Selasa, 30 Agustus 2016

MATERAI PARA MARTIR (THE MARTYR’S SEAL)

MATERAI PARA MARTIR
(THE MARTYR’S SEAL)

Dr. W. A. Criswell

Wahyu 6:9-11
04-01-62

Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang mendengarkan ibadah ini melalui siaran radio, anda sedang bergabung dalam ibadah dari Gereja First Baptist Dallas. Saya adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah pada pukul sebelas pagi, khotbah yang berjudul: Materai Para Martir. Di dalam seri khotbah kita melalui kitab-kitab dalam Alkitab, sekarang kita telah tiba di Kitab Wahyu. Dan di dalam seri khotbah kita melalui Kitab Wahyu, kita telah tiba di pasal 6, dan pembukaan materai kelima yang digambarkan di dalam ayat 9 hingga 11. Pembacaan teks kita adalah seperti ini: Wahyu 6:9-11—
Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.
Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?"
Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.  [Wahyu 6:9-11].

Ini adalah sebuah kitab penghukuman. Perjanjian Lama merupakan gambaran dari masa hukum. Perjanjian Baru merupakan gambaran dari masa yang sedang kita tinggali—masa anugerah. Tetapi Kitab Wahyu menggambarkan sebuah masa dari pencurahan dari hukuman dan murka Allah. Takhta yang dilihat Yohanes di dalam sorga adalah sebuah takhta penghukuman. Di dalam Wahyu 4:5 disebutkan “Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu.” Ini adalah kursi dan takhta penghakiman Allah. Empat kerub yang berdiri di hadapan Allah untuk melaksanakan keputusanNya dan penghukumanNya, mereka adalah alat dari murka Allah yang akan dicurahkan ke atas bumi ini. Mereka berdiri dalam sebuah contoh pelaksanaan keputusan Allah.
Dan ketika mereka berbicara, di dalam horizon sejarah muncullah keempat penunggang kuda yang ada di dalam Wahyu. Dan keempat penunggang kuda itu merupakan alat dari penghukuman atas bumi ini. Materai yang pertama membawa ke panggung sejarah dunia, penunggang kuda yang pertama yang merupakan antikristus yang final itu. Dunia menerima dia dan mengakui dia serta menyambut dia. Dan pembukaan materai yang kedua dan materai yang ketiga serta materai yang keempat merupakan hukuman Allah yang segera mengikuti penerimaan atas tirani dari diktator dunia itu. Materai yang kedua membawa penunggang kuda yang warnanya seperti merah darah. Dia memiliki sebuah pedang besar di tangannya yang merepresentasikan peperangan yang akan melanda dunia. Materai yang ketiga membawa penunggang kuda yang ketika, yang menunggangi kuda berwarna hitam—merepresentasikan kekurangan dan kelangkaan makanan dan kelaparan yang luar biasa yang dalam peperangan itu. Materai yang keempat membawa penunggang kuda yang keempat yang menunggangi kuda yang berwarna kuning hijau—warna dari jenazah yang mati. Materai yang keenam adalah materai dari hari penghukuman Allah ketika langit menyusut bagaikan gulungan kitab, ketika pembesar-pembesar di bumi yang berseru kepada batu-batu karang dan gunung-gunung supaya runtuh menimpa mereka; ketika hari besar dari murka Allah datang. Dan materai yang ketujuh adalah tujuh sangkakala penghukuman Allah—dan ketujuh sangkakala adalah tujuh cawan murka Allah yang terakhir, wabah Allah yang terakhir. Kitab ini adalah kitab penghukuman dari awal hingga akhir.
Dan materai yang kelima tidak jauh berbeda. Ini adalah sebuah materai penghukuman. Mereka ini adalah orang-orang martir yang telah dilahirkan untuk bersaksi atas pencurahan murka Allah itu dan status mereka yang telah terbunuh dan berada di dalam sorga sebagai jiwa-jiwa, mereka berdoa untuk hari pembalasan itu—akhir dari penghukuman Allah ke atas bumi ini. Semua kitab ini, semua materai ini, seluruh sangkakala ini, seluruh cawan murka ini—seluruh Kitab ini merupakan penghukuman terakhir dari Allah atas dunia ini. Jadi materai ini tidak berbeda dengan materai lainnya, anda memang tidak melihat tidakan dari orang-orang kudus itu sendiri, tetapi anda melihat hasil dari tindakan itu, hasil dari apa yang telah terjadi. Sampai sekarang dan seterusnya, ketika materai itu dibuka atau sebuah sangkakala ditiup atau sebuah cawan ditumpahkan, maka di sana akan melintas pemandangan dari sejarah manusia, anda akan melihat perkembangan dari hal ini, yaitu apa yang terjadi. Tetapi tidak di dalam materai kelima ini. Ini adalah gambaran dari hasil yang telah terjadi. Dia melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa dari orang-orang yang telah dibunuh. Dan dibelakang dari jiwa-jiwa yang telah dibunuh itu, anda dapat melihat, sekalipun hal itu tidak dijelaskan atau digambarkan—anda dapat melihat penganiayaan yang mengerikan, yang membuat mereka kehilangan nyawa mereka. 
Siapakah para martir ini, yang jiwa mereka dilihat oleh Yohanes di bawah mezbah sorga? Siapakah mereka. Mereka bukanlah martir sepanjang zaman—orang-orang kudus Allh sepanjang zaman yang telah kehilangan nyawa mereka pada masa lampau, karena pembunuh mereka masih berdiam di atas bumi. Ketika mereka berseru kepada Allah, mereka berseru, “Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?" (Wahyu 6:10). Jadi para martir ini adalah sebuah kelompok khusus dan para pembunuh mereka masih berada di dunia. Hal lainnya—mereka bukanlah jiwa-jiwa yang telah meninggal dalam tahun-tahun dan milenum yang lampau, karena di dalam Wahyu pasal empat, Yohanes melihat dua puluh empat tua-tua di sekeliling takhta Allah dan kedua puluh empat tua-tua ini mewakili orang-orang kudus Allah sepanjang zaman yang telah dibangkitkan, yang telah dikenakan pakaian, yang telah dimahkotai, yang berada di hadapan Yang Mahatinggi.
Jadi, siapakah orang-orang yang telah kehilangan jiwa mereka dan yang berseru kepada Allah mengadakan pembalasan bagi mereka? Mereka adalah para martir yang telah kehilangan nyawa mereka dibawah materai yang pertama itu, pada masa Kesusahan Besar bagian yang pertama. Dan martir lainnya pada akhir dari Kesusahan Besar, dirujuk kepada perkataan Tuhan ketika Dia berkata, “Bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka” (Wahyu 6:11). Dan para martir lainnya adalah orang-orang yang dibunuh pada bagian akhir dari Kesusahan Besar, di awal millennium baru. Di dalam Wahyu 20 ayat 4, anda akan menemukan seluruh martir berdiri di hadapan Allah dan bersiap-siap untuk masuk kedalam kerajaan millennium, dimana mereka akan memerintah bersama Allah selama seribu tahun. Jadi mereka adalah orang-orang yang telah kehilangan nyawa mereka di bawah pertumpahan darah yang mengerikan dari pembukaan empat materai yang pertama. 
Kemudian Yohanes berkata, “Aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh” (Wahyu 6:9). Itu merupakan sebuah hal yang tidak biasa, tetapi seluruh Kitab adalah sebuah hal yang tidak biasa. Kitab Ibrani menggambarkan kemah suci sorga—bait suci sorga. Dan Kitab Ibrani menyampaikan apa yang telah disampaikan oleh Kitab Keluaran—bahwa Musa melihat pola dari kemah suci itu, bait itu berasal dari sorga. Jadi sorga yang sekarang merupakan kediaman Allah memiliki sebuah Bait Suci. Di dalam Wahyu pasal sebelas Yohanes melihat Bait Suci Allah di dalam sorga—pola yang telah diberikan kepada Musa, yang membuat sebuah salinan materi di dunia. Karena itu, sorga memiliki sebuah altar dan anda akan menemukan altar itu dijelaskan di dalam Kitab Wahyu.  Ada sebuah mezbah tembaga, yang merupakan mezbah persembahan, yang disebutkan beberapa kali dalam Wahyu. Dan di sana ada mezbah emas yang merupakan tempat pembakaran kemenyan dan doa, yang disebutkan beberapa kali dalam Kitab wahyu. Kemudian, mezbah ini adalah mezbah pengorbanan—mezbah tembaga yang terletak di halaman kemah suci dan bait suci itu.
Itu merupakan hal yang sangat tidak biasa, bagaimana Firman Allah selalu menggambarkan ketaatan anak-anak Allah yang mengorbankan hidup mereka kepada Allah. Dalam seluruh Alkitab ada gambaran bahwa di atas altar Allah yang berada di sorga, orang-orang kudus mengorbankan hidup mereka—yang menjadi martir dan mempersembahkan hidup mereka bagi Allah. Mereka dipersembahkan kepada Tuhan dan mereka dipandang sebagai korban bagi Allah. Anda akan menemukan ide itu di seluruh Kitab Suci. Sebagai contoh, di dalam Roma 12:1, Paulus mendorong kita untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup di atas altar Allah. Di dalam bagian Alkitab yang telah kita baca, yang dipimpin oleh Saudara Carter pada pagi hari ini, Paulus berkata, “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan” (2 Timotius 4:6). Itu adalah sebuah kalimat persembahan. Ketika dia memandang ke depan, ke akhir hidupnya dan kemartirannya, dia melihatnya sebagai sebuah persembahan kepada Allah di atas altar sorga. Dan itu adalah cara Allah melihat seluruh anak-anakNya yang mencurahkan hidup mereka kepada Allah. Dan hal itu berada di dalam ketaatan dan di dalam ketetapan itu kita hidup dan bekerja dan melayani Tuhan Allah kita Yang Mahatinggi. Jika hal itu menyenangkan Dia, maka itu akan menjadi sebuah persembahan yang hidup, yang baik dan yang sempurna, tetapi jika hal itu berkenan kepada Allah di dalam tujuan elektif Allah, maka persembahan itu juga bisa dengan kematian, jadi, sekalipun kita hidup atau mati, kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah.
Saya telah membaca tentang kisah orang muda, beberapa tahun yang lalu setelah David Livingstone telah membuka jantung Afrika. Saya membaca tentang seorang pemuda di Inggris yang mempersembahkan hidupnya untuk pergi sebagai seorang misionaris di hutan-hutan Afrika. Tetapi dokter berkata kepada orang muda itu, “Anda tidak dapat pergi. Anda sakit dan lemah dan secara fisik anda tidak dapat pergi.” Tetapi orang muda itu berkata, “Di dalam setiap jembatan di bawahnya, di dalam fondasi yang tidak terlihat, ada batu-batu yang melekat ke bumi, tanpa itu jembatan itu tidak akan dapat berdiri.” Kemudian kata orang muda itu lagi, “Ada kehidupan yang tidak dapat dipahami, yang dipersembahkan kepada Allah, dan di atas ketaatan ini dan pengabdian ini, kerajaan Allah dan Bait Allah didirikan. Dan aku akan pergi. Dan jika saya adalah salah satu batu-batu itu, terkubur di dalam bumi dan tidak dikatahui atau tidak terlihat, hal itu berada di dalam tujuan elektif Allah. Saya telah dipanggil dan saya akan pergi.” Dia akhirnya pergi. Dan sesuai dengan penilaian dokter itu, dia segera meninggal di hutan equatorial yang panas itu. Dan itu berada di dalam kehendak Allah. Allah tidak menginginkan kita untuk hidup. Jika Allah memilih kita untuk mati, hal itu berada di dalam tujuanNya dan di dalam ketetapanNya dan di dalam rencanaNya dan di dalam panggilan elektifNya bagi kita. Bagian kita adalah untuk mempersembahkan hidup kita di atas altar Allah di tempat ini sebagai persembahan yang hidup. Jika berada di sana, itu berarti dengan kematian kita. Jika di sini itu berarti tetap tinggal. Di dalam tahun-tahun selanjutnya, hidup itu berada di dalam tujuan elektif Allah, bagian kita adalah untuk mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan. Itu adalah sebuah konsepsi yang luar biasa, “Aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh.” Ada sebuah mezbah Tuhan di dalam sorga. Dan di sepanjang Alkitab ide itu digambarkan bahwa di atas mezbah itu, umat Allah dipersembahkan kepadaNya.
Yohanes berkata, “Aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh” (Wahyu 6:9). Apakah dia berkata bahwa mereka berada di atas altar, itu berada di dalam bencana itu sendiri, di dalam tindakan itu sendiri, di dalam pembakaran itu sendiri. Tetapi ketika dia berkata, “Aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh,” pengorbanan itu sendiri telah dibuat, tindakan itu sendiri telah berlalu, hidup itu sendiri telah dicurahkan. Dan di bawah mezbah, seperti yang terdapat di dalam Imamat, darah dicurahkan di dasar mezbah, di bawah mezbah, pengorbanan itu telah selesai dilakukan; dan di dalam penyesuaian di bawah perlindungan  dengan simbol lainnya dari Firman Allah, mereka beristirahat, mereka memiliki kedamaian di bawah pemeliharaan Kristus. Sebab mezbah itu adalah Kristus. Dan di bawah sayapNya, dan di dalam pemeliharaan pengembalaanNya, melindungi dari kejahatan dan hukuman dan murka, di sana mereka beristirahat untuk sementara di bawah pemeliharaan Yesus.
Kemudian, mengapa para martir ini dibunuh? Di situ dikatakan bahwa mereka telah dibunuh, dan kata “dibunuh”—sphazo, adalah kata untuk mezbah pengorbanan. Kata Yunani untuk pembunuhan itu, pemotongan itu, penyembelihan yang mengerikan itu adalah sphazo.  Mereka telah dibunuh. Tetapi bagi Allah, mereka telah dipersembahkan sebagai sebuah persembahan bagi Dia. Mereka telah menyerahkan hidup mereka kepada Allah. Dan Allah memandang mereka sebagai milikNya. Mereka adalah martirNya. Dan mengapa mereka dibunuh? Mereka telah dibunuh “karena firman Allah dan  dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.” Mereka telah dibunuh karena Firman Allah. Kebenaran Firman Allah selalu membawa oposisi dan bencana dan seringkali kehancuran bagi orang yang menyampaikannya. Hanya sebuah perbedaan kecil di sana. Di dalam wahyu 1:9, di situ dikatakan oleh Yohanes bahwa dia “dibuang ke pulau Patmos karena Firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus.” Tetapi orang-orang ini telah dibunuh “karena firman Allah dan  dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.”  
Lalu, bagaimana hal itu dapat terjadi? Ada sebuah perbedaan kecil di sini: Yohanes, “karena Firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus” (Wahyu 1:9) tetapi mereka telah dibunuh “karena firman Allah dan  dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.” Jadi sangat terlihat jelas seperti apakah hal itu. Mereka hidup pada masa hari penghukuman dan murka Allah Yang Mahatinggi. Dan mereka berada di sana, saat hal-hal ini sedang terjadi, sedang terjadi karena mereka berada di bawah penghukuman Allah. Dan tentu saja, bagi dunia, mengapa hal-hal ini terjadi. Sama seperti hari ini, hal-hal ini terjadi begitu saja. Tetapi bahwa seorang nabi Allah, masalah besar yang sedang dihadapi Amerika adalah karena dosa-dosa Amerika. Dan kota kita semakin rusak setiap hari.    
Kami memiliki seorang cucu laki-laki yang masih kecil di rumah kami, berusia dua setengah tahun. Dia bermain di sekitar rumah sekarang, dengan potongan kertas yang kecil atau sebuah sendok atau sebuah mainan kecil yang dapat dia mainkan di dalam ruang permainannya. Dan itu adalah rokoknya. Dia baru berusia dua setengah tahun. Dia duduk di sana dan melihat televisi selama berjam-jam, bayi yang masih kecil. Dan dapatkah anda bayangakan jenis orang Amerika yang sedang kita bentuk, ketika siang dan malam dan selama berjam-jam, mereka melihat banjir dan pembunuhan dan kejahatan dan keburukan yang sukar untuk dilukiskan yang mengkarakteristikkan tentang apa yang mereka pikiran sehubungan dengan kehidupan Amerika. Dan untuk menunjukkan kepada anda bahwa saya berbicara bukan hanya sebagai seorang pengkhotbah, di sana ada pria yang bekerja di Departemen Pertahanan  yang kembali dari pos mereka dan berkata bahwa gambaran dan lukisan yang dunia lihat tentang Amerika di layar televisi mereka dan program televisi adalah karikatur dari  kehidupan yang nyata dan makna yang nyata dari masyarakat kita. Tidakkah anda berpikir bahwa gambaran itu tidak akan datang untuk menjadi kehidupan yang nyata dari masyarakat Amerika? Sekarang, dapatkah kita hidup dalam rasa takut dan  ketertarikan? Saya merasa di sana ada sebuah keraguan, tetapi masa itu sedang datang. Anda tidak menciptakan bom dan tidak menggunakannya. Anda tidak menemukan jet yang dapat menjelajah planet dan tidak menggunakannya. Anda tidak menemukan gas dan anda tidak menemukan sinar yang mematikan dan anda tidak menemukan bom hidrogen dan tidak menggunakannya. Ramalan telah dibuat bahwa di dalam bom atom itu, jika reaksi fusi ditemukan, maka pertama kali hal itu digunakan dalam bom atom. Dan hal itu digenapi dengan tepat. Hal-hal ini sepertinya akan terjadi begitu saja, tetapi bagi nabi Allah, hal ini adalah pencurahan dari hukuman dan murka Allah. Dan ketika hari itu tiba ketika hujan bom turun di atas kota-kota Amerika, orang-orang dunia akan berkata bahwa itu terjadi begitu saja. Tetapi nabi Allah berkata bahwa itu adalah pencurahan dari hukuman dan murka Allah atas dunia.   
Sekarang itulah yang terjadi di sana. Mereka berada di dalam Masa Kesusahan Besar. Mereka berada di dalam bencana yang mengerikan dari pencurahan hukuman dan murka Allah yang terakhir itu. Dan nabi-nabi kudus Allah ini akan berkata bahwa apa yang sedang terjadi itu, pertumpahan darah dan pembunuhan itu, adalah karena hukuman yang sedang dijatuhkan atas mereka, hukuman Allah yang dijatuhkan karena kemabukan mereka dan kebobrokan mereka dan kejahatan mereka dan keduniawian mereka dan materi mereka yang murahan. Atas kemunduran hidup mereka, ini adalah hukuman dari Allah Yang Mahatinggi. Dan mereka tidak suka mendengar hal itu. Dan kuasa Allah yang menahan, seperti yang kita rasakan sekarang ini akan diambil dari bumi dan mereka yang menyampaikan seruan itu akan dibunuh dan dibantai tanpa belas kasihan. Mereka adalah para martir yang berseru kepada Allah. 
Sebelum saya meninggalkan hal itu, bolehkah saya membuat sebuah penilaian bagi anda? Di mana saja ada seorang nabi Allah yang benar di dalam Alkitab ini, dia akan berkhotbah dalam cara itu. Di mana saja seorang nabi yang benar muncul, itulah yang akan dia sampaikan. Orang-orang modern ini disebut sebagai pelayan Allah, mereka berdiri di atas mimbar mereka yang mewah dan menyampaikan hal-hal yang manis. Dan di dalam seminari teologi, mereka diajarkan untuk tidak pernah menyebutkan hal yang negative. Mengabaikan hal itu dan menganggapnya tidak nyata. Tidak ada sebuah neraka dan tidak ada iblis. Saya tidak tahu dimana anda akan menemukannya, saya tidak tahu bahwa ada teolog modern pada hari ini yang percaya tentang neraka dan yang percaya tentang hukuman Allah dan yang percaya akan pribadi iblis. Di masa lalu mereka ungkin memiliki sebuah neraka; pada masa lampau mereka mungkin telah menggambarkan murka dan hukuman Allah, di mana lalu mereka mungkin berbicara tentang iblis; tetapi di zaman kita yang modern ini, kita tidak akan melakukan hal-hal yang seperti itu. Jadi kita berdiri dan berbicara tentang kasih Yesus dan kita berbicara tentang kedamaian dan kita berbicara tentang hal-hal yang indah dan kecantikan. Tetapi hal-hal lainnya sama nyatanya dengan hal itu. Dan Kitab yang sama memberitahukan kita tentang kebaikan, memberitahukan kita tentang keburukan. Dan wahyu yang sama berbicara tentang sorga, dan wahyu yang sama berbicara tentang neraka. Dan Alkitab yang mempersembahkan kepada kita Tuhan Yesus, adalah Alkitab yang sama yang menyajikan kita tentang iblis dan penghulu malaikat dan musuh dan penghukuman kita serta kehancuran kita. Dan kedua hal itu bekerja bersama-sama. Jika tidak butuh diselamatkan dari sesuatu, kita tidak akan membutuhkan seorang Juruselamat. Dan jika kita dapat berubah menjadi malaikat, maka hanya membutuhkan sebuah waktu dan mungkin suatu saat kita menjadi penghulu malaikat. 
Tidak, penilaian yang mulai saya buat adalah hal ini; di mana saja di dalam Alkitab ini anda menemukan seorang nabi Allah yang berdiri, hal itu akan menjadi pesannya—bahwa jika anda tidak bertobat dan jika anda tidak benar di hadapan Allah dan jika anda tidak berpaling, maka murka dan hukuman Allah akan datang ke atas kita. Dan tidak ada pengecualian terhadap hal itu. Sebagai contoh, Ketika Samuel, masih kecil, dia berdiri sebagai seorang anak untuk menyampaikan pesan Allah, itu adalah sebuah pesan tentang hukuman yang akan menimpa keluarga Eli karena dosa-dosa anaknya, Hofni dan Pinehas, yang tidak ditegur oleh Dia. Itu adalah pesan Samuel yang pertama. Ketika Yesaya datang dan menyampaikan pesannya, itu terjadi karena dosa-dosaYehuda, bahwa mereka akan ditawan ke Babel dan Bait Allah  akan dihancurkan dan Yerusalem akan dihancurkan dan bangsa itu akan dihancurkan. Dan ketika Yeremia datang untuk berkhotbah, mereka membelenggu dia dan memenjarakannya dan menaruhnya ke dalam lobang sumur karena dia memprediksikan kehancuran dari pasukan Israel dan kehancuran Bait Allah serta kehancuran bangsa itu. Dan mereka tidak suka mendengarkan hal-hal itu. Kita suka mendengarkan hal-hal yang indah dan hal-hal yang memberikan dorongan serta hal-hal yang baik. Mari kita berpikir positif. Mari kita jangan berbicara tentang hal-hal lain. Akan tetapi hal-hal ini, hal-hal tentang hukuman dan murka ini disampaikan oleh Allah.
Anda tentu pernah mendengar perkataan para pendidik modern yang berkata, “Mari kita mendidik anak-anak kita dengan sisi yang positif dan jangan pernah dengan sisi negatif.” Apakah anda pernah memperhatikan hal itu? Apakah seluruh Sepuluh Hukum berkata, “haruslah engkau”? Tidak, Sepuluh Hukum berkata, “Janganlah.” Dan ketika kita merasa lebih pintar dari Allah, kami kita akan meninggikan sebuah keluarga, sebuah generasi dari anak-anak yang berada di jalan yang menuju penghukuman. Dan anda tidak dapat melarikan diri dari hal itu. Allah telah meletakkan dunia ini secara bersama-sama. Dan seluruh firman Allah berkata, “janganlah kamu.” Dan kemudian kita tidak mengajar anak-anak kita dengan perkataan, “Janganlah kamu.” Dan hal itu telah memberikan mereka corak yang lebih tinggi. Hal itu akan tercampur dalam kepribadian mereka. Hal-hal positif saja yang diajarkan kepada mereka. Tetapi Allah berkata, “Janganlah kamu.” Dan ketika anak-anak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya mereka lakukan, Allah berkata angkatlah mereka dan berikan kepadanya sebuah jalan yang mendorong mereka, yang akan dapat membantu mereka. Pukullah punggung mereka,  dengan sedikit lembut. Itulah yang disampaikan Allah. Kita mengajar anak-anak kita berdasarkan Alkitab dan bukan dengan pengajaran modern yang mengirim mereka ke dalam kehancuran—jika anda mendidik mereka berdasarkan Kitab Allah, maka anda akan memiliki sebuah generasi yang baru dan sebuah keluarga yang baru. Itulah sebabnya mengapa dunia melihat perlawanan dan pemberontakan anak-anak melampaui hal yang pernah dilihat oleh dunia sebelumnya dan hal itu berasal dari sebuah pendekatan modern yang seperti itu.
Saya berkata bahwa nabi-nabi Allah yang sejati akan melakukan cara yang sama, mereka semuanya sama. Ketika Yunus memasuki kota Niniwe, dia mengangkat suaranya dan berkata, “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan” (Yunus 3:4). Itu adalah nubutan dari hukuman Allah Yang Mahatinggi. Dan ketika Yesus memberikian pelajaran tentang akhir zaman, inilah yang Dia sampaikan. Dia berkata bahwa masa itu akan datang, bahwa jika bukan karena kemurahan Allah, maka orang-orang pilihan juga disesatkan dan terhilang. Perang dan kabar tentang perang, banjir dan gempa bumi dan bintang-bintang-bintang akan berjatuhan dari langit. Dan ketika Paulus menulis di dalam 2 Timotius, suratnya yang terakhir, dia berkata, “Pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.” Dan ketika dia berbicara dengan para penatua di Efesus, dia berkata, “Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas  akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu, menghancurkan umat Allah” (Kisah Rasul 20:29). Mereka semuanya sama. ketika manusia Allah yang sejati berdiri untuk berkhotbah, jika dia adalah manusia Allah yang sejati, dia akan memberi peringatan, dia akan memberi ancaman, dia akan memberitahukan tentang penghukuman Allah Yang Mahatinggi. Suatu hari, kita akan berdiri di hadapanNya.
Sekarang kita akan menyimpulkan khotbah ini, yaitu tentang seruan mereka kepada Allah. Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?" (Wahyu 6:10). Itu adalah hal yang sama yang ditanyakan oleh Yohanes Pembaptis dalam Injil Pertama, ketika dia berkata kepada Yesus: “Aku dapat melihat Tuhan, pelayanan tentang kebaikan dan penyembuhan dan pertolongan, tetapi dimanakah Mesias yang mengayunkan kapak ke akar pohon, dimanakah Mesias yang membawa api dan penghukuman atas dunia? Dimanakah Dia? Apakah kami harus menantikan yang lain? Apakah ada Mesias yang lain?” Tentu saja dia tidak mengerti bahwa kedatangan Tuhan yang pertama adalah sebagai korban untuk dosa-dosa kita di atas kayu salib. Waktu berikutnya Di akan datang dalam penghukuman terhadap orang-orang yang menolak anugerahNya dan yang menghujat namaNya dan yang berpaling dalam seruan kemurahanNya. “Tuhan, kapankah hari itu akan terjadi? Kapankah terjadi hari penghukuman dan kesudahan zaman itu? Kapan? Berapa lama? Berapa lama lagi?”
Sekarang, lihatlah ke dalam jawaban Tuhan. Dia berkenan untuk mendengarkan anak-anakNya. Dia mendengarkan kita di dalam hidup ini. Dia mendengarkan kita di dalam hidup yang akan datang. Yang pertama dari semuanya, Dia memberikan mereka ekasto—setiap orang. Bukankah hal itu sangat mengagumkan? Allah tidak memperlakukan kita sebagai sebuah gumpalan, sebagai sebuah kumpulan, sebagai sebuah lautan yang penuh. Setiap orang yang ada di sana diberikan sehelai jubah putih. Dan saya tidak dapat membayangkan bahwa sebuah roh dapat mengenakan sebuah jubah putih. Saya pikir itu adalah sebuah perhatian.  Itu adalah sebuah ikrar bahwa kebangkitan akan datang segera. Di sana, kepada mereka telah diberikan sebuah janji bahwa mereka akan sgera mengenakan jubah indah yang akan diberikan Tuhan, manifestasi kebenaran, kemuliaan dari apa yang dapat dilakukan Allah dengan sebuah kehidupan yang dicurahkan kepadaNya. Dan kemudian Tuhan berkata kepada mereka, “Sedikit waktu lagi.” Mereka telah berada dalam peristirahatan mereka. Ketika kita ke sorga, kita bukanlah jiwa yang murung. Mereka beristirahat, tertidur dalam Tuhan—tubuh beristirahat bersama dengan Tuhan di sorga. “Mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka” (Wahyu 6:11). Sekarang, lihatlah hal itu. Mereka adalah orang-orang martir dan mereka telah kehilangan nyawa mereka. Dan anda tahu, seringkali kita memiliki keyakinan seperti itu, ketika kita menghilang, itu adalah akhir dari saksi Kristus. Tidak, Dia selalu memiliki para saksiNya, nabiNya, pengkhotbahNya di dunia ini. Tidak pernah ada sebuah masa ketika Allah tidak memiliki pelayanNya yang benar di dunia ini. Dan dia akan berbicara, dan Dia akan berkhotbah, dan Dia akan memberitakan Firman Allah. Dan ketika orang-orang yang telah menjadi martir ini berada di sorga, Allah berkata, “Di bawah sana, di dunia yang penuh darah, ada kawan-kawan pelayan  dan saudara-saudaramu yang berbicara tentang kebenaran Allah dan membawa kesaksian dari Yang Mahatinggi. Dan mereka akan dibunuh.” Bukankah hal iu sangat aneh?  
Saya dapat katakan, di dalam Kitab Allah, orang-orang adalah para martir, dan daftar mereka ada di sana. Tetapi hal itu tidak hanya berhenti sampai di sana, ketika hal itu terjadi di sana, sejak saat itu Allah memberikan daftar di bawahnya. Dan Allah tidak akan membawa dunia kedalam kesudahan yang paling akhir hingga martirNya yang terakhir telah dibunuh. Betapa merupakan sebuah hal yang tidak biasa. Bahwa Allah memegang semua ini di dalam tanganNya. Darah dan api dan kehebohan dan bencana dan penderitaan serta pengorbanan hidup umat Allah, semuanya berada di bdalam rencanaNya. Saya tidak dapat memahaminya, mengapa? Mengapakah Allah tidak melakukan semuanya ini tanpa penderitaan umatNya? Mengapa harus ada yang menjadi martir? Mengapa darah mereka harus ditumpahkan? Dan mengapa harus ada penderitaan ini? Saya tidak tahu. Ada sebuah misteri tentang kejahatan, yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Allah? Anda dapat mengurutkannya kepada ayah dan ibu anda. Dan kemudian di sana ada kakek, dan di sana ada keturunan yang lain dan akhirnya sampai kepada Adam. Dan mengapakah dosa berasal dari Adam? Hal itu berasal dari Lucifer yang dibuang dari sorga karena dia memberontak melawan Allah.
Dan selanjutnya, pertanyaan diajukan kepada Allah, mengapa Engkau menciptakan Lucifer? Dan mengapa engkau menciptakan sebuah pribadi yang dapat jahat? Dan mengapa engkau menciptakan Adam dan Hawa yang memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan terjatuh? Ada sebuah misteri kejahatan yang tidak dapat kita pahami. Pikiran kita sempit dan terbatas, pikiran kita tidak dapat masuk ke dalam pertanyaan itu. Tidak ada pemecahan terhadap hal itu selama kita masih tinggal di dalam masa hidup kita ini. Kita hanya membacanya. Kita hanya melihatnya. Kita hanya mengetahuinya. Dan di dalam pemeliharaan Allah dan di dalam hidup dan pilihan Yang Mahatinggi, sudah ditetapkan bahwa kita harus menderita. Itu adalah sebuah serat dari kehidupan ini. Dan ketika anda menemukan penilaian itu di dalam hidup anda sendiri, dan anda pergi ke dalam lembah yang dalam dan anda melihatnya; dan anda menangis di samping orang yang menangis dan anda berdiri di hadapan kuburan yang terbuka, dan kalimat terakhir yang datang ke dalam hati anda dan anda menderita di dalam kegelapan malam, itu adalah sebuah bagian dari misteri yang tidak terpecahkan tentang bagaimana Allah sedang memurnikan dunia ini. Itulah sebabnya ada Kitab Wahyu. Allah  menyucikan dunia ini dan Dia membawa kerajaanNya yang benar dan dia membawa  langit yang baru dan bumi yang baru dan umat yang baru di akhir dari kesudahan zaman itu. Dan bagaimana Dia melakukannya? Dia melakukannya di dalam darah dan penderitaan dan di dalam api dan di dalam asap. Dan itulah cara yang Dia tempu. Yang terdapat di dalam Kitab ini. Para martir ini yang berada di sana. Dan Allah berkata bahwa ada yang lain. Dan ketika yang terakhir telah menyerahkan nyawanya, maka saat itu digenapi, kesudahan yang besar akan datang.
Sekarang, saya memiliki sebuah komentar yang singkat, dan dengarkanlah sesaat ketika saya menyampaikannya. Bukankah hal itu sangat mengesankan, bukankah hal itu sangat mengejutkan? Bagaimanakah dengan jiwa-jiwa yang telah dibunuh ini. Lain kali saya akan berkhotbah dari teks ini, ini akan menjadi sebuah khotbah yang diumumkan dalam program anda pada pagi hari ini: Selang Waktu atau Keadaan Sementara. Ada sebuah masa antara ketika kita meninggal dan ketika kita dibangkitkan dari kematian. Ada sebuah selang waktu. Kemana kita akan pergi ketika kita meninggal? Dan bagaimanakah keadaan kita ketika kita meninggal? Dan bagaimana dengan orang-orang jahat ketika mereka meninggal? Di sana ada sebuah selang waktu, ada sebuah waktu antara. Ada sebuah masa roh ketika masa kita meninggal dan masa ketika Tuhan akan berseru untuk kebangkitan. Dan pada hari kebangkitan, tubuh dan roh akan bergabung sekali lagi. Tidak ada di dalam firman Allah yang menyebutkan bahwa Tuhan bahagia dengan keadaan tanpa kesatuan tubuh. Oh, saya harus berhenti. Allah membenci sebuah keadaan tanpa tubuh sama seperti alam membenci sebuah kehampaan. Allah menciptakan kesatuan ini. Allah menciptakan tubuh ini. Allah menciptakan anda sama seperti Dia membuat roh yang tinggal di dalam diri anda. Dan itu adalah sebuah kekurangan dan pekerjaan yang belum selesai hingga tubuh dan jiwa disatukan dan ditebus. Tubuh dan jiwa, sebuah kepemilikan yang penuh di dalam kemuliaan. Dan itu akan menjadi khotbah yang berikutnya. Keadaan tanpa tubuh, keadaan sementara, Selang Waktu antara hari ketika kita meninggal dan hari ketika kita dibangkitkan. 
Jadi inilah komentar saya. Bukankah ini merupakan sebuah hal yang mengejutkan bahwa sekalipun mereka berada dalam keadaan tanpa tubuh dan di tinggal dalam sorga, atau kita yang berada di dalam daging ini, di dalam dunia yang melelahkan ini, bahwa sekalipun mereka berada di dalam kemuliaan dan sekalipun kita yang berada di dunia ini, kita diajar untuk berdoa, Tuhan, Allah di sorga, datanglah kerajaanMu. Jadilah kehendakMu. Tuhan kapankah Engkau melemparkan iblis? Kapankah tidak akan ada lagi kematian? Kapankah si penyusup, Setan itu dihancurkan? Kapankah kebenaran akan bertahan selamanya? Tuhan, kapankah kerajaan kami yang baru diberikan kepada orang-orang kudusMu? Tuhan, kapankah itu terjadi? Berapa lama lagi? Dan Tuhan membalas, “Sedikit waktu lagi” [eti chronon mikron]—sedikit waktu lagi, hanya sedikit waktu lagi. Ketika kita menunggu, tentu saja, kelihatannya sangat lama. Tetapi sesungguhnya tidak. Hanya sedikit waktu lagi—[eti chronon mikron]—hanya sedikit waktu lagi. Dan kedatanganNya akan segera tiba dan tidak akan berlambat-lambat. Hanya sedikit wakytu lagi, Allah akan berdiam bersama dengan umatNya. Hanya sedikit waktu lagi, dosa dan maut akan dilemparkan. Hanya sedikit waktu lagi, bahkan Hades,  selang waktu yang sementara akan dihancurkan. Hanya sedikit waktu lagi, kita akan melihat Juruselamat kita. Kita akan dibangkitkan dan dimuliakan. Kita akan menemukan tempat kita di hadiratNya. Kita akan tinggal bersama dengan umat Allah di dalam kemuliaan. Hanya sedikit waktu lagi. Itu adalah doa mereka, yang juga merupakan doa kita. Oh Tuhan, datanglah kerajaanMu. Dan bahwa kehendak Allah akan jadi di dalam dunia yang berdosa dan telah dikutuk ini sama seperti kehendak Allah di dalam sorga yang indah. 
Kita harus menutup khotbah ini. Salah satu kebaikan tentang  kemuliaan, jika saya memperoleh perhatian dari seseorang yang mendengarkan saya, sukar bagi saya untuk berhenti. Dan jika anda dapat medengarkan saya selama seribu tahun pertama dan pergi ke planet lain, dan melihat bagaimana hal itu akan terjadi di sana. Tetapi saya ingin anda kembali karena saya belum selesai. Saya ingin anda kembali. Ah betapa dalamnya kekayaan dari anugerah dan kebaikan Allah bagi kita! Sekarang, ketika kita menyanyikan lagu undangan, dalam bait yang pertama dan baris yang pertama, jika ada seseorang dari anda yang ingin menyerahkan hatinya kepada Yesus atau bergabung ke dalam jemaat ini, anda boleh datang. Sebuah keluarga, sebuah pasangan, orang muda dan anak-anak, mari datanglah ke depan, sebagaimana Allah telah menyampaikan firmanNya dan membuka pintu. Lakukanlah sekarang. Datanglah pada pagi hari ini. Ketika kita berdiri dan menyanyikan lagu undangan kita.


Alih bahasa: Wisma Pandia, ThM

Panggung Atau Mezbah



Panggung Atau Mezbah
JKI Hananeel Cinta
Ev. Indriati Tjipto Wenas
Jurnalis : Lidya Anandi 



Di dalam pelayanan kita selalu akan ada dua sisi kecenderungan yang akan muncul, apakah sebagai PANGGUNG, atau sebagai MEZBAH.
Panggung membuat kita menuntut.
Tetapi Mezbah membuat kita rela meletakkan.
Panggung seringkali membuat diri kita menghirup pujian dan menikmati suara tepuk tangan.
Tetapi Mezbah sunyi dari gempita penghargaan.
Panggung mengerjakan sesuatu yang sesaat dan lalu hilang.
Tetapi Mezbah mengerjakan suatu yang kekal.
Panggung adalah suatu kebanggaan.
Tetapi Mezbah adalah suatu ekspresi pengosongan diri dan ketaatan.
Panggung selalu mendorong kita untuk berebut yang paling depan.
Tetapi Mezbah membuat kita bersedia berada di paling bawah untuk diinjak supaya saudara kita bisa naik.
Panggung selalu menyediakan lampu sorot yang sangat terang , menyilaukan kemudian hilang lenyap tak bebekas.
Tetapi Mezbah adalah suatu titik sinar kecil yang kian lama kian terang namun akhirnya menjadi suluh yang sangat cemerlang.
Panggung adalah ekspresi bahwa “aku bisa”, “aku mampu”…
Tetapi Mezbah adalah ekspresi “aku hanya hamba yang dimampukan”…
Panggung seringkali membuat kita merasa aku adalah yang terutama dan terpenting.
Tetapi Mezbah membuat kita tersungkur dengan gemetar dan sadar bahwa kita ini bukan siapa-siapa.
Panggung adalah bau kedagingan yang menyengat dan akan tetap tercium walau terbungkus parfum termahal sekalipun.
Tetapi Mezbah adalah bau harum yang menetes keluar dari kedagingan yang di-iris-iris dan diletakkan dengan air mata.
Panggung adalah rumah bagi para bintang untuk beraksi.
Tetapi Mezbah adalah tempat para hamba untuk mempersembahkan diri…
“Anugerahi kami ya TUHAN, untuk mengerti betapa pentingnya membangun Mezbah dan menyingkirkan Panggung dalam setiap pelayanan kami… Amin.”
Mazmur 43:4 <Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!>

Seringkali hati kita diuji.
Melalui interaksi dengan sesama manusia setiap harinya.
Juga melalui berbagai kejadian yang kita alami hari demi hari.
Ketika kita tidak sejalan dengan pemimpin atau teman kita kita..
Apakah kita memilih untuk memberontak, melawan, bahkan membentuk kubu untuk melawan dia untuk membuktikan bahwa kita lebih benar dari dia?
Ataukah memilih untuk memintakan ampun, mendoakan, dan menopang bila dia sedang lemah atau melakukan kesalahan?

Juga melihat ke dalam diri kita, mengapa kita tidak sejalan, ada apa dengan hatiku? Apakah aku sedang menjadi sombong, penuh kebenaran diri? Bertanya pada Tuhan, apa yang Tuhan sedang ajarkan dalam diriku untuk sebuah penundukkan diri?
Ketika seseorang menabrak kita di depan umum dan memaki kita.
Apakah kita memilih untuk marah terlebih memaki balik dengan hati yang merasa direndahkan?
Ataukah kita memilih untuk tetap manis dan memaklumi, mungkin dia begitu karena hari-harinya sedang buruk.

Ketika keluarga kita bermasalah secara ekonomi.
Apakah kita memilih untuk menjadi letih dengan semua tekanan keuangan, khawatir dan menggerutu?
Ataukah kita memilih untuk mengucap syukur dan percaya, burung di udara Kau pelihara terlebih diriku, Kau Tuhan yang tetap sungguh amat baik apapun keadaanku.
Ketika kita harus melayani ke sebuah kebaktian, ternyata kita ditempatkan sebagai pemungut sampah.
Apakah kita menjadi marah dan merasa direndahkan dan tidak pantas melakukan hal tersebut?
Ataukah bersukacita karena punya kesempatan melayani Tuhan bahkan untuk sebuah bagian kecil sekalipun, asalkan semua diberkati dan bertemu Tuhan.
Daud mencintai dua tiga ekor dombanya di padang yang digembalakannya dalam sukacita sambil memuji Tuhan dengan kecapi. Dia menikmati hubungannya dengan Tuhannya. Bagaimana tanpa seorang pun tau, Tuhan mengajarkan dia mengalahkan beruang dan singa yang hendak memangsa domba-domba kecilnya.
Ketika dia harus berhadapan dengan Goliath, dia tau pasti menang karena dia kenal Tuhannya. Goliath bukanlah raksasa, dia hanyalah orang tak bersunat yang berani melawan barisan dari Tuhan yang hidup. Di fisik Goliath seperti raksasa, tetapi di roh, Daudlah raksasanya. Sudah pasti menang, tidak ada keraguan.
Saul menjadi marah ketika para wanita bernyanyi, Saul mengalahkan beribu-ribu sedangkan Daud mengalahkan berlaksa-laksa. Karena semua tentang dirinya, jabatannya, perkenanan di hadapan manusia.
Panggung selalu mengenai diri kita. Apakah kita dihargai, apakah kita dihormati, apakah kita lebih dari orang lain. Panggung adalah sebuah persaingan dan pengakuan diri. Kitalah pusatnya.
Seperti Kain yang panas hatinya ketika melihat persembahan Habel lebih dikenan Tuhan.
Iri yang timbul dari sebuah persaingan.
Sedangkan mezbah selalu tentang korban. Seperti Habel yang mempersembahkan domba yang disukai Tuhan, yang dipeliharanya bukan untuk dirinya tapi untuk kesukaan Tuhannya. Mezbah bukan tentang diri kita, melainkan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita merespon segala sesuatu.
Dan itu selalu sakit, tidak enak dan melawan semua kedagingan kita.
Untuk mencintai pekerjaan kecil yang terkesan hina, untuk mengampuni orang-orang yang melukai kita, untuk menguatkan hati di saat banyak masalah dan tetap mengucap syukur bahwa Tuhan baik, untuk datang merendahkan diri dan meminta maaf lebih dahulu, untuk tetap diam dan tinggal tenang ketika kita dibenci dan difitnah banyak orang, bahkan untuk sabar di tengah kemacetan. Tidak selalu tentang hal-hal yang wah.
Lihat ke dalam hati kita...
Apakah kita sedang menghidupi panggung, semua tentang diri kita, tentang aku dan egoku?
Atau tentang menghidupi mezbah, sebuah korban untuk menyangkal daging, memikul salib dengan memilih hati Tuhan di hari-hari yang kita jalani? Tuhan adalah kasih.
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu.
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu,mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Bila kita melihat ke dalam hati kita dan mengenalinya, seringkali hati kita begitu jahat..
Bahkan tanpa kita sadari hati penuh muslihat, kita bisa melakukan sesuatu yang kelihatannya baik, bahkan pelayanan, bukan untuk mencintai Tuhan, tetapi untuk membuktikan kita baik, itupun sudah mengerikan, dan kita menipu diri bahkan tidak mengakui kepada diri kita sendiri..
Atau bila kita sedang khawatir, misalnya kita sedang tidak punya pekerjaan, kita pura-pura kuat dan merasa baik-baik saja, tidak punya kejujuran seperti Ayah yang anaknya bisu yang berteriak pada Yesus, "Aku percaya, tolongkah aku yang tidak percaya ini!" Itupun sudah menipu diri kita sendiri..
Semakin kita mengenal hati kita, sesungguhkan kita makin menyadari betapa hinanya diri kita.
Semua hanya anugrahnya. Betapa kita sangat memerlukan Dia.
Memerlukan Firmannya yang adalah air kehidupan yang membersihkan kita.
Jika bukan Dia yang mengubahkan hati kita yang kotor ini, karena tidak ada sesuatu yang baik di dalam kita.
Jika bukan tangan kemurahanNya yang mengubahkan kita, membersihkan, memampukan dan memberikan kekuatan.
Sesungguhnya kita tidak akan pernah sanggup membayar karya keselamatan dengan kekuatan kita sendiri.
Berbahagialah untuk karya keselamatan yang Dia kerjakan di kayu salib dan jangan sia-siakan hal tersebut dengan semena-mena menerimanya.
Kita hanya bisa memilih untuk melekat selamanya hari demi hari dalam pergaulan yang akrab atau mati.
Bila carang tidak melekat pada pokok anggur, pastilah hanya menjadi ranting kering dan tidak ada tempat lain selain dicampakkan ke dalam api.
Itulah yang akan iblis selalu tuntut, menemani dia dalam kebinasaan.
Sesungguhnya pada hari penghakiman tiba, hati kitalah yang akan dihakimi olehNya. Sampai kepada segala sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.
Dua orang bisa melakukan kebaikan memberi makan orang miskin.
Yang satu untuk dipuji dan dilihat baik.
Yang lain karena dia mencintai orang miskin yang dicintai Tuhannya.
Dua orang bisa berzinah.
Yang satu melakukan untuk memuaskan nafsunya dan tidak menyesal.
Hidup adalah hidupku, aku akan memuaskannya sesuka hatiku.
Yang lain menyesal, berbalik, dan bertobat.

Terlebih menguatkan orang-orang yang alami hal yang sama dan menjadi berkat.
Bahkan ketika saya menulis renungan ini, bisa karena saya ingin terlihat lebih benar dan lebih baik dari orang lain, atau karena saya sungguh tulus ingin membagikan berkat Firman.

Roma 2:16 (TB)  Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.