BELAJAR MEWARISI

BELAJAR MEWARISI 

SEPATAH KATA HARI INI 
























Shalom


Sahabat Joshua Ivan Sudrajat bulan ini adalah Bulan Mewarisi 


Hari ini Kita belajar Mewarisi 


Warisan menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sesuatu yang diwariskan. Arti lain dari warisan adalah harta pusaka. Warisan pada umumnya berupa harta kekayaan yang dimiliki orangtua. Namun tidak semua keluarga memiliki aset atau kekayaan yang dapat diwariskan.


WARISAN IMAN


2 Timotius 1:5 berbunyi “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”.


MENGAPA WARISAN IMAN ITU PENTING?


Warisan iman memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kehidupan spiritual seseorang. Berikut beberapa alasan mengapa warisan iman itu penting.


Membentuk karakter dan nilai hidup

    Ajaran iman membantu anak-anak mengembangkan karakter yang kuat berdasarkan kasih, kejujuran, dan ketekunan. 


Dalam Amsal 22:6 dituliskan, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu


Menjadi dasar dalam menghadapi tantangan hidup


   Dengan iman yang kuat, anak-anak memiliki landasan yang kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan dan tekanan hidup. Beberapa tokoh di Alkitab yang bisa dijadikan contoh terkait iman yang kuat adalah Sadrakh, Mesakh , dan Abednego. Ketika mereka menghadapi tantangan bahwa orang-orang yang tidak menyembah patung emas akan mendapat hukuman yaitu dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, mereka tidak goyah. Iman mereka kepada Allah yang sejati tidak membuatnya tunduk kepada allah yang palsu.


 Iman yang diwariskan kepada anak membuat mereka belajar mengandalkan Tuhan dalam setiap keadaan dan tidak terombang-ambing oleh pengaruh negatif yang muncul dalam kehidupan setiap hari.



Pentingnya Warisan Iman Pada Anak

PENDAHULUAN

          Warisan menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sesuatu yang diwariskan. Arti lain dari warisan adalah harta pusaka. Warisan pada umumnya berupa harta kekayaan yang dimiliki orangtua. Namun tidak semua keluarga memiliki aset atau kekayaan yang dapat diwariskan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia nama baik orangtua juga bisa menjadi warisan untuk anak-anaknya.

    Dalam kekristenan, warisan nama baik diungkapkan dalam kitab Amsal 22:1 yang berbunyi, “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” Berdasarkan ayat tersebut jelas bahwa warisan nama baik lebih berharga dari pada warisan yang berupa harta benda. Harta bisa habis tetapi nama baik bisa diwariskan dari generasi ke generasi dan memberi manfaat bagi keturunannya dalam berbagai aspek kehidupan. Nama baik membuka peluang dalam bisnis atau pekerjaan. Dalam hubungan sosial, orang cenderung percaya kepada seseorang yang berasal dari keluarga yang reputasinya baik. Warisan harta benda hanya memberikan keuntungan materi tetapi nama baik mencerminkan karakter, nilai-nilai moral dan integritas yang bisa diwariskan kepada anak cucu.

    Selain harta dan nama baik, warisan iman merupakan warisan yang paling berharga dalam keluarga Kristen. Dalam Perjanjian Lama di kitab Ulangan 6:20 berbunyi, “Apabila di kemudian hari anakmu bertanya kepadamu: Apakah peringatan, ketetapan dan peraturan itu, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN Allah kita?” Ayat ini berisi pernyataan tegas dari Musa tentang bagaimana seharusnya umat Tuhan hidup di tanah perjanjian. Umat Tuhan diselamatkan dari perbudakan di Mesir dan mendapatkan kehidupan baru yang berkenan kepada Tuhan yaitu hidup dalam iman. Iman kepada Allah yang menyelamatkan menjadi yang terpenting dan paling berharga. Itu warisan terbesar umat Tuhan kepada anak-anaknya.

      Dalam Surat 2 Timotius 1:5 berbunyi “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”. Rasul Paulus pada ayat ini menunjukkan sebuah warisan yang sangat berharga yang dapat diteruskan dari satu keturunan kepada keturunan selanjutnya yaitu warisan iman. Iman yang diwariskan oleh nenek Timotius yang bernama Lois diturunkan kepada ibunya yang bernama Eunike, kemudian diwariskan kepada Timotius.

   Warisan iman bukan hanya diberikan melalui keluarga Kristen saja. Sebagai lembaga pendidikan Kristen, Yayasan Sekolah Kristen Indonesia bertanggung jawab dalam mewariskan iman kepada para peserta didiknya. Warisan iman sangat penting diturunkan kepada generasi muda sebagai generasi bangsa. Warisan iman bukan sekedar pengetahuan tentang Alkitab atau kebiasaan beribadah, tetapi juga hidup dalam kebenaran firman Tuhan dan meneladani kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah dunia yang semakin sekuler Yayasan Sekolah Kristen Indonesia memiliki panggilan terhadap generasi berikutnya untuk tetap berakar dalam iman.

MENGAPA WARISAN IMAN ITU PENTING?

     Warisan iman memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kehidupan spiritual seseorang. Berikut beberapa alasan mengapa warisan iman itu penting.

Membentuk karakter dan nilai hidup

    Ajaran iman membantu anak-anak mengembangkan karakter yang kuat berdasarkan kasih, kejujuran, dan ketekunan. Dalam Amsal 22:6 dituliskan, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

    Menurut Dr. Ratna Megawangi dalam bukunya yang berjudul “Caracter, Parenting Space” jika pembelajaran di sekolah melibatkan empat komponen seperti pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), sifat alamiah (dispositions), dan perasaan (feelings) secara bersamaan, maka perkembangan intelektual, sosial, dan karakter dapat terbentuk secara simultan.

        Pada sekolah Kristen selain melibatkan empat komponen di atas, perlu ditambah dengan pengenalan iman akan Kristus sehingga terbentuk siswa yang memiliki karakter Kristus yang mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial.

Menjadi dasar dalam menghadapi tantangan hidup

   Dengan iman yang kuat, anak-anak memiliki landasan yang kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan dan tekanan hidup. Beberapa tokoh di Alkitab yang bisa dijadikan contoh terkait iman yang kuat adalah Sadrakh, Mesakh , dan Abednego. Ketika mereka menghadapi tantangan bahwa orang-orang yang tidak menyembah patung emas akan mendapat hukuman yaitu dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, mereka tidak goyah. Iman mereka kepada Allah yang sejati tidak membuatnya tunduk kepada allah yang palsu.

 Iman yang diwariskan kepada anak membuat mereka belajar mengandalkan Tuhan dalam setiap keadaan dan tidak terombang-ambing oleh pengaruh negatif yang muncul dalam kehidupan setiap hari.


Mewariskan kehidupan yang berbuah bagi Tuhan


   Generasi yang berakar dalam iman akan menjadi terang dan garam di dunia (Matius 5:13-16). Mereka tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi juga membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Kehidupan yang berbuah adalah hidup yang menghasilkan sesuatu yang bernilai kekal bagi Kerajaan Allah. Buah-buah itu bisa berupa karakter rohani yang dikenal dengan buah Roh (Galatia 5:22-23), pelayanan kepada sesama, menyampaikan kabar sukacita, dan memberi dampak positif yang mencerminkan kasih Kristus bagi orang-orang di sekitarnya.


WARISAN ABRAHAM 


Galatia 3:16-29 (TB) Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus. 

Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. 

Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham. 

Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran — sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu — dan ia disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara. 

Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu. 

Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat. 

Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya.

Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan.

Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. 

Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. 

Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. 

Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. 

Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.

Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah. 


Warisan Abraham adalah janji Allah yang mencakup keturunan yang tak terhitung, tanah perjanjian (Kanaan), dan berkat bagi seluruh bangsa, yang diwariskan baik secara fisik kepada bangsa Israel (melalui Ishak) maupun secara rohani kepada semua orang yang beriman dalam Yesus Kristus.


WARISAN KALEB


Warisan Kaleb bin Yefune dalam Alkitab adalah teladan iman, kesetiaan penuh, dan keberanian yang tak kenal takut kepada Tuhan. Ia mewariskan semangat pantang menyerah (menduduki Hebron di usia tua) dan kepercayaan teguh pada janji Allah, menjadikannya inspirasi generasi berikutnya untuk hidup setia dan mengandalkan Tuhan


Berikut adalah poin-poin utama warisan Kaleb:


Iman dan Ketaatan Penuh: 


Kaleb mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati, berbeda dengan mayoritas pengintai lain yang takut.


Keberanian dan Keteguhan: 

Ia berani menghadapi rintangan besar (raksasa Anak) karena percaya Allah membantu, mencerminkan kesetiaan yang kokoh.


Warisan Kekuatan dan Semangat (Legacy): 

Kaleb mengajarkan bahwa usia bukanlah halangan untuk menyelesaikan tugas Tuhan dan mewariskan iman bagi keturunannya.


Tanah Warisan (Hebron): 

Sebagai bukti kesetiaannya, Kaleb menerima Hebron sebagai tanah warisan, yang dijanjikan Tuhan karena ia tetap setia meskipun situasi sulit


WARISAN TIDAK KOMPROMI 


DIA MEMILIH UNTUK TIDAK TERPENGARUH OLEH MAYORITAS NEGATIF


Ketika sepuluh dari dua belas mata-mata memberikan laporan yang mengecilkan hati, Kaleb berdiri menentang mereka, menganjurkan penyerangan dan penaklukan atas Kanaan. Akan sangat mudah baginya untuk menyesuaikan diri dan mengikuti suara mayoritas, membiarkan kesepuluh pemimpin yang persuasif itu menyampaikan kata terakhir, sementara dia hanya diam setuju.


Namun, Kaleb menolak untuk tetap diam saat mayoritas berpaling dari Tuhan. Sangat menginspirasi bahwa Kaleb memilih untuk berdiri teguh demi kebenaran, bahkan ketika itu berarti melawan arus opini publik.


WARISAN KESETIAAN 

 DIA TETAP SETIA DI TENGAH KESULITAN SEPANJANG HIDUPNYA


Keberanian Kaleb bukan hanya tindakan sesaat; itu adalah komitmen seumur hidup. Bahkan setelah bangsa Israel menghabiskan empat puluh tahun mengembara di padang gurun karena ketidaktaatan mereka, Kaleb tetap memegang erat imannya, percaya bahwa Tuhan akan memenuhi janji-Nya. Kesetiaannya yang tak tergoyahkan kepada Tuhan membuatnya berbeda dan menerima hadiah istimewa (Yosua 14:8-9).


WARISAN KEBERANIAN 

DIA BUKAN SEORANG PENGECUT


Pada usia delapan puluh lima tahun, Kaleb mendekati Yosua untuk meminta wilayah pegunungan yang menantang di Hebron. Pernyataannya dalam Yosua 14:11, “pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa”, mencerminkan semangat dan kesediaannya yang luar biasa untuk menghadapi setiap tantangan. Dia tidak sedang menyombongkan diri; dia tahu bahwa kekuatannya berasal dari iman yang teguh kepada Tuhan. Alih-alih mencari jalan yang mudah, dia menerima tantangan itu, mewujudkan keberanian sejati.


Kaleb hidup dalam keberanian, meninggalkan warisan yang menginspirasi bagi generasi berikutnya. Perjalanan Kaleb menunjukkan kepada kita bahwa keberanian sejati bukan berarti tidak memiliki rasa takut; melainkan memilih untuk percaya kepada Tuhan bahkan di tengah ketakutan. Iman dan keberaniannya yang tak tergoyahkan mengingatkan kita bahwa dengan pertolongan Tuhan, kita dapat menghadapi raksasa dan mengatasi hambatan kita, apa pun usia atau keadaan kita.


Di dunia yang sering dipenuhi ketidakpastian dan ketakutan, Kaleb menginspirasi kita untuk tetap teguh dalam keyakinan kita dan dengan berani mengejar janji-janji Tuhan, dengan keyakinan ba

hwa Dia menyertai kita di setiap langkah.


Ditulis oleh Joshua Ivan Sudrajat 

JATIWANGI 18 MARET 2026




Komentar

Postingan Populer