BELAJAR HARI RAYA YOM KIPPUR

BELAJAR HARI YOM KIPPUR 
MENURUT ALKITAB 


















































Shalom sahabat Joshua Ivan Sudrajat setelah Rosh HASHANAH kita akan memasuki Hari Raya Yom Kippur 


Yom Kippur jatuh pada hari Senin tanggal 21 September 2026 


Yom Kippur, atau “Hari Raya Pendamaian,” adalah hari paling kudus dalam tahun Yahudi, dan memiliki nilai profetik mengenai Kedatangan Mesias yang kedua kali, restorasi nasional Israel, dan penghakiman terakhir atas dunia. Itu juga adalah hari yang menyingkapkan perbuatan Imam Besar Yeshua sebagai Kohen Gadol (Imam Besar) menurut peraturan Malki-Tzedeq. “dan yang setelah disempurnakan, Dia (Yeshua) menjadi inisiator keselamatan kekal bagi semua orang yang menaati Dia, ditunjuk Elohim sebagai Imam Besar ‘menurut peraturan Malki-Tzedeq’” (Ibr 5:10); “dimana Yesus telah masuk [ke dalam ruang maha kudus surgawi] bagi kita sebagai perintis, dengan menjadi Imam Besar selamanya menurut peraturan Malki-Tzedeq” (Ibr 6:20).


Istilah Yom Kippur sebenarnya tertulis dalam bentuk jamak dalam Torah, Yom HaKippurim, mungkin karena proses penyucian itu yang membersihkan dari banyaknya pelanggaran, kefasikan, dan dosa-dosa. Itu juga berkaitan arti dengan dua pendamaian besar yang diberikan oleh YHVH – pertama, bagi mereka dari antara bangsa-bangsa non Yahudi (goyim) yang berpaling kepada Yeshua untuk mendapatkan penyucian dan pengampunan dosa, dan kedua, bagi pemurnian etnis Israel selama Yom Adonai, Hari Besar YHVH pada hari-hari terakhir.


Kippurim dapat dibaca juga Yom Ke-Purim, “hari seperti Purim,” yaitu, hari kelepasan dan keselamatan (seperti dijelaskan dalam Kitab Ester). Sekaligus hari dimana Yeshua mengurbankan diri-Nya sendiri di kayu salib, adalah “Purim” terbesar dari semuanya, karena melalui Dia setiap orang yang percaya kepada-Nya dilepaskan untuk selamanya dari tangan musuh-musuh mereka.


Torah menyatakan bahwa Yom Kippur merupakan satu-satunya kesempatan dimana Imam Besar dapat masuk ke dalam Ruang Maha Kudus dan memanggil Nama YHVH untuk mempersembahkan kurban darah bagi dosa-dosa seluruh umat. Prinsip “jiwa ganti jiwa” ini adalah dasar sistem pengurbanan dan menandai hari besar syafaat yang dilakukan Imam Besar demi Israel. Dalam Alkitab bahasa Inggris, Yom Kippur disebut “The Day of Atonement.” Atonement adalah at-one-ment (penyatuan). Penebusan dosa mengembalikan orang berdosa kepada perkenanan Elohim.


Dalam tradisi Yudaisme, Yom Kippur menandai puncak periode sepuluh hari pertobatan yang dinamai “Hari-hari Ketakjuban,” atau Yamim Nora’im. Menurut orang-orang bijak tradisi Yahudi, pada Rosh Hashanah nasib orang-orang benar, tzaddiqim, dituliskan dalam Kitab Kehidupan, dan nasib orang-orang jahat, resha’im, dituliskan dalam Kitab Kematian. Namun, sebagian besar manusia tidak akan dituliskan dalam kedua kitab itu, tetapi punya waktu sepuluh hari – sampai Yom Kippur – untuk bertobat sebelum mereka memeteraikan nasib mereka. Karena itu muncullah istilah Aseret Yemei Teshuvah – Sepuluh Hari Pertobatan. Kemudian pada Yom Kippur, nama setiap jiwa akan dimeteraikan dalam salah satu dari kedua kitab. Karena alasan ini Yom Kippur adalah benar-benar puncak dari 40 hari “Musim Pertobatan.”


Yudaisme berpandangan manusia diciptakan untuk teshuvah, sehingga Yom Kippur, atau hari “at-one-ment” (penyatuan) dianggap hari paling kudus dalam setahun, dan disebut “Yom ha-qadosh.” Pada kalender Ibrani, Erev Yom Kippur dimulai pada petang hari ke-9 Tishri dan berlanjut 25 jam melewati hari berikutnya hingga petang. Itu adalah hari khidmat ditandai dengan puasa penuh, doa, dan ibadah-ibadah tambahan di sinagoga.


Menurut orang-orang bijak Yahudi, pada hari ke-6 Sivan, tepat tujuh minggu sesudah Eksodus (49 hari), Musa pertama kali naik ke Gunung Sinai untuk menerima Torah (Shavu’ot). Empat puluh hari kemudian, umat itu memberontak, dan pada hari ke-17 Tammuz, loh-loh perjanjian dihancurkan. Musa kemudian bersyafaat bagi Israel selama empat puluh hari lagi hingga dia dipanggil kembali untuk naik ke Gunung Sinai pada 1 Elul dan menerima pewahyuan Nama YHVH (Kel 34:4-8). Sesudah ini, dia diberikan loh-loh kedua dan kembali ke perkemahan pada 10 Tishri, yang belakangan disebut Yom Kippur. Wajah Musa bersinar dengan cahaya dalam ketakjuban akan datangnya Perjanjian Baru, yang dilambangkan dalam ritual-ritual Hari Raya Pendamaian.


Ini menjelaskan mengapa orang Yahudi Ortodoks memulai “Musim Teshuvah” dimulai dengan 1 Elul dan berlanjut hingga 10 Tishri – selama 40 hari ketika Musa ada di atas gunung untuk menerima loh-loh yang kedua. Di sini kita juga menemukan kutipan pertama adanya Kitab Kehidupan, ketika Musa meminta supaya dia dihapuskan dari “gulungan kitab-Mu yang Engkau tulis,” jika Elohim tidak mau mengampuni dosa umat-Nya.


“Dan sekarang, jika Engkau menanggung dosa mereka; dan jika tidak, mohon hapuskanlah aku dari gulungan kitab-Mu yang Engkau tulis.” Dan YHVH berfirman kepada Mosheh, “Siapa yang berdosa kepada-Ku, Aku akan menghapus dia dari gulungan kitab-Ku” (Kel 32:32-33). Kesediaan Musa untuk “dihapuskan dari gulungan kitab” demi bangsa itu adalah gambaran besar Yeshua Mesias kita, yang berperan sebagai perantara. “Dan untuk alasan ini Dia menjadi perantara perjanjian baru, melalui kematian yang telah terjadi untuk penebusan dari pelanggaran-pelanggaran [yang dilakukan] di bawah perjanjian yang pertama, mereka yang telah dipanggil dapat menerima janji warisan yang kekal” (Ibr 9:15).


Arti Kata Kippur

Hari Raya Pendamaian adalah frase bahasa Indonesia untuk Yom Kippur. Shoresh (akar kata) dari kata kippur adalah kaphar, yang artinya adalah “menutupi, menyelubungi, menebus, merekonsiliasi, mendamaikan.” Berhubungan dengan kata “kofer,” yang artinya “tebusan”. Kata ini sejajar dengan “tebusan” atau “harga nyawa” (Mzm 49:7) yang artinya “mendamaikan dengan memberikan pengganti.” Mayoritas penggunaan kata ini dalam Tanakh berhubungan dengan “melakukan penutupan pendamaian” dengan ritual-ritual imamat pemercikan darah kurban untuk menyucikan dosa atau kenajisan. Darah kehidupan binatang kurban dicurahkan sebagai pengganti darah kehidupan orang yang berdosa (ungkapan simbolis jiwa yang tak berdosa diberikan sebagai ganti jiwa orang berdosa).


Simbolisme ini semakin jelas dengan tindakan orang berdosa itu dengan menumpangkan tangannya di atas kepala kurban (semichah) dan mengakui dosa-dosanya di atas kepala binatang itu (Im 1:4; 16:21; 4:4, dsb.) yang kemudian dibunuh atau dilepaskan sebagai “kambing hitam” pembawa dosa. Akar kata “kippur” juga muncul dalam istilah “kapporet”, “Tutup Pendamaian,” namun lebih tepat disebut tempat pendamaian. Kapporet adalah penutup emas peti kudus (peti perjanjian) di dalam Ruang Maha Kudus Tabernakel (atau Bait Suci), di situ darah kurban dipersembahkan.



Pesan dari kitab pusat Torah (Imamat) adalah: Karena Elohim itu kudus, kita juga harus kudus di dalam keseluruhan hidup kita. Dan ini artinya pertama-tama menyadari perbedaan antara kudus dan cemar, tahir dan najis. “…untuk membuat pemisahan antara kudus (ha-qadosh) dan antara cemar (ha-chol), dan antara najis (ha-tame) dan antara tahir (ha-tahor)” (Im 10:10).


“Dan umat-Ku akan mereka ajarkan antara kudus dan cemar, dan mereka akan membuat mereka mengenal antara najis dan tahir” (Yeh 44:23)


Sama seperti Elohim membuat pemisahan antara terang dan antara kegelapan (Kej 1:4), demikian kita dipanggil untuk membedakan antara dimensi kudus dan cemar, suci dan kotor, tahir dan najis. Bahkan, “Elohim memanggil kepada terang itu siang, dan kegelapan itu malam,” dan dengan itu menghubungkan Nama-Nya dengan terang dan bukan dengan kegelapan (Kej 1:5). Dipahami secara spiritual, mishkan (tabernakel) secara fisik mewakili pemisahan dimensi-dimensi ini.


Kata “kurban” (qorban) berasal dari akar kata “qarov,” yang artinya “mendekat” atau “datang mendekat.” Di dalam tabernakel, qorbanot adalah berbagai tindakan ritual yang dipersembahkan di atas mezbah untuk menyucikan pendosa yang najis itu supaya dia dapat datang mendekat [qarov] kepada Elohim yang Kudus. Karena itu, Elohim menetapkan kurban darah sebagai sarana penyuci untuk menyucikan dari dampak-dampak pencemaran dan dosa (Im 17:11; Ibr 9:22). Kita dapat melihat proses penahiran dengan memahami kasus metzora (atau kusta) seperti digambarkan dalam Imamat 14 dalam suatu ritual yang menyerupai ritual Yom Kippur yang dilaksanakan Imam Besar.


Bersambung 


Sumber : https://harituhan.wordpress.com/2016/10/12/hari-raya-yhwh-yom-kippur-hari-raya-pendamaian/

Komentar

Postingan Populer