Minggu, 03 Februari 2013

Jemaat Laodikia Yang Merosot

Jemaat Laodikia Yang Merosot

Kitab Wahyu pasal 3:

ayat 14-16 - "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.
Laodikia artinya pendapat atau keputusan rakyat jelata (atau kaum beriman awam), merupakan gereja pemulihan (Filadelfia) yang merosot lagi.Tidak sampai 100 tahun setelah Tuhan memulihkan, sebagian "perhimpunan" (istilah yang dipakai oleh Kaum Saudara - FIladelfia) telah merosot. Namun kasusnya berbeda dengan Jemaat Sardis dan Jemaat Filadelfia.

Kata "Amin" dalam bahasa Ibrani berarti teguh, kukuh dan bisa diandalkan. Jadi dalam kasus ini, Laodikia merosot karena tidak teguh, tidak kukuh dan kurang bisa diandalkan, serta tidak setia dan tidak benar sebagai saksi Allah. Tuhan yang adalah Sumber dari segala sumber telah ditinggalkan.
Sebagai kaum beriman, Jemaat Laodikia pernah mengalami kenikmatan yang sedemikian rupa di dalam Tuhan, namun karena merasa nyaman, merasa layak dan merasa lebih daripada golongan lainnya, mereka mulai kehilangan api. Fisik dan pikirannya masih mengikuti Tuhan, namun hati mereka jauh dari Tuhan.  Ungkapan "dimuntahkan" artinya sudah sempat masuk dan diterima oleh Tuhan, namun kembali diusir dan ditolak.

Dalam sejarah kaum panggilan atau bangsa pilihan, Jemaat Laodikia seumpama kisah dan masa pemerintahan Salomo, yang berujung pada kegagalan dan kemerosotan roh.
ayat 17 - Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,
Gereja pemulihan yang mersot memegahkan kekayaannya (terutama pengetahuan atas doktrin), tetapi tidak mengetahui bahwa dirinya miskin atas hayat kehidupan sejati, buta atas daya lihat rohani dan telanjang atas perbuatan. Itu sebabnya mereka perlu membeli emas untuk menjadi kaya, pakaian putih untuk ketelanjangannya dan minyak atau salep mata untuk kebutaannya.

Mereka disebut melarat karena bermegah dalam doktrin "pepesan" kosong yang tidak ada Roh-Nya di dalam pengajaran tersebut. Ada kemungkinan bahwa Laodikia ini sangat kaya secara fisik, punya banyak harta duniawi dan memiliki berbagai-bagai pengetahuan mengenai gereja dan sekuler, namun tidak memiliki dan dimiliki oleh Roh Allah.
ayat 18 - maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.
Kemerosotan kaum Laodikia harus dibayar supaya memiliki iman yang murni dan tahan uji seperti emas. Sebab selama ini mereka sangat mengandalkan semua kekayaan dan kekuatan duniawi yang ada. Tanpa iman yang benar, tidak ada seorangpun yang layak di hadapan-Nya.

Pakaian melambangkan perbuatan. Kemerosotan mereka juga harus dibayar dengan perbuatan yang tepat sesuai dengan kehendak-Nya supaya perkenan Tuhan turun atas mereka. Jika Tuhan tidak berkenan, maka Ia akan memuntahkan mereka.

Minyak untuk mata tentu mengacu kepada fiman di 1 Yohanes 2:27 - "Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia." Minyak pengurapan ini hanya tersedia jika kita terus tinggal di dalam Dia.
ayat 19-20 - Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
Pengetahuan yang sia-sia dan tata cara doktrin yang mati membeuat mereka merosot lagi menjadi suam-suam kuku. Diperlukan pertobatan yang sungguh untuk kembali bergairah dan memiliki api yang menyala agar dapat menikmati kembali realitas Kristus.

Pintu di sini bukan pintu hati perorangan, melainkan pintu Gereja. Mereka memiliki segalanya namun di luar penyertaan Tuhan. Namun pendekatan obyektif dari Tuhan kepada pintu Gereja harus diresponi secara subyektif, artinya keselamatan, pemulihan dan kenikmatan di dalam Kristus serta pahala dari-Nya bersifat individu, pribadi lepas pribadi.

Makan bersama-sama mengacu kepada menerima makanan utama pada malam hari. Agama dan doktrin hanyalah untuk pemahaman sampai level jiwa, sedangkan makanan rohani yang sesungguhnya adalah Firman Yang Hidup yang mampu mensuplai hayat, roh dan kehidupan kaum percaya. Jadi makan bersama-sama memiliki arti melakukan segala yang diperintahkan Tuhan dengan penyertaan dan anugerah-Nya, karena tidak ada yang mampu mengerjakan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya jika hanya mengandalkan kekuatan manusiawi kita yang tidak seberapa itu.
ayat 21-22 - Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."
Menang tentu mengacu kepada mengatasi kesuaman yang ada dan kembali bergairah dalam dan bagi Kristus. Pahala kemenangan ini adalah berbagian dalam kekuasaan Tuhan dan memerintah bersama dengan-Nya pada Masa Kerajaan Seribu Tahun untuk mengatur seluruh bumi.

Firman ini bukan sekedar diperuntukan kepada Gereja menurut urutan sejarah pada aspek nubuatan, namun juga diperuntukan kepada Gereja menurut destiny / takdir pada aspek panggilan masing-masing. Empat jemaat yang pertama akhirnya bermuara pada jemaat Tiatira hingga sekarang. Namun jemaat Sardis, Filadelfia dan Laodikia masing-masing eksis bersama dengan jemaat Tiatira hingga kedatangan Tuhan kembali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar