Kamis, 19 April 2018

MELEPASKAN PENGAMPUNAN


Berikut adalah satu tulisan yang di buat oleh salah satu anak rohani yang memberkati saya. Saya yakin ini juga akan memberkati kita semua...

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berjumpa dengan suatu produk/barang yang kelihatan asli padahal palsu. Karena kita sering dihadapkan dengan barang palsu, maka ketika kita dihadapkan dengan barang yang asli, reaksi kita cenderung untuk menganggap barang yg asli tersebut sama seperti dengan barang yang palsu. Alih-alih menerima kita pun cenderung menolak barang asli tersebut, karena pernah dikecewakan.

Demikian pula keberadaan kita, karena sering bertemu dengan figur seorang pemimpin yang kita harapkan bisa mengayomi, namun kenyataannya malah bertolak belakang dengan yang kita harapkan, atau malahan memanipulasi hidup kita, ketika kita diperhadapkan Tuhan dengan pemimpin yang sejati dan akurat hidupnya, kitapun cenderung menjaga jarak dan was-was, dalam hati kita berpikir: jangan-jangan pemimpin yang satu ini juga sama dengan pemimpin-pemimpin yang dulu pernah saya jumpai. Kalau kita sulit menerima orangnya, pasti kita juga tidak akan menerima perkataannya. Kehidupan kita bergerejapun akan menjadi sangat agamawi. Hanya datang ibadah dan pulang dengan tidak membawa apa-apa. (Mat 13:4)

Saya belajar ini adalah masalah SIKAP HATI. Padahal untuk seseorang melihat Kerajaan Sorga, Bapa di Sorga sudah mendesign suatu pola ilahi, yaitu kita harus mau diayomi oleh seorang pemimpin sebagai “orang yang datang dari tempat tinggi”. (Yoh 3:3) Tanpa belajar membuka hati dan membiarkan diri kita menerima arahan dan belajar terhubung olehnya, kita akan menjalani jenis kehidupan di jalan yang kita “anggap benar sendiri”. Semaunya sendiri. Tanpa sadar kita justru mengijinkan roh dusta mulai menyelinap masuk, mulai memanipulasi, menggerogoti  dan mengacaukan jalan hidup kita sebagai orang benar. Nature ketulusanpun mulai luntur dari hidup kita, dan terbangun roh curiga dan penuh syak wasangka. Padahal tanpa memiliki ketulusan dan kesederhanaan iman (Matius 18:3), kita tidak bisa masuk dalam Kerajaan Sorga. Apalagi menikmati Realita Sorga.

Hal berikut ini, akan menolong kita untuk menanggulangi hal tersebut:

1. Benahi sikap hati yang salah tersebut, dan percaya bahwa Bapa di Sorga tidak pernah merancangkan hal yang buruk kepada kita anak-anakNya. (Mat 7:9).

Bapa di Sorga punya rencana kekal bagi setiap kehidupan kita (Ef 2:10) Dan Bapa menghendaki kita terhubung dengan pemimpin yang akurat (Ibr 13:17) untuk mewujudkan rencana KekalNya.

2. Ampuni pemimpinmu yang lama dan ampunilah dirimu sendiri.
Berdamailah dengan dirimu sendiri. (Mat 18:21-22). Jangan menyimpan kesalahan orang lain, dan mulai beresi hal tersebut. Dengan  mengampuni, kita sedang menyembuhkan luka yang ada. Luka yang tidak pernah disembuhkan, lambat laun akan berkembang menjadi trauma. Dan Trauma pasti akan melahirkan konflik batin. Konflik batin yang tidak ditanggulangi akan menghentikan perjalanan iman kita (Kej 11:31-32)

3. Cara paling mudah untuk mengetahui suatu barang asli atau palsu adalah dengan mengujinya.
Apa yang kita uji? Prinsip yang telah diajarkan oleh pemimpin tersebut. Apakah bersifat ilahi atau justru membuat hidup kita makin kedagingan/manusiawi? Kita tidak akan pernah tahu sampai kita melakukannya, mencoba mempraktekkan prinsip firman yang ada.

Di dalam alkitab ada sebuah kisah dimana Petrus yang sudah semalam-malaman berusaha menangkap ikan, tidak membuahkan hasil apapun.

Lukas 5 : 4
Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."
Petrus dan Yesus tidak saling mengenal sebelumnya, namun Petrus belajar MEMBUKA HATI ketika Yesus menumpang di perahunya, mendengar Yesus mengajar orang banyak (ayat 3),  kemudian ia belajar MERENDAHKAN DIRINYA untuk menerima perintahNya (tidak bersandar pada pengertian maupun pengalamannya sebagai seorang nelayan) dan berkata:

Lukas 5 : 5
Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi KARENA ENGKAU MENYURUHNYA, aku akan menebarkan jala juga."
Ambillah prinsip firman yang disampaikan pemimpin, yang berbicara kuat dalam batinmu, seperti sebuah perintah. Dan lakukan saja. Biarlah sang waktu, sebagai juri yang akan menguji. Saya yakin jika kita lakukan secara akurat sesuai FirmanNYA, maka sesuatu yang ilahi pasti terjadi.

Lukas 5 : 6
Dan SETELAH MEREKA MELAKUKANNYA, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.

4. Belajarlah untuk membuka areal hidup kita yang lain untuk mulai dibenahi dengan cara mengadopsi apa yang pemimpin sampaikan.
Tuhan sudah menjanjikan kehidupan yang berkemenangan. (1 Yoh 5:4), dengan iman, kita percaya pada setiap firman demi firman yang disampaikan oleh seorang pemimpin, dan mulai mempraktekkannya. Langkah2 ketaatan kita untuk berjalan dalam iman akan menggiring kita untuk melihat bagaimana orang yang diutus dari yang tempat tinggi itu mulai membangun satu persatu kehidupan kita di dalam keakuratan. Adalah kerinduan hati Tuhan, bagaimana Bapa melihat BaitNya (sebagai gambaran hidup kita) bukan lagi seperti tembok reruntuhan namun mulai dibangun menjadi makin kuat dan kokoh seturut firmanNya (Mat 7:24)

Saya percaya sebagaimana pekerjaan firman dan roh bekerja dalam diri pemimpin. Pasti ada anugrah dan kemenangan yang sama juga bekerja dalam hidup kita. Amin #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar