DUPA
DUPA
Dalam tradisi Alkitab (Kristen) dan Torah (Yahudi), dupa atau ukupan bukan sekadar wewangian, melainkan elemen sakral yang memiliki makna teologis dan spiritual yang sangat dalam.
Berikut adalah ringkasan mengenai peran dan makna dupa dalam kitab suci:
1. Dasar Hukum dan Perintah (Torah)
Dalam kitab Keluaran 30:1-10, Tuhan memberikan instruksi spesifik kepada Musa untuk membuat Mezbah Pembakaran Ukupan dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas murni.
Waktu Pembakaran: Harun (Imam Besar) harus membakar dupa setiap pagi dan petang, bertepatan dengan waktu pembersihan dan penyalaan lampu kandil.
Bahan Khusus: Formula dupa ini sangat rahasia dan kudus, terdiri dari getah damar, kulit kerang harum, getah ranu, dan kemenyan murni dalam takaran yang sama.
Larangan: Torah melarang keras penggunaan campuran dupa ini untuk kepentingan pribadi. Siapa pun yang menirunya untuk dicium aromanya akan dikucilkan (Keluaran 30:37-38).
2. Makna Spiritual dan Simbolisme
Dupa memiliki beberapa lapisan makna yang diakui dalam tradisi Yahudi maupun Kristen:
Simbol Doa: Ini adalah makna yang paling populer. Sebagaimana asap dupa naik ke atas, demikian pula doa-doa orang beriman naik ke hadapan Tuhan.
"Biarlah doaku adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan..." (Mazmur 141:2)
Kehadiran Ilahi: Asap dupa yang memenuhi Bait Allah melambangkan kemuliaan Tuhan (Shekhinah) yang hadir di tengah umat-Nya.
Perlindungan (Atonement): Dalam hari raya Pendamaian (Yom Kippur), Imam Besar membawa dupa ke dalam Ruang Mahakudus. Asapnya berfungsi sebagai "tabir" pelindung agar imam tidak melihat langsung kehadiran Tuhan yang dahsyat, yang dapat menyebabkan kematian (Imamat 16:12-13).
Hubungan yang Erat: Secara etimologi, kata Ibrani untuk dupa adalah Ketoret, yang berakar dari kata yang berarti "mengikat" atau "menghubungkan". Ini melambangkan hubungan yang erat antara manusia dan Sang Pencipta.
3. Dupa dalam Perjanjian Baru
Tradisi ini berlanjut dan mendapatkan dimensi baru dalam Perjanjian Baru:
Kelahiran Yohanes Pembaptis:
Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Zakharia (ayah Yohanes) tepat saat ia sedang bertugas membakar dupa di Bait Allah (Lukas 1:8-11).
Hadiah Majus: Emas, kemenyan, dan mur yang diberikan kepada bayi Yesus merupakan pengakuan akan status-Nya sebagai Raja, Allah (Imam), dan Penderita yang akan mati (Matius 2:11).
Penglihatan di Surgawi: Dalam Kitab Wahyu, dupa digambarkan ada di surga, di mana seorang malaikat mempersembahkan dupa bersama doa-doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta Allah (Wahyu 8:3-4).
BAHAN DUPA
Dalam tradisi Torah, bahan-bahan untuk dupa kudus (disebut Ketoret) bukanlah campuran sembarangan. Tuhan memberikan instruksi yang sangat spesifik kepada Musa dalam Keluaran 30:34-35.
Campuran ini terdiri dari empat bahan utama yang masing-masing memiliki karakteristik unik dan makna spiritual yang mendalam. Berikut adalah rincian bahan-bahannya:
1. Getah Damar (Stacte / Nataph)
Nataph secara harfiah berarti "tetesan". Ini adalah getah yang keluar dengan sendirinya dari pohon (biasanya pohon Myrrh atau Balsam) tanpa harus disayat.
Karakteristik: Murni dan keluar secara alami.
Makna Spiritual: Melambangkan kerelaan hati. Sebagaimana getah ini keluar tanpa dipaksa, doa dan penyembahan kita kepada Tuhan seharusnya muncul dari hati yang tulus dan sukarela, bukan karena kewajiban atau paksaan.
2. Kulit Kerang Harum (Onycha / Shekheleth)
Bahan ini berasal dari penutup cangkang sejenis kerang laut (mollusk) yang ditemukan di Laut Merah. Sebelum digunakan, ia harus dibersihkan dan diproses.
Karakteristik: Jika dibakar sendiri, aromanya tidak terlalu harum, namun saat dicampur, ia memperkuat aroma bahan lainnya.
Makna Spiritual: Melambangkan kerendahan hati. Meskipun berasal dari dasar laut (tempat yang rendah) dan tampak sederhana, ia memberikan kekuatan pada campuran lainnya. Ini mengingatkan bahwa Tuhan menghargai doa orang yang rendah hati.
3. Getah Ranu (Galbanum / Chelbenah)
Ini adalah getah dari tanaman perdu di daerah pegunungan. Yang menarik, getah ini jika dibakar sendirian memiliki bau yang sangat tajam dan cenderung tidak sedap (pahit).
Karakteristik: Bau yang kuat dan pahit, namun berfungsi sebagai "pengikat" agar aroma dupa lainnya bertahan lebih lama.
Makna Spiritual: Para rabi Yahudi mengajarkan bahwa Galbanum melambangkan orang-orang berdosa. Ini menunjukkan bahwa dalam komunitas umat Tuhan, "bau pahit" dari orang yang jatuh dalam dosa tetap diterima dalam doa bersama, asalkan mereka mau bertobat dan menyatu dengan "bahan-bahan" kudus lainnya.
4. Kemenyan Murni (Frankincense / Lebonah)
Lebonah berasal dari kata yang berarti "putih". Ini adalah resin bening yang akan mengeluarkan aroma sangat harum saat terkena api.
Karakteristik: Putih bersih dan sangat wangi.
Makna Spiritual: Melambangkan kesucian dan pemurnian. Ini mengingatkan kita bahwa doa-doa kita harus dipisahkan dari motivasi duniawi dan dikuduskan hanya untuk Tuhan. Putih melambangkan kebenaran yang datang dari Tuhan.
Kesimpulan dan Pelajaran Utama
Jika digabungkan, bahan-bahan ini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana kita menghadap Tuhan:
Keseimbangan (Takaran yang Sama): Alkitab mencatat bahan-bahan ini dicampur dalam takaran yang sama. Ini melambangkan keseimbangan dalam hidup rohani—ada kerelaan, kerendahan hati, pengakuan dosa, dan kesucian.
Sinergi dalam Perbedaan: Bahan yang baunya tidak sedap (Galbanum) menjadi harum ketika disatukan dengan bahan lainnya di atas api. Ini melambangkan kekuatan doa syafaat dan komunitas orang percaya yang saling melengkapi.
Hanya dengan Api: Dupa tidak akan menghasilkan aroma tanpa Api. Dalam Alkitab, api sering melambangkan Roh Kudus atau Ujian. Tanpa gairah dari Roh Kudus, doa-doa kita hanyalah kata-kata tanpa "aroma" di hadapan Allah.
Apakah Anda ingin saya menjelaskan bagaimana Mezbah Pembakaran Ukupan ini diletakkan di dalam Kemah Suci dan apa hubungannya dengan akses kita kepada Tuhan hari ini?







Komentar
Posting Komentar