Sabtu, 25 November 2017

TUJUH JEMAAT KITAB WAHYU

*TUJUH JEMAAT KITAB WAHYU*

*Wahyu 1:3*
*“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.”*


Di sini, ditegaskan bahwa berbahagialah mereka yang: membacakan, mendengarkan dan menuruti apa yang ada di dalamnya. Mengapa di dalam Wahyu 1:3 ini dikatakan berbahagialah orang yang membacakan, mendengarkan dan menuruti apa yang terdapat di dalamnya? Karena waktu penggenapannya sudah dekat. Apa yang tertulis di dalam Kitab Wahyu akan segera digenapi/terjadi. Dalam ayat ini, digunakan kata berbahagialah (makarioi)…. Kata ini sama dengan kata yang digunakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 5 mengenai 10 ucapan berbahagia yang diucapkan pada saat Ia berkhotbah di atas bukit. Berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Allah, berbahagialah mereka yang lemah lembut, berbahagialah mereka yang membawa damai, berbahagialah mereka yang berdukacita, dan masih ada yang lainnya lagi. Kata makarioi ini di dalam Wahyu 1:3 diterjemahkan dengan kata berbahagialah. Selain itu juga, kata makarioi ini dapat diterjemahkan dengan beruntunglah dan diberkatilah. Jadi, dapat dikatakan bahwa berbahagialah, beruntunglah, dan diberkatilah mereka yang membacakan, mendengarkan dan menaati apa yang tertulis di dalam kitab ini.

2 kitab yang paling terkenal banyak berisi nubuatan adalah kitab Daniel dan kitab Wahyu. Nubuat-nubuat yang terdapat dalam kitab-kitab ini sebagian besar berisi mengenai keadaan di Akhir zaman, yaitu zaman menjelang  Krsitus akan kembali untuk kedua kalinya ke dunia ini. Akhir zaman ini, akan ditandai dengan peristiwa, fenomena, maupun malapetaka tertentu yang akan terjadi.

Kitab ini muncul karena ilham Allah kepada Yohanes, salah satu murid Tuhan Yesus yang kemudian dibuang ke Pulau Patmos, setelah ia disiksa sebelumnya dengan digoreng dengan minyak panas akan tetapi ia tidak apa-apa. Pada saat Yohanes diasingkan di Pulau Patmos, Allah mewahyukan penglihatan-penglihatan kepadanya mengenai apa yang akan segera terjadi di akhir zaman.

Jikalau kita melihat struktur kitab Wahyu, kita bisa melihat bahwa sebagian besar kitab wahyu menggunakan angka 7. Di awal kitab wahyu dibicarakan mengenai 7 jemaat Allah, selanjutnya 7 meterai (pada setiap meterai dari materai 1 sampai ke tujuh ada peristiwa tertentu yang terjadi), selanjutnya 7 sangkakala (setiap sangkakala juga terdapat malapetaka tertentu yang terjadi). Akan tetapi, pada saat ini kita akan membahas mengenai ke-7 jemaat Allah.

Sebelum kita membahas ke-7 jemaat Allah, Mengapa kitab Wahyu kebanyakan mengunakan angka tujuh? Di dalam Alkitab, angka tujuh menggambarkan “penggenapan” atau “kesempurnaan”. Angka tujuh dapat diartikan sebagai “angka penggenapan”. Angka tujuh dalam bahasa Ibrani (Yahudi) adalah Syibat (bentuk maskulin) dan Syeba (bentuk feminin). Dari kata inilah muncul kata sabat. Hari sabat berarti hari yang ketujuh. Begitu juga, dalam lingkungan orang Yahudi, angka tujuh memiliki tempat yang penting dalam sistem penanggalan mereka. Orang Yahudi mengenal adanya sabat harian, sabat mingguan dan sabat tahunan. Yang pertama, sabat harian, yang dimaksud dengan sabat harian adalah hari yang ke tujuh. Hal ini mengingatkan kita pada Hukum taurat yang ke-4, yang berisi perintah Allah untuk menguduskan hari sabat. Setelah enam hari lamanya manusia bekerja, maka pada hari yang ke tujuh manusia harus berhenti dari pekerjaannya dan beribadah kepada Allah. Hal ini untuk memperingati bahwa enam hari lamanya Allah menciptakan dunia ini dan pada hari yang ketujuh Allah beristirahat. Yang kedua, sabat mingguan, yang dimaksud dengan sabat mingguan adalah minggu ketujuh. Bangsa Israel mengenal akan hari raya Pentakosta. Dalam PL (Perjanjian Lama), hari raya Pentakosta dirayakan untuk mengucapsyukur atas hasil panen. Hari raya ini dirayakan setelah minggu ketujuh dari dari hari raya Paskah (keluarnya bangsa Israel dari Mesir). Di dalam PB (Perjanjian Baru) hari raya Pentakosta mendapat makna baru yaitu Hari turunnya Roh Kudus. Yang ketiga, sabat tahunan, yang dimaksud dengan sabat tahunan ini adalah tahun yang ketujuh. Hal ini mengingatkan kita pada perintah Allah kepada bangsa Israel untuk mengistirahatkan tanah pada tahun yang ketujuh (sabat tanah). Sebagian besar penanggalan orang Yahudi di dasarkan pada Hukum Taurat. Kita bisa melihat bahwa angka 7 merupakan angka yang penting dalam lingkungan gereja perdana maupun dalam Alkitab.

Baiklah kita akan segera membahas mengenai ketujuh Jemaat Allah di dalam kitab Wahyu yang menggambarkan mengenai ke-7 jemaat Allah di masa Akhir zaman.

Belajar dari 7 Jemaat dalam Wahyu

*1. Jemaat Efesus (The Loveless Church) Wahyu 2:2-5*

Ada beberapa hal yang baik dalam jemaat Efesus, yakni: Pertama, bahwa jemaat Efesus telah menunjukkan jerih-payah dan ketekunan dalam kehidupan Kristen. Kedua, bahwa ia tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, yaitu menjalankan siasat gereja terhadap anggota-anggota yang sesat. Ketiga, bahwa ia menolak pengajar-pengajar palsu. Walaupun jemaat Efesus mempunyai banyak sifat-sifat yang baik, namun kepadanya disesalkan bahwa ia telah meninggalkan kasihnya yang semula, yaitu kasih terhadap Tuhan dan terhadap anggota-anggota jemaat. Kepadanya diserukan untuk bertobat. Menurut Wahyu 2:5, ada dua hal yang termasuk dalam pertobatan, yakni: sungguh-sungguh menginsafi betapa dalamnya ia jatuh dan kemudian, berpaling untuk melakukan yang lebih baik.

Jemaat di Efesus ini meninggalkan kasih yang mula-mula. Kasih yang mula-mula itu berkobar selanjutnya semakin redup. Di dalam ayat 3 dijelaskan bahwa jemaat ini sabar dan menderita karena nama Yesus. Jemaat ini juga tidak mengenal lelah. Lalu apa yang dicela Allah dari jemaat ini, yaitu jemaat ini kemudian meninggalkan kasihnya yang mula-mula kepada Allah. Di dalam kitab Kisah Para rasul dijelaskan mengenai cara hidup jemaat perdana yang mula-mula. Mereka selalu berkumpul untuk beribadah dan mereka selalu mendukung kekurangan jemaat yang lain. Mereka giat melakukan pengutusan untuk memberitakan Injil. Oleh karena itu, Allah menegor jemaat ini untuk bertobat dan melakukan kembali apa yang semula dilakukannya.

*2. Jemaat Smirna (The Persecuted Church) Wahyu 2:8-10*

Jemaat Smirna itu rupa-rupanya telah banyak menderita dari pihak orang Yahudi, yang menyampaikan fitnah terhadap mereka kepada pemerintahan Romawi (Wahyu 2:9). Jemaat Smirna dipersiapkan dengan mengatakan bahwa mereka akan mengalami lebih banyak penindasan (ay.10). Kemurnian kerohanian mereka akan diuji oleh penderitaan. Sehingga kepada jemaat Smirna diserukan supaya mereka setia sampai mati, yaitu juga dalam hal kalau mereka akan menerima kehidupan yang kekal; mahkota kehidupan (ay.10)

Jemaat di Smirna telah mengalami kesusahan dan penderitaan. Allah menghimbau jemaat ini untuk bertahan setia sampai mati karena penderitaan, kesusahan serta pencobaan yang akan melanda jemaat ini.

*3. Jemaat Pergamus (The Compromising Church) Wahyu 2:14-16*

Di Pergamus terdapat suatu kuil kafir termasyhur untuk Asklepios, dewa penyembuh. Kuil ini dikunjungi oleh banyak orang, yang mencari kesembuhan disana. Di tempat yang tertinggi di kota itu terdapat suatu kuil untuk Kaisar Agustus dan Dewi Roma. Selanjutnya ada didirikan di sana suatu mezbah raksasa untuk Zeus, dewa agung Yunani. Jemaat Pergamus dipuji oleh karena keteguhan iman yang mereka perlihatkan, juga di hari-hari di waktu ada gugur seorang martir: Antipas.

Jemaat ini berpegang pada nama Yesus dan tidak menyangkal imannya kepada Kristus. Akan tetapi, yang menjadi keberatan terhadap jemaat ini adalah adanya beberapa orang dari jemaat yang menganut ajaran Bileam (Bileam adalah salah satu nabi palsu yang disewa untuk mengutuk orang Israel Bilangan 22-24), menyesatkan anggota jemaat yang lain, supaya memakan persembahan berhala dan melakukan perbuatan zinah. Demikian juga ada padamu orang yang berpegang pada ajaran pengikut Nikolaus. Nikolaus adalah bidat Kristen, yang menyesatkan jemaat. Walaupun mereka tidak menyangkal iman mereka kepada Kristus, mereka berkompromi dengan dosa.

*4. Jemaat Tiatira (The Corrupt Church) Wahyu 2:19-20*

Jemaat di kota ini rupanya sangat terpecah-belah. Jemaat ini didorang untuk tetap setia. Ia mencela mereka yang mengikuti ajaran seorang nabi perempuan. Ia menyebut ia Izebeil, sesuai dengan nama istri kafir Raja Ahab, yang menyebabkan suaminya menyembah berhala Baal (Roma 16:31). Para pengikut nabi palsu ini diingatkan supaya mereka bertobat. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah yang mengetahui segalanya (Yeremia 17:10).

Kekejaman hukuman terhadap perempuan itu dan para pengikutnya sesuai tingkat keseriusan dosa mereka, yakni tindakan mengubah karunia kenabian sejati. Namun, orang-orang dari jemaat yang tetap melawan Izebel dan murid-muridnya akan mengambil bagian, tidak hanya perayaan kemenangan tetapi juga pemerintahan Kristus atas bangsa-bangsa di dunia.

Jemaat ini mempunyai kasih, iman dan ketekunan akan tetapi hal yang dicela Allah adalah kesesatan mereka. Mereka disesatkan oleh pengajar-pengajar palsu yang mengajar beberapa diantara mereka melakukan kesesatan. Hal ini mengacu pada zinah rohani. Sebagai gereja Tuhan kita adalah mempelai Kristus yang dipertunangkan dengan Kristus. Ketika jemaat berpaling kepada oknum yang lain, itu dinamakan dengan zinah rohani karena jemaat Tuhan adalah mempelai perempuan sedangkan Kristus adalah mempelai laki-laki. Allah mengingatkan kepada jemaat ini untuk bertahan dan memegang apa yang ada pada mereka sampai Tuhan datang.

*5. Jemaat Sardis (The Dead Church) Wahyu 3:1-3*

Sardis adalah suatu kota yang letaknya di sebelah tenggara Efesus, dan yang termasyhur kerena masa lampaunya. Pernah kota itu menjadi tempat kedudukan Croesus, raja yang kaya-raya dari Lydia. Tetapi dalam abad pertama sesudah Kristus arti kota ini telah menjadi kecil.

Surat kepada jemaat di Sardis (Wahyu 3:1-6) mengisyaratkan bahwa persekutuan Kristen purba di sana dipengaruhi oleh semangat kota itu, menggantungkan kepada reputasi masa lampau tanpa keberhasilan masa sekarang. Dan gagal, seperti kota itu pernah dua kali gagal, kemudian belajar dari masa lalu serta menjadi waspada. Lambang “pakaian putih” sangat berarti bagi kota yang terkenal karena perdagangan pakaiannya; mereka yang tetap setia dan berjaga akan dihiasi demikian untuk mengambil bagian dalam kemenangan Tuhan.

Jemaat ini mati. Mati Rohani. Pekerjaannya tidak sempurna. Allah menegor jemaat ini supaya mereka bertobat dan hidup berjaga-jaga.

*6. Jemaat Filadelfia (The Faithfull Church) Wahyu 3:10-11*
Pada zaman diturunkannya Wahyu kepada Yohanes, Filadelfia adalah suatu kota kecil disebelah tenggara Sardis. Kota itu didirikan sekitar thn. 150 s.M. oleh Raja Attalus II Filadelfus. Filadelfus berarti: yang mencintai saudara-saudaranya yang laki-laki dan perempuan. Dalam surat kepada jemaat filadelfia, terdapat istilah “Yang Kudus dan Yang Benar” dalam ayat 7. Yang benar berarti: yang perkataannya dapat dipercayai.

Dalam surat ini, jemaat disini tidak dikutuk, tetapi diingatkan untuk berhati-hati terhadap mereka yang mengaku orang Yahudi padahal bukan. Kita tidak tahu apakah pertentangan yang terjadi disini. Wahyu mengacu kepada beberapa nubuat mesianis untuk membuktikan bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh keturunan Daud. Yesaya 22:22-25 tampaknya paling dekat dengan nubuat ini, karena menunjuk kepada kunci dan pintu terbuka. Karena pintunya masih tetap terbuka dihadapan jemaat ini, mereka masih mempunyai kemungkinan diselamatkan jika mereka terus bertahan. Surat bahkan menjanjikan bahwa kebenaran dari kepercayaan mereka akan diperlihatkan bila beberapa dari mereka yang mengaku Yahudi bertobat. Janji ini mengingatkan kita bahwa surat-surat dalam Wahyu tidaklah mewartakan peristiwa yang sudah dimaterai. Tidak ada kata terlambat bagi mereka untuk bertobat. Mereka yang setia harus disemangati supaya tetap bertahan.

Jemaat ini adalah jemaat yang setia dan taat. Jemaat ini dihimbau untuk tetap bertahan.

*7. Jemaat Laodikia (The Lukewarm Church) Wahyu 3:15-16*

Kota ini letaknya disebelah tenggara Filadelfia, dekat Kolose. Laodikia didirikan kira-kira thn. 250 S.M. oleh Raja Antiokhus II dari Siria dan dinamai menurut nama isterinya, Laodike.

Surat ini berisi banyak singgungan terhadap sifat dan suasana kota ini. Walaupun kaya, kota ini tidak mampu menghasilkan penyembuhan dari khasiat air panas, seperti tetangganya Hierapolis, atau kuasa menyegarkan dari air sejuk di Kolose. Hasilnya hanya air hangat-hangat kukuh yang hanya bermanfaat sebagai obat muntah. Jemaat Laodikia dinyatakan hangat-hangat kuku hingga tidak bermanfaat (artinya, perasaan cukup diri). Sama seperti kota itu, jemaat berpikir bahwa ia “tidak membutuhkan apa-apa lagi” padahal ia membutuhkan “emas”, “pakaian putih”, dan “pelumas mata” yang lebih hebat dari yang dapat disediakan oleh bankir-bankir, ahli-ahli pakaian, dan dokter-dokter mereka. Seperti halnya penduduk bersikap tidak menyenangi musafir yang menawarkan kepadanya barang-barang, warga jemaat itu telah menutup pintu rumah mereka dan membiarkan Sang Pemberi tetap diluar rumah mereka

Jemaat ini suam-suam kuku. Tidak panas, tidak dingin. Setengah-setengah. Setengah-setengah setia, setengah-setengah beriman. Allah menegor jemaat ini untuk bertobat.
Dari ketujuh jemaat tersebut, kita bisa melihat kekurangan dan kelebihan mereka. Ada yang ditegor, ada yang diperingatkan dan ada yang tetap setia.


*Jemaat Efesus = jemaat yang kehilangan kasih mula-mula*
*Jemaat Smirna = jemaat yang teraniaya*
*Jemaat Pergamus = jemaat yang berkompromi dengan dosa*
*Jemaat Tiatira = jemaat yang hidup dalam kesesatan*
*Jemaat Sardis = jemaat yang mati rohani*
*Jemaat Filadelfia = jemaat yang setia*
*Jemaat Laodikia = jemaat yang suam-suam kuku*

Kitab wahyu ini berisi mengenai nubuatan yang akan terjadi. Begitu juga, ke-7 jemaat di dalam kitab Wahyu ini juga melukiskan jemaat Tuhan/gereja Tuhan yang ada pada akhir zaman ini. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah kita sebagai jemaat Allah termasuk kedalam golongan jemaat apa? Apakah kita seperti jemaat Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia atau Laodikia? Biarlah kita sendiri yang merenungkan hal ini.

Menurut salah seorang penginjil terkenal, Rev. Billy Graham, ia menjelaskan bahwa gambaran 7 jemaat di dalam Kitab Wahyu ini berisi *3 pengajaran pokok, yaitu:*
1. Panggilan untuk mengasihi Tuhan seperti semula, hal ini ditujukan kepada jemaat Efesus dan Laodikia.
2. Panggilan untuk hidup benar, hal ini ditujukan kepada jemaat Pergamus, Tiatira dan Sardis.
3. Panggilan untuk bertahan dalam penderitaan, hal ini ditujukan kepada jemaat Smirna dan Filadelfia.

Tuhan Yesus Memberkati!!

*Sumber : Buku PAP dan Engkong*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar