PERJANJIAN ZAITUN 1
PERJANJIAN ZAITUN 1
EV IIN TJIPTO PURNOMO WENAS
YOUTUBE : https://youtu.be/c5F781zNq90?si=KgjiVYBhM8MfCkkL
Berikut adalah draf tulisan khotbah yang disusun berdasarkan pesan firman Tuhan yang disampaikan oleh Ev. Iin Tjipto dalam video tersebut:
PERJANJIAN POHON ZAITUN (BAGIAN 1)
Pengkhotbah: Ev. Iin Tjipto
Pendahuluan: Pagar Supranatural dan Masa Kritis Bangsa
Tuhan sedang menyatakan perkara-perkara besar atas bangsa kita. Di dalam alam roh, terjadi pergerakan pasukan malaikat yang luar biasa yang mulai menyembah dan bergerak di atas Indonesia [00:31].
Ketika umat Tuhan di bumi mulai bersujud dan berdoa sehati—seperti yang terjadi dari ujung Papua hingga wilayah lainnya—selubung yang menghalangi berkat itu terbuka [01:41].
Urapan dan perjanjian yang selama ini tertahan di langit mulai turun membasahi bumi [02:16].
Tuhan menyampaikan bahwa bangsa kita saat ini sedang diperebutkan [02:27].
Kita berada di masa yang paling kritis sekaligus menentukan: bangsa ini bisa bangkit menjadi sangat kuat dan ajaib, atau sebaliknya, menjadi hancur dan miskin [02:53].
Namun, karena ada mezbah doa yang ditegakkan, Tuhan membangun pagar supranatural yang menjaga negeri ini.
Sebagai contoh nyata, ketika terjadi gempa besar 7,7 SR di Filipina yang berpotensi tsunami hingga belasan meter menuju Gorontalo dan Sulawesi Utara, air laut tertahan oleh tembok yang tidak terlihat dan hanya menyentuh daratan setinggi 5–15 cm saja [03:31].
Alam semesta tunduk pada otoritas pagar rohani yang Tuhan bangun.
1. Tangkap Setiap Kesempatan untuk Melayani dan Naik Pangkat
Setiap kali Tuhan memberikan tugas, menyuruh kita menabur, melayani, atau menyalakan mezbah, itu bukan karena surga kekurangan tenaga [05:41].
Bagi surga, sangat mudah untuk mengutus malaikat atau bahkan menurunkan para saksi iman yang sudah berpulang untuk membuat seluruh dunia bertobat [05:52].
Namun, Tuhan memilih melibatkan kita agar kita layak menerima upah, kenaikan pangkat roh, fasilitas, urapan, dan otoritas yang baru [05:04, 10:20].
Semua ada hukum keadilan-Nya; Tuhan tidak bisa memberikan otoritas besar kepada seseorang yang belum dewasa secara rohani atau belum mencapai standarnya [06:03, 08:24]. Oleh karena itu:
Jangan pernah lewatkan kesempatan untuk berbagi, memberi, dan membayar harga sekecil apa pun [10:34].
Layanilah Tuhan dengan kerelaan, bersyukur, mengalah, mencintai, dan mendeklarasikan firman [10:47].
Jangan sampai cawan rohani kita kosong saat waktu pelantikan atau pengangkatan Tuhan datang [11:05].
2. Menghijau di Dalam Rumah Allah
Salah satu esensi penting dari Covenant (Perjanjian) Pohon Zaitun diambil dari kebenaran: “Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah.” [12:51]
Tuhan menjamin bahwa setiap orang yang mengambil bagian dalam kegerakan-Nya akan selalu menghijau di dalam rumah Allah [13:00].
Menghijau artinya:
Tetap muda, bertumbuh, kuat, dan penuh dengan kehidupan rohani maupun jasmani [13:12].
Mengalami pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang supranatural melampaui logika medis [13:45, 15:21].
Kita tidak berjalan berdasarkan kenyataan dunia (seperti krisis, kekurangan, atau vonis tubuh), melainkan berjalan di dalam kebenaran firman Allah yang menyediakan kelimpahan [16:54].
3. Kasih Setia yang Selamanya dan Tuhan yang Bertindak
Perjanjian Pohon Zaitun membawa jaminan kasih setia Allah yang berlaku untuk selamanya, bukan hanya saat keadaan kita sedang baik atau berhasil [17:56].
Bahkan di titik terendah hidup kita sekalipun, kasih setia-Nya tidak pernah berhenti untuk menciptakan gelombang kehidupan agar kita bangkit 1.000 kali lebih kuat [18:07, 20:09].
Di dalam perjanjian ini, Tuhan menegaskan: “Aku bersyukur kepada-Mu untuk selamanya, sebab Engkaulah yang bertindak.” [21:31]
Bukan kekuatan atau kehebatan negosiasi kita yang membuka jalan, melainkan Tuhan sendiri yang berperang di depan kita [21:43, 24:01].
Tugas kita sering kali hanya melangkah dengan iman yang sederhana, dan Tuhan yang akan mengubah hukum, membuka pintu-pintu yang tertutup, serta melakukan bagian yang mustahil (impossible is nothing) [24:24, 30:04].
4. Berjalan dalam Otoritas untuk Mendidik Bumi
Secara nubuatan, orang-orang yang diurapi Tuhan disebut sebagai pohon zaitun yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam [38:07].
Zaitun mengeluarkan minyak murni yang menyalakan pelita bait Allah yang tidak boleh mati [38:20].
Melalui pemurnian hati (dari emosi sampah, iri hati, kemalasan, dan kedagingan), Roh Tuhan menyatu dalam hidup kita sehingga ada api otoritas yang keluar dari mulut kita [38:53, 40:45].
Tuhan memberikan otoritas yang besar kepada gereja-Nya:
Kuasa untuk membuka dan menutup langit [41:53].
Kuasa untuk mendidik provinsi, bumi, generasi, bahkan alam semesta [48:05, 50:48].
Tuhan menegaskan bahwa selama ini kita sudah banyak melakukan deklarasi, namun kurang melakukan pendidikan rohani [46:34].
Jika tanah, jiwa-jiwa, dan generasi tidak didik untuk siap, maka penggenapan deklarasi atau berkat tersebut akan tertunda [46:55].
Melalui pengurapan splendor, setiap perkataan iman yang dilepaskan dengan kedewasaan penuh untuk mendidik bangsa-bangsa akan terjadi sesuai dengan yang kita kehendaki di dalam Tuhan [45:02, 46:09].
Kesimpulan
Perjanjian Pohon Zaitun (Covenant of Olive Tree) adalah sumpah kekal dari generasi ke generasi yang Tuhan upayakan sendiri bagi kita [37:22]. Perjanjian ini memberikan kuasa untuk menghentikan wabah atau tuntutan musuh [52:05].
Mari bangkit, ambil komitmen untuk terus dilatih, bertumbuh dalam kedewasaan iman, menghijau di rumah Allah, dan mulailah mendidik wilayah serta generasi kita agar kemuliaan Tuhan dinyatakan dengan segera [11:47, 51:00].
Amin.
Catatan: Tulisan khotbah di atas merangkum poin-poin penting khotbah Perjanjian Pohon Zaitun Part 1 oleh Ev. Iin Tjipto dengan menyertakan penanda waktu ([HH:MM:SS]) sebagai referensi bagian khotbah di dalam video aslinya (https://youtu.be/c5F781zNq90).




Komentar
Posting Komentar