THE BEST VERSION OF ABRAHAM
THE BEST VERSION OF ABRAHAM
.
Sahabat Joshua Ivan Sudrajat hari ini kita belajar THE BEST VERSION OF ABRAHAM
Menjadi "versi terbaik dari diri sendiri" adalah frasa populer di era modern. Namun, jika kita melihat kisah Abraham dalam Alkitab, versi terbaik dirinya bukanlah tentang kesuksesan finansial atau pencapaian pribadi semata, melainkan tentang ketaatan radical, iman yang teruji, dan keintiman dengan Tuhan.
Abraham tidak memulainya dengan sempurna. Ia pernah berbohong tentang istrinya (Kejadian 12 & 20) dan sempat meragukan janji Tuhan dengan memiliki anak dari Hagar (Kejadian 16). Namun, proses Tuhan membentuknya menjadi The Best Version of Abraham.
Berikut adalah pilar-pilar penting yang membentuk versi terbaik dari Abraham berdasarkan Alkitab:
1. Meninggalkan Zona Nyaman demi Panggilan Tuhan
Versi terbaik Abraham dimulai ketika ia berani melangkah keluar dari kenyamanan rumahnya di Ur-Kasdim menuju tempat yang belum ia ketahui, murni karena percaya pada firman Tuhan.
"Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: 'Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau...'"
— Kejadian 12:1-2
2. Hidup Berdasarkan Iman, Bukan Penglihatan
Meskipun secara logika manusia ia dan Sara sudah terlalu tua untuk memiliki anak, Abraham memilih untuk mempercayai janji Allah. Versi terbaik kita muncul saat kita berhenti mengandalkan kekuatan sendiri dan mulai bersandar pada kedaulatan Tuhan.
"Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."
— Kejadian 15:6
Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus mempertegas kualitas iman Abraham ini:
"Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah."
— Roma 4:19-20
3. Ketaatan Total (Ujian Tertinggi di Gunung Moria)
The absolute best version of Abraham terlihat di Kejadian 22. Ketika Tuhan memintanya untuk mempersembahkan Ishak—anak perjanjian yang paling ia kasihi—Abraham tidak menunda-nunda atau berdebat. Ketaatannya mutlak karena ia tahu Tuhan yang memberi adalah Tuhan yang setia.
"Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku."
— Kejadian 22:12
4. Menjadi Sahabat Allah
Puncak pencapaian hidup Abraham bukanlah kekayaannya yang melimpah, melainkan status hubungannya dengan Sang Pencipta. Ia disebut sebagai sahabat Allah—sebuah gelar yang menunjukkan keintiman dan kepercayaan yang mendalam.
"Dengan jalan demikian genaplah nas kitab yang mengatakan: 'Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.' Karena itu Abraham disebut: 'Sahabat Allah.'"
— Yakobus 2:23
Kesimpulan untuk Kita
The Best Version of Abraham tidak lahir dalam semalam. Itu adalah hasil dari perjalanan panjang yang penuh dengan kegagalan, pertobatan, pembentukan karakter, dan ketaatan yang konsisten.
Bagi kita hari ini, menjadi versi terbaik dari diri kita bukan tentang meniru kekayaan atau budaya zaman Abraham, melainkan meniru respons hatinya terhadap Tuhan. Ketika kita berani melangkah dalam iman, taat bahkan saat tidak memahami jalannya, dan menjaga keintiman dengan Tuhan, saat itulah kita sedang berjalan menuju versi terbaik diri kita di dalam Kristus.



Komentar
Posting Komentar