelahiran baru pada permulaan Kebangunan Rohani Besar-besaran Ketiga dalam usia tiga belas tahun. Pengkhotbah yang membawanya kepada Tuhan mendoakan dia agar hidupnya "menjadi sinar yang terang benderang."2 Namun pengkhotbah itu kurang menyadari bahwa gadis kecil yang baru didoakannya itu akan menjadi nenek Kegerakan Pentakosta yang tersebar ke seluruh penjuru dunia.


"Saya mendengar suara Yesus memanggil saya agar keluar menuju jalan-jalan raya dan pagar tanam-tanaman, mengumpulkan domba-domba yang terhilang."



Maria segera mendengar panggilan Tuhan dan mempersembahkan hidupnya kepada Dia. Mengenai panggilannya ini dia menulis, "Saya mendengar suara Yesus memanggil saya agar keluar menuju jalan-jalan raya dan pagar tanam-tanaman, mengumpulkan domba-domba yang terhilang."3 Namun ada sesuatu yang menghentikannya-dia adalah seorang wanita -dan di masa itu wanita tidak diperkenankan berkhotbah. Pada pertengahan abad sembilan belas, wanita bahkan tidak bisa menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum nasional sehingga menjadi wanita pengkhotbah tentunya tidak disukai. Dan sebagai wanita lajang, adalah mustahil baginya untuk masuk dalam pelayanan. Maka Maria merenungkan hal-hal yang Tuhan katakan kepadanya dan dia memutuskan harus menikah dengan seorang misionaris demi mewujudkan panggilannya. Maka dia merencanakan meneruskan pendidikannya kemudian belajar di perguruan tinggi formal untuk mempersiapkan diri.


Namun tragedi menimpa saling akrab satu sama lain. Ayahnya dibunuh ketika sedang bekerja di tanah pertanian mereka dan Maria segera pulang untuk membantu menghidupi keluarganya. Kini segenap harapannya untuk menempuh pendidikan formal sirna sama sekali sehingga dia menyesuaikan diri dengan apa yang menurutnya merupakan gaya hidup orang Kristen pada umumnya.


"MALAIKAT-MALAIKAT DATANG V KAMAR SAYA ..."



Selama Perang Saudara berlangsung, Maria bertemu P.H. Wo


yang kembali dari perang setelah diberhentikan karena kepalanya terluka.


Maria segera berpacaran dengan bekas tentara itu dan tidak lama kemudian


mereka menikah. Mereka mulai bertani, namun kerja keras mereka itu sia-sia belaka. Tampaknya yang ada hanyalah kegagalan. Pada masa itu, Maria melahirkan enam orang anak. Maka dia berusaha menyesuaikan diri dalam kehidupan rumah tangga yang normal meski Tuhan tidak berhenti memanggilnya. Tetapi Maria yang merasa kesal dengan perannya sebagai istri dan ibu itu tidak bisa menanggapi panggilan tersebut. Dia menikah dengan pria yang tidak berminat terjun dalam Menyatakan Roh Kudus


pelayanan, dan ada enam orang anak yang harus dibesarkan dan dirinya pun sakit-sakitan. Kemudian satu tragedi yang hebat menimpa keluarganya. Keluarga Woodworth kehilangan lima dari enam anak mereka karena sakit. Maria mampu menguasai diri setelah peristiwa yang mengerikan itu, namun suaminya tidak pernah sembuh dari rasa kehilangannya. Maria berusaha sekuat tenaga menolongnya membesarkan putri mereka satu-satunya yang sanggup bertahan hidup. Dalam situasi seperti itu, Maria tidak pernah merasa pahit terhadap Tuhan maupun mengeraskan hati akibat kehilangan yang dialaminya tersebut.


Para malaikat datang ke kamarnya. Mereka membawanya ke Barat melintasi padang-padang gurun, danau-danau, hutan-hutan, dan sungai-sungai dan dilihatnya ladang yang panjang dan luas dengan bulir padi emas yang melambai-lambai.


Di tengah pemandangan itu, dia mulai berkhotbah dan melihat bulir-bulir padi itu berjatuhan dalam ikatan-ikatan.


Tetapi Maria membutuhkan jawaban atas sakit hati yang mengganggu dan membuat batinnya tertekan akibat malapetaka yang menimpa keluarganya. Dia pantang menyerah dan mulai menyelidiki firman Tuhan. Dan saat membaca Alkitab, dia melihat bagaimana Tuhan sering memakai wanita sebagai alat-Nya. Dia membaca nubuatan nabi Yoel yang mengatakan bahwa Roh Allah akan dicurahkan ke atas pria dan wanita. Tetapi Maria menengadah ke langit dan berkata, "Tuhar tidak mampu berkhotba tidak tahu apa yang kukatakan dan aku pun tidak berpendidikan." Dia terus-menerus membaca dan menemukan kebenaran dalam firman Allah sembari bergumul dengan panggilannya. Kemudian dia menulis, "Semakin saya menyelidiki, saya merasa kian bersalah."


Kemudian Maria mendapat satu penglihatan yang luar biasa. Para malaikat datang ke kamarnya. Mereka membawanya ke Barat melintasi padang-padang gurun, danau-danau, hutan-hutan, dan sungai-sungai dan dilihatnya ladang yang panjang dan luas dengan bulir padi emas 


melambai-lambai. Di tengah pemandangan itu, dia mulai berkhotbah dan melihat bulir-bulir padi itu berjatuhan dalam ikatan-ikatan. Kemudian Yesus berkata kepadanya bahwa, "sama seperti bulir padi yang jatuh itu, demikian pula orang-orang akan jatuh" saat dia berkhotbah.5 Akhirnya Maria sadar bahwa dia tidak akan pernah bahagia bila belum berserah pada panggilannya. Menanggapi penglihatan luar biasa yang Tuhan berikan itu, dengan rendah hati dia berkata "ya" pada panggilan Tuhan atas hidupnya dan meminta Dia mengurapinya dengan kuasa yang luar biasa.


"W-A-N-I-T-A" BUKAN BERARTI "L-E-M-A-H"


Banyak wanita yang membaca buku ini dipanggil Tuhan untuk berkhotbah. Anda telah memiliki visi dan urapan Roh Allah untuk pergi dan membebaskan umat manusia. Tuhan telah berbicara kepada Anda mengenai kesembuhan ilahi, pelepasan dan kemerdekaan Roh. Maka jangan pernah mengizinkan roh agama membungkam yang telah Tuhan katakan kepada Anda. Agama suka menindas kaum wanita dan pelayanan mereka, khususnya yang masih baru. Anda harus belajar menaati Tuhan tanpa bertanya sedikit pun. Seandainya Maria menjawab sejak masih muda, mungkin anak-anaknya tidak akan meninggal. Saya tidak berkata bahwa Tuhan membunuh mereka. Tetapi maksud saya, ketika kita terang-terangan tidak taat kepada Tuhan, tindakan kita ini membuka pintu pada pekerjaan iblis. Pekerjaan iblis adalah membinasakan. Firr membawa kehidupan. Maka belajarlah menaati Tuhan dengar Keberanian menghasilkan kuasa Allah dan akan membuat par Anda bungkam di hadapan Anda. Selain itu, carilah beberapa wanita yang kuat dan mantap pelayanannya tempat Anda dapat belajar dari mereka. Dan biarlah kata-kata Sister Etter ini menggerakkan hati Anda:


"Saudariku yang terkasih dalam Kristus, saat Anda mendengar kata-kata ini, kiranya Roh Kristus turun atas Anda dan menjadikan Anda rela melakukan tugas yang telah Tuhan tentukan bagi Anda. Inilah saat yang mulia bagi kaum wanita untuk membiarkan terang Tuhan.


Berikut beberapa kutipan hebat dari Maria Woodworth-Etter:


“Aku sangat penakut dan terikat seperti rantai dalam roh yang takut pada manusia. Ketika aku bangkit untuk bersaksi, aku gemetar seperti daun, dan mulai mencari alasan – Ya Tuhan, kirimkan orang lain!”


“Aku mendengar suara Yesus memanggilku untuk pergi ke jalan-jalan raya dan ke pelosok-pelosok dan mengumpulkan domba-domba yang hilang.”


“Saya memintanya untuk memenuhi syarat saya.”


“Namun aku terus-menerus membuat alasan, dan Yesus menjawab, 'Pergilah, dan Aku akan menyertaimu'… Lalu Yesus berkata lagi, 'Pergilah, dan Aku akan menyertaimu.' Aku berseru, 'Tuhan, aku akan pergi. Ke mana aku harus pergi?' Dan Yesus berkata, 'Pergilah ke sini, ke sana, ke mana pun jiwa-jiwa binasa.' Pujilah Tuhan atas kebaikan-Nya yang luar biasa dalam menyatakan firman dan kehendak-Nya dengan cara yang begitu menakjubkan, kepada aku yang lemah dan hina ini. Aku melihat lebih banyak dalam penglihatan itu daripada yang bisa kupelajari selama bertahun-tahun belajar keras. Pujilah Nama-Nya yang Kudus. Aku melihat bahwa aku tidak boleh bergantung pada apa pun yang dapat kulakukan, tetapi harus berpaling kepada-Nya untuk kekuatan dan hikmat.”


“Saya mendapati bahwa para pengikut Kristus yang sungguh-sungguh hanya memiliki sedikit waktu istirahat di sini. Seperti Guru kita, kita harus mengerjakan pekerjaan Bapa kita.”


“Paulus mengatakan bahwa pemberitaan harus disertai dengan demonstrasi Roh dan kuasa. Roh Kudus memberi kesaksian dengan tanda-tanda dan mukjizat; kecuali hal-hal ini menyertai pelayanan kita, kita tidak akan berhasil.”


“Jika kamu merindukan kebebasan dari dosa, pandanglah Anak Domba Allah. Dialah yang mati di Kalvari untuk menebusmu, pandanglah Anak Domba Allah.”



KUNJUNGAN MALAIKAT 


Sebelum memulai pelayanannya, Woodworth Etter mengaku bahwa malaikat secara teratur datang ke kamar tidurnya di malam hari dan membawanya melintasi padang rumput, danau, hutan, dan sungai, di mana ia akan melihat ladang gandum yang luas melambai-lambai yang akan jatuh menjadi ikatan saat ia mulai berkhotbah. 2 Ia memiliki banyak mimpi dan penglihatan seperti itu, yang ia tafsirkan sebagai panggilan untuk berkhotbah.


Dalam pertemuan kebangkitan rohaninya, orang-orang menari, tertawa, menangis, berteriak, menjerit, dan jatuh ke dalam keadaan trans yang terkadang berlangsung selama beberapa hari. Teman-teman Woodworth Etter adalah rakyat biasa, dan musuhnya adalah patriarki gereja-gereja Protestan evangelis dan Pentakosta. Dia tidak berusaha mencari simpati dari rekan-rekan prianya; bahkan, dia menolak untuk terlibat dalam teologi yang bertele-tele yang melanda gerakan Pentakosta yang berkembang pesat, dan malah berkonsentrasi pada tur "trans" kontroversialnya sendiri. Namun, dalam beberapa kasus, dia tidak memandang teologi sebagai sekadar perdebatan yang bertele-tele; misalnya, dia menyebut gerakan "Keesaan" anti-Trinitarian yang muncul sebagai "khayalan terbesar yang pernah diciptakan iblis." 



TUHAN YESUS MEMBERKATI 

Komentar

Postingan Populer