TONGKAT ELISA
TONGKAT ELISA
PENGERTIAN TONGKAT DI KITAB TANAKH
Tongkat dalam kitab Tanakh
Dalam Tanakh (Kitab Suci Ibrani / Perjanjian Lama), "tongkat" memiliki fungsi harfiah dan makna simbolis yang mendalam. Berikut adalah rincian mengenai istilah, arti, dan kisah penting tentang tongkat dalam Tanakh:
1. Istilah Bahasa Ibrani untuk "Tongkat"
Ada beberapa kata dalam bahasa Ibrani yang diterjemahkan sebagai tongkat di dalam Tanakh:
• Mateh (מַטֶּה): Sering digunakan untuk tongkat pemimpin, tongkat suku, atau tongkat yang dipakai Musa dan Harun (misalnya dalam Bilangan 17).
• Shevet (שֵׁבֶט): Berarti tongkat gembala, tongkat pemukul, atau secara metaforis melambangkan kekuasaan, suku, atau kewenangan raja (misalnya dalam Kejadian 49:10 dan Mazmur 23:4).
• Sharvit (שַׁרְבִּיט): Tongkat kerajaan atau tongkat Sempurna/emas yang hanya muncul dalam Kitab Ester (digunakan oleh raja Persia).
Makna Tongkat Simbolis dan Metaforis
Kekuasaan dan Otoritas: Tongkat melambangkan kepemimpinan, hukum, atau hak memerintah seseorang (seperti "tongkat kerajaan" atau shevet penguasa dalam Kejadian 49:10).
Bimbingan dan Perlindungan Ilahi: Dalam Mazmur 23:4, tongkat dan gada milik Tuhan menggambarkan kehadiran Allah yang menuntun serta membentengi umat-Nya dari bahaya.
TONGKAT ELISA
Sahabat Joshua Ivan Sudrajat tongkat Elisa (mateh) memegang peranan penting dalam salah satu mukjizat paling terkenal, yaitu kisah membangkitkan anak perempuan/putra seorang perempuan Sunem.
Kisah Tongkat Elisa dalam 2 Raja-raja 4:29-37
2 Raja-raja 4:29-37 (TB) Maka berkatalah Elisa kepada Gehazi: "Ikatlah pinggangmu, bawalah tongkatku di tanganmu dan pergilah. Apabila engkau bertemu dengan seseorang, janganlah beri salam kepadanya dan apabila seseorang memberi salam kepadamu, janganlah balas dia, kemudian taruhlah tongkatku ini di atas anak itu."
Tetapi berkatalah ibu anak itu: "Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau." Lalu bangunlah Elisa dan berjalan mengikuti perempuan itu.
Adapun Gehazi telah berjalan mendahului mereka dan telah menaruh tongkat di atas anak itu, tetapi tidak ada suara, dan tidak ada tanda hidup. Lalu kembalilah ia menemui Elisa serta memberitahukan kepadanya, katanya: "Anak itu tidak bangun!"
Dan ketika Elisa masuk ke rumah, ternyata anak itu sudah mati dan terbaring di atas tempat tidurnya.
Sesudah ia masuk, ditutupnyalah pintu, sehingga ia sendiri dengan anak itu di dalam kamar, kemudian berdoalah ia kepada TUHAN.
Lalu ia membaringkan dirinya di atas anak itu dengan mulutnya di atas mulut anak itu, dan matanya di atas mata anak itu, serta telapak tangannya di atas telapak tangan anak itu; dan karena ia meniarap di atas anak itu, maka menjadi panaslah badan anak itu.
Sesudah itu ia berdiri kembali dan berjalan dalam rumah itu sekali ke sana dan sekali ke sini, kemudian meniarap pulalah ia di atas anak itu. Maka bersinlah anak itu sampai tujuh kali, lalu membuka matanya.
Kemudian Elisa memanggil Gehazi dan berkata: "Panggillah perempuan Sunem itu!" Dipanggilnyalah dia, lalu datanglah ia kepadanya, maka berkatalah Elisa: "Angkatlah anakmu ini!"
Masuklah perempuan itu, lalu tersungkur di depan kaki Elisa dan sujud menyembah dengan mukanya sampai ke tanah. Kemudian diangkatnyalah anaknya, lalu keluar.
Ketika anak laki-laki dari perempuan Sunem yang baik hati itu tiba-tiba meninggal karena sakit kepala, perempuan tersebut segera pergi menemui Nabi Elisa di Gunung Karmel. Mendengar berita duka itu, Elisa memutuskan untuk mengutus pelayannya, Gehazi.
Prosedur instruksi Elisa kepada Gehazi berjalan secara sekuensial:
Elisa memerintahkan Gehazi untuk mengikat pinggangnya dan bersiap pergi dengan cepat.
Elisa menyerahkan tongkatnya ke tangan Gehazi.
Gehazi dilarang memberi salam kepada siapa pun di jalan atau membalas salam orang lain agar tidak membuang waktu.
Elisa menginstruksikan Gehazi untuk langsung meletakkan tongkat tersebut di atas muka anak yang sudah mati itu.
KETAATAN ELISA MENERIMA TONGKAT
Ketaatan Radikal Saat Dipanggil (1 Raja-Raja 19:19-21)
Ketaatan Setia Mengikuti Elia Sampai Akhir (2 Raja-Raja 2)
Ketaatan sebagai Pelayan (Hamba)
Sebelum melayani sebagai nabi utama, Elisa taat mengambil peran sebagai pelayan pribadi Elia selama bertahun-tahun. Dalam 2 Raja-Raja 3:11, ia dikenal oleh raja-raja sebagai "Elisa bin Safat, yang dahulu menuangkan air ke tangan Elia." Ketaatannya dalam melakukan tugas-tugas kecil dan rendah mempersiapkan dirinya untuk memegang otoritas rohani yang besar di kemudian hari.
• Ketaatan Menghasilkan Otoritas: Kisah Elisa mengajarkan bahwa seseorang tidak bisa memerintah atau memimpin dengan otoritas ilahi jika ia sendiri tidak belajar untuk taat dan tunduk di bawah otoritas orang lain (Elia) dan Firman Allah.
Tuhan Yesus memberkati
Jatiwangi 18 Oktober 2026
Only By HIS GRACE
Joshua Ivan Sudrajat




Komentar
Posting Komentar