EVALUATION

*EVALUATION*
GBI SHEKINAH
Minggu, 3 Desember 2017
Ev. Joseph Suhardjo

Kita Sudah Memasuki di Akhir Tahun, Sudah Sampai Disini Tuhan Menolong kita, *EBEN HEAZER*

Mari Kita Evaluasi Hidup kita. Kita Periksa Hati Kita. Kita belajar dari Tokoh Alkitab, kita belajar mengenai kelemahan mereka. Mereka mempunyai pikiran positif.

*=ABRAHAM=*

Kejadian 17:5 (TB)  Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.

Tuhan merubah nama Abram menjadi Abraham, Tuhan menjanjikan ia menjadi Bapa banyak Bangsa.
Abraham merupakan tokoh dalam Alkitab yang mempunyai peran yang sangat penting. Banyak kisah-kisah yang terjadi dalam hidupnya yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua umatNya. Melalui keturunan Abraham, lahirlah tokoh-tokoh Alkitab yang sangat luar biasa. Dan melalui keturunannya juga-lah Tuhan Yesus dilahirkan di dunia ini.
*courtesy of PelitaHidup.com
Dalam perjalanan hidup Abraham, banyak pilihan-pilihan yang dia lakukan untuk dapat mencapai apa yang telah Tuhan janjikan kepada dirinya. Tentunya Abraham juga tidak luput dari kesalahan, karena dia juga manusia. Tetapi Abraham juga belajar dari kesalahan-kesalahan yang ada untuk dapat mengambil pilihan yang lebih baik lagi yang tentunya sesuai dengan kehendak Tuhan.

Mari kita lihat beberapa kisah yang dapat kita pelajari, untuk diterapkan dalam menentukan pilihan dalam hidup kita:

*1. Memilih Untuk Mengalah*

“Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah.” Kejadian 13:11

Kisah ini dimulai dari para gembala dari Abram (belum ganti nama menjadi Abraham) dan Lot yang berkelahi memperebutkan tanah untuk menggembalakan ternak mereka (Kejadian 13:1-18). Untuk menghindari perkelahian, Abram mempersilahkan Lot untuk memilih bagian tanah yang dianggap baik menurutnya. Lot memilih lembah Yordan yang terlihat sangat baik. Abram-pun mengalah dan menetap di tanah bagian lainnya yaitu di Kanaan.


Kita semua tahu bahwa pada akhirnya tempat yang dipilih oleh Lot dimusnahkan oleh Tuhan, yaitu di Sodom dan Gomora.

Secara kasat mata mungkin Abram hanya mendapat tanah sisa dan terlihat tidak sebaik lembah Yordan yang banyak airnya. Tetapi Abram rela untuk mengalah dan menjauhi pertengkaran yang ada.
Dan kita melihat bahwa justru Tuhan memberikan yang terbaik bagi Abram.


“Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan,
sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.” Kejadian 13:14-15
*courtesy of PelitaHidup.com
Ada saat-saat tertentu dimana Tuhan menuntut kita untuk mengalah dan menyerahkan segalanya kepada Dia. Di saat kita memilih untuk mengalah, maka kita akan belajar dan melihat bagaimana Tuhan bekerja dengan luar biasa dalam kehidupan kita. Kita akan melihat pembelaan Tuhan bagi hidup kita.


*2. Memilih Untuk Percaya*

“Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.” Kejadian 17:19

Umur Abraham saat itu sudah sembilan puluh sembilan tahun dan Sara berumur sembilan puluh tahun. Suatu hal yang mustahil bagi manusia untuk dapat memiliki anak pada umur itu. Hukum alam menyatakan bahwa manusia mempunyai batas umur jika ingin mempunyai atau melahirkan seorang anak.

Tapi Tuhan berfirman bahwa justru Abraham akan mempunyai keturunan melalui Sara. Dan melalui anaknya itulah Tuhan mengadakan perjanjian yang kekal baginya dan keturunannya.

Memang kisah ini tidak masuk di akal pikiran manusia. Tetapi Abraham memilih untuk mempercayai Tuhan yang dia sembah. Dia meyakini apa yang dijanjikan oleh Tuhan. Itulah sebabnya dia dijuluki sebagai bapa orang beriman. Oleh karena dia percaya kepada hal yang belum dilihat dan belum diterima.

“TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya.
Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya.” Kejadian 21:1-2

Janji Tuhan adalah ya dan amin. Jika Tuhan sudah berjanji, maka Dia akan menepatinya. Selama kita berpegang teguh kepada janji tersebut dan percaya kepadaNya, maka kita akan menerima janjiNya seperti yang telah dialami oleh Abraham.
*courtesy of PelitaHidup.com
Apa yang kelihatan mustahil saat ini di mata manusia, menjadi mungkin di mata Tuhan. Tidak ada hal yang mustahil bagi Tuhan, dan tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya kepadaNya.

“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Lukas 1:37

“Jawab Yesus: ‘Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!’ ” Markus 9:23

.

*3. Memilih Untuk Taat*

“Firman-Nya: ‘Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.’ ” Kejadian 22:2

Setelah melalui ujian iman di poin nomor dua di atas, Abraham masih diuji oleh Tuhan. Anak satu-satunya yang merupakan anak perjanjian melalui mujizat yang luar biasa, harus dipersembahkan (dikorbankan) kepada Tuhan. Dengan kata lain, Abraham harus membunuh anaknya untuk dijadikan korban.

Sebagai orang tua yang memiliki pengharapan yang besar kepada anak satu-satunya itu, agar dapat meneruskan keturunannya sehingga dapat menjadi banyak seperti yang dijanjikan oleh Tuhan, tentu Abraham merasa terpukul mendengar perintah Tuhan tersebut.

Bagi kita yang sudah menjadi orang tua pasti mengerti dengan jelas apa yang dialami oleh Abraham saat itu. Sungguh suatu hal yang tidak mungkin jika kita melakukan hal tersebut terhadap anak sendiri.

Tetapi Abraham tidak mengeluh atau bahkan membantah perintah Tuhan. Dengan langkah mantap dia menyiapkan semuanya dan melakukan persis seperti yang diperintahkan oleh Tuhan.
*courtesy of PelitaHidup.com
Abraham memilih untuk taat dibandingkan mengeluh atau bersungut-sungut.

Dan melalui ketaatannya tersebut, sekali lagi kita melihat kuasa Tuhan bekerja. Tepat di saat Abraham akan menikamkan pisaunya untuk menyembelih anaknya, malaikat Tuhan berseru untuk menghentikan Abraham. Di saat itulah Tuhan menyatakan bahwa Abraham sungguh-sungguh takut akan Tuhan dan rela menyerahkan sesuatu yang berharga untuk melakukan perintahNya.

Dan Tuhan-pun menyediakan seekor domba bagi Abraham untuk dipersembahkan sebagai korban.

“Dan Abraham menamai tempat itu: ‘TUHAN menyediakan’; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: ‘Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.’ ” Kejadian 22:14

Apa yang menjadi perintah Tuhan dalam hidup kita? Mari kita belajar untuk taat kepadaNya, sekalipun kita harus mengorbankan sesuatu yang berharga dalam hidup kita.

Dengan memilih untuk taat kepada Tuhan, maka kita akan melihat pintu-pintu berkat yang akan Tuhan bukakan bagi kehidupan kita.

“Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri–demikianlah firman TUHAN–:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,
maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.” Kejadian 22:16-17


Setiap hari kita pasti dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang harus kita lakukan. Kita dapat belajar dari tiga kisah hidup Abraham di atas, untuk dapat menentukan pilihan apa yang harus kita ambil.

Jangan berdalih bahwa kita tidak punya pilihan lain selain mengikuti atau menjalani hal-hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Selalu ada pilihan bagi kita! Pilihlah jalan terang yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Pilihlah jalan kehidupan yang akan memberikan rasa damai sejahtera bagi hidup kita.

Jangan takut dikucilkan oleh dunia ini jika ingin menerapkan pilihan-pilihan tersebut. Jangan takut pada resiko yang akan terjadi jika kita menjalani pilihan yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan akan membela setiap keputusan yang kita ambil, jika kita benar-benar mengandalkan kekuatan Tuhan dan berjalan dalam kebenaran FirmanNya.

Dan Tuhan jugalah yang akan memberikan sukacita dan kemenangan dalam setiap keputusan yang kita jalani. Damai sejahtera Allah akan menyertai setiap langkah hidup kita. Haleluya!

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;
apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;
tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.

Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya;

sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, tetapi anak cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan.” Mazmur 37:23-28

Iman Abraham diuji sekurang-kurangnya dua belas kali secara khusus.

Beberapa di antaranya bukanlah apa yang mungkin kita sebut ujian-ujian yang sulit, namun semuanya telah membangun sebuah gambaran tentang Abraham selaku seorang pribadi yang beriman tulus.

Sesudah ujian terakhir, Tuhan berkata, “Sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku” (Kejadian 22:12).


Setiap ujian Abraham bisa kita terapkan:

(1) Kejadian 12:1-7

Ujian: Abraham meninggalkan Ur dan Haran sesuai petunjuk Allah menuju tempat yang belum diketahui.
Penerapan: Apakah saya mempercayakan masa depan saya ke tangan Allah? Apakah dalam mengambil keputusan saya mengikuti kehendak Allah?


(2) Kejadian 13:8-13

Ujian: Abraham mengusulkan berpisah dengan Lot secara damai dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre.
Penerapan: Apakah saya mempercayakan kepentingan-kepentingan saya kepada Allah bahkan ketika tampaknya saya menerima suatu penyelesaian yang tidak adil?

(3) Kejadian 14:13-18

Ujian: Abraham menyelamatkan Lot dari lima raja.
Penerapan: Apakah kesetiaan saya kepada orang-orang lain menjadi kesaksian tentang kepercayaan saya dalam kesetiaan Allah?

(4) Kejadian 14:17-24

Ujian: Abraham memberikan persepuluhan jarahan kepada raja Salem yang saleh, Melkisedek, dan menolak pemberian raja Sodom.
Penerapan: Apakah saya berhati-hati dalam berurusan dengan orang-orang sehingga saya menghormati Allah selayaknya dan menolak menerima kehormatan yang menjadi milik Allah?

(5) Kejadian 15:1-6

Ujian: Abraham percaya pada janji Allah bahwa ia akan memiliki seorang putera.
Penerapan: Seberapa sering secara sadar saya menegaskan lagi keyakinan saya akan janji-janji Allah?

(6) Kejadian 15:7-11

Ujian: Abraham menerima tanah yang dijanjikan dengan iman, meskipun penggenapannya belum terjadi selama beberapa generasi.
Penerapan: Bagaimana saya tetap mendemonstrasikan kepercayaan saya akan Allah selama waktu-waktu ketika saya diminta menunggu?

(7) Kejadian 17:9-27

Ujian: Sesuai perintah Allah, Abraham menyunatkan setiap laki-laki dalam keluarganya.
Penerapan: Dalam peristiwa-peristiwa apa dalam hidup saya, saya bertindak semata-mata karena taat kepada Allah, dan bukan karena saya mengerti pentingnya apa yang saya lakukan?

(8) Kejadian 18:1-8

Ujian: Abraham menyambut orang-orang asing, yang kemudian menjadi malaikat-malaikat.
Penerapan: Kapan terakhir kalinya saya menyambut tamu dengan baik?

(9) Kejadian 18:22-33

Ujian: Abraham berdoa untuk Sodom.
Penerapan: Apakah saya ingin melihat orang-orang dihukum, atau apakah saya peduli pada orang-orang walaupun mereka berdosa?

(10) Kejadian 20:1-17

Ujian: Abraham mengakui kesalahan dan mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan untuk memperbaikinya.
Penerapan: Ketika saya berdosa, apakah saya cenderung untuk menutupinya atau mengakuinya? Apakah saya mempraktekkan kebenaran bahwa suatu permintaan maaf kadang-kadang harus disertai dengan ganti rugi?

(11) Kejadian 21:22-34

Ujian: Abraham merundingkan suatu perjanjian dengan Abemelekh mengenai sebuah sumur.
Penerapan: Dapatkah orang-orang memegang perkataan saya dan janji-janji saya?
(12) Kejadian 22:1-12

Ujian: Abraham siap untuk mengorbankan puteranya, Ishak.
Penerapan: Dalam cara-cara apa hidup saya mendemostrasikan bahwa saya tidak akan mengutamakan apa pun lebih daripada Allah?

*=MUSA=*

Kita tahu betapa ia sangat dekat dengan Tuhan. Ia punya hati yang sangat lembut. Ia berbicara berhadapan muka dengan Tuhan. Ia bertemu dengan Tuhan di puncak gunung selama 40 hari 40 malam. Ketika kakaknya, Miryam dan Harun ngomongin dia, Tuhan yang marah kepada mereka. Tuhan yang membela Musa.

Bukan main! Betapa Tuhan sangat melindungi Musa. Ketika ada pemberontakan yang dilakukan oleh Korah, Datan dan Abiram, Tuhan membela Musa (Bilangan 16:1-35). Musa juga menjadi pembela bangsanya di hadapan Tuhan. Beberapa kali Tuhan tidak jadi memusnahkan bangsa Israel karena Musa berdiri sebagai pendoa syafaat bagi bangsanya. Sepuluh tulah terjadi di Mesir lewat Musa. Laut Teberau terbelah ketika Musa mengangkat tongkatnya. Rasanya, tidak ada doa Musa yang tidak dijawab Tuhan.

Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel, dalam hal segala tanda dan mujizat, yang dilakukannya atas perintah TUHAN di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel - Ulangan 34:10-12

Ketika Musa meninggal dalam usia 120 tahun, kekuatannya belum hilang dan matanya belum kabur. Ia naik sendirian ke Gunung Nebo, melihat negeri perjanjian itu dan kemudian meninggal. Alkitab mencatat, Tuhan sendiri yang menguburkan Musa.

Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN. Dan dikuburkan-Nyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini - Ulangan 34:5,6

(Selanjutnya Gak Nulis)

Writer Joshua Ivan S


Komentar

Postingan Populer