Pencobaan Di Padang Gurun

Pdt. Dr. Budi Asali, STh


LUKAS 4:1-4

I) Yesus di padang gurun:
1) Yesus penuh dengan Roh Kudus, dan Roh Kudus memimpin Dia ke padang gurun supaya dicobai oleh Iblis (Mat 4:1).
 
a) Ini menunjukkan bahwa kalau seseorang penuh dengan Roh Kudus / dekat dengan Tuhan, itu tidak berarti bahwa ia bebas dari serangan setan. Setan justru lebih senang menyerang orang yang dekat dengan Tuhan supaya orang itu menjauh dari Tuhan! Kalau saudara memang sudah jauh dari Tuhan / sudah sesat, setan tidak merasa terlalu perlu untuk menyerang saudara. Karena itu, kalau hidup saudara relatif enak dan bebas dari serangan setan, maka saudara justru harus melakukan introspeksi, karena mungkin sekali saudara justru sedang tersesat!
b) Sekalipun Roh Kudus memimpin Yesus ke padang gurun untuk dicobai Iblis, tetapi Roh Kudus memenuhi Yesus untuk menjagaNya agar tidak jatuh dalam menghadapi pencobaan.
Calvin:
"Christ was separated from us, in this respect, by the perfection of his nature; though we must not imagine him to have existed in that intermediate condition, which belonged to Adam, to whom it was only granted, that it was possible for him not to sin. We know, that Christ was fortified by the Spirit with such power, that the darts of Satan could not pierce or wound him: that is, that it was impossible for sin to fall upon him" (= Kristus terpisah dari kita, dalam hal ini, oleh kesempurnaan hakekatNya; sekalipun kita tidak boleh membayangkan bahwa Ia ada dalam kondisi yang diberikan kepada Adam, yang hanya dianugerahi sedemikian rupa sehingga memungkinkan ia untuk tidak berbuat dosa. Kita tahu, bahwa Kristus dibentengi oleh Roh dengan kuasa sedemikian rupa, sehingga panah-panah Iblis tidak bisa menusuk atau melukaiNya: artinya, adalah tidak mungkin bahwa Ia berbuat dosa).
c) Apa tujuan Roh Kudus untuk sengaja membawa Yesus ke dalam pencobaan? Tujuan Roh Kudus adalah:
      • Supaya Yesus menang dan makin kuat! Jadi seakan-akan Roh Kudus adalah pelatih tinju yang memberikan sparring partner (= teman berlatih) kepada petinjunya, dengan tujuan supaya petinjunya menjadi makin baik.
Penerapan: kalau saudara mengalami pencobaan, maka Tuhan juga mengijinkan saudara mengalami itu supaya saudara makin kuat.
Calvin:
"But if Christ was tempted as the public representative of all believers, let us learn, that the temptations which befall us are not accidental, or regulated by the will of Satan, without God’s permission; but that the Spirit of God presides over our contests as an exercise of our faith" (= Tetapi jika Kristus dicobai sebagai wakil dari semua orang percaya, hendaklah kita belajar, bahwa pencobaan-pencobaan yang menimpa kita tidaklah kebetulan, atau diatur oleh kehendak Iblis, tanpa ijin Allah; tetapi bahwa Roh Allah mengatur / mengontrol pertandingan kita sebagai latihan bagi iman kita).
      • Untuk menunjukkan Yesus akan menjadi Mesias yang bagaimana. Mesias yang menggunakan kuasaNya untuk diriNya sendiri (ay 3)? Mesias yang menginginkan kerajaan dunia dengan cara yang cepat tetapi tidak halal (ay 5-7)? Mesias yang tunduk kepada setan (ay 7)? Mesias yang melakukan mujijat yang spektakuler supaya disanjung orang (ay 9-11)?
      • Supaya Yesus, setelah merasakan hebatnya pencobaan, bisa lebih bersimpati dan menolong kita yang dicobai (Ibr 2:18 Ibr 4:15).
Banyak orang yang berkata bahwa kalau Yesus memang tidak bisa berbuat dosa, maka pencobaan-pencobaan itu tidak ada artinya bagi Dia, sehingga Ia tidak merasakan hebatnya pencobaan. Tetapi ini salah, karena orang yang tidak terkalahkan tidak berarti bahwa ia tidak bisa diserang. Juga perhatikan kutipan-kutipan di bawah ini:
NICNT mengutip Wescott yang mengomentari Ibr 2:18 sbb:
"Sympathy with the sinner in his trial does not depend on the experience of sin, but on the experience of the strength of the temptation to sin, which only the sinless can know in its full intensity. He who falls yields before the last strain" (= Simpati dengan orang berdosa dalam pencobaanya tidak tergantung pada pengalaman tentang dosa, tetapi pada pengalaman tentang kekuatan pencobaan kepada dosa, yang hanya orang yang tidak berdosa bisa mengetahuinya dalam intensitasnya sepenuhnya. Ia yang jatuh, menyerah sebelum tekanan terakhir).
NICNT juga kutip Plummer yang berkata:
"... a rigtheous man, whose will never falters for a moment, may feel the attractiveness of the advantage more keenly than the weak man who succumbs; for the latter probably gave way before he recognised the whole of the atractiveness" (= ... orang yang benar, yang tidak pernah goyah sesaatpun, bisa merasakan daya tarik dari keuntungan dengan lebih hebat / keras dari pada orang lemah yang menyerah / mengalah; karena yang terakhir ini mungkin menyerah sebelum ia mengenal seluruh daya tarik itu).

Dari 2 kutipan di atas ini NICNT menyimpulkan:
"If we bear these considerations in mind we shall realise that the Saviour experienced the violence of the attacks of temptation as no other human being ever did, because all others are sinful and therefore not able to remain standing until the temptations have exhausted all their terrible violence in assailing them" (= Jika kita mengingat pertimbangan-pertimbangan ini, kita akan menyadari bahwa sang Juruselamat mengalami hebatnya serangan pencobaan yang tidak pernah dialami oleh orang lain, karena semua yang lain adalah orang berdosa dan karena itu tidak bisa tetap berdiri sampai pencobaan-pencobaan itu menghabiskan seluruh kekuatannya dalam menyerang mereka).

Contoh: orang mengalami godaan sex. Kalau begitu ada godaan ia langsung menyerah, maka jelas ia tidak merasakan seluruh kekuatan godaan itu. Tetapi kalau ia bertahan, maka si penggoda akan menggunakan segala cara untuk menjatuhkan orang itu, dan akibatnya ia betul-betul merasakan seluruh kekuatan godaan itu.
      • Supaya Yesus bisa menjadi teladan bagi kita dalam menghadapi pencobaan.
Renungkan: apakah saudara meneladani Kristus pada waktu menghadapi pencobaan?
 
2) Yesus berpuasa 40 hari 40 malam (ay 2 bdk. Mat 4:2).
 
a) Bilangan 40 sering muncul dalam Kitab Suci, misalnya:
      • Musa berpuasa 40 hari.

      • Elia berpuasa 40 hari.

      • Israel ada di padang gurun selama 40 tahun.
Demikian juga bilangan 3,7,12 sering muncul dalam Kitab Suci. Terhadap hal ini kita harus hati-hati supaya kita tidak mempunyai kepercayaan yang bersifat takhyul tentang bilangan-bilangan ini! Bdk. 1Tim 4:7 yang menyuruh kita menjauhi takhyul! Ingat bahwa kepercayaan terhadap takhyul bukanlah dosa yang remeh, karena ini menyangkut kepercayaan asing, sehingga tidak berbeda dengan syncretisme (= kepercayaan terhadap 2 agama atau lebih) maupun kepercayaan terhadap berhala!

b) Dalam Kitab Suci, orang lain yang pernah melakukan puasa 40 hari adalah Musa (Kel 34:28 Ul 9:9,18 Ul 10:10) dan Elia (1Raja-raja 19:8).

Tetapi rupa-rupanya puasa yang dilakukan Musa dan Elia bukanlah puasa yang wajar tetapi melibatkan suatu mujijat, karena mereka berpuasa baik terhadap makanan maupun minuman. Orang bisa hidup cukup lama tanpa makanan, tetapi hanya tahan beberapa hari tanpa minuman.
c) Bahwa Yesus berpuasa 40 hari 40 malam, tidak berarti bahwa kita juga harus berpuasa seperti itu! Ini bagian yang bersifat descriptive (bersifat menggambarkan), bukan didactic (bersifat mengajar). Contoh lain adalah ay 1 dimana Yesus yang penuh Roh Kudus dibawa ke padang gurun. Ini jugadescriptive sehingga tidak bisa diartikan bahwa orang yang dipenuhi Roh Kudus pasti akan dipimpin ke padang gurun.
d) Yesus hanya puasa terhadap makanan, bukan terhadap minuman. Ini bisa dilihat dari:
      • Ay 2 mengatakan:

      • ‘tidak makan apa-apa’.

      • ‘lapar’ bukan ‘haus’.

      • Ay 3 mengatakan bahwa Iblis mencobai Dia dengan ‘roti / makanan’, bukan dengan ‘air / minuman’.
Tradisi mengatakan bahwa Ia minum air pohon kaktus.
e) Yesus baru merasa lapar setelah berpuasa 40 hari?
Luk 4:2 berbunyi: "Di situ Ia tinggal 40 hari lamanya dan tidak makan apa-apa dansesudah waktu itu Ia lapar". Bdk. Mat 4:2 yang berbunyi: "Dan setelah berpuasa 40 hari dan 40 malam, akhirnya laparlah Yesus".
Apakah ini aneh / salah, bahwa Ia baru lapar setelah berpuasa 40 hari? Sebetulnya tidak aneh ataupun salah! Seorang yang bernama Arthur Wallis, dalam bukunya yang berjudul ‘God’s Chosen Fast’ (= puasa pilihan Allah), hal 77-78 menjelaskan akan adanya 3 tahap yang akan dialami seseorang kalau melakukan puasa jangka panjang:
      • tahap I yang berlangsung sekitar 2-3 hari (lamanya tahap-tahap ini bisa berbeda untuk tiap orang), dimana orangnya merasa sangat lapar.

      • tahap II yang juga berlangsung sekitar 2-3 hari, dimana orangnya tidak lagi merasa terlalu lapar, tetapi merasa badannya lemas, pusing dan malas untuk bergerak. Ini adalah bagian yang terberat dalam melakukan puasa jangka panjang.

      • tahap III.
Pada tahap III ini orang yang tadinya lemas itu mulai pulih kekuatannya, dan ia tidak lapar lagi. Pada tahap ini orangnya merasa bahwa ia bisa puasa terus tanpa problem. Tetapi kalau puasa ini diteruskan, maka pada saat tertentu, rasa lapar tahu-tahu muncul lagi dengan sangat hebatnya. Ini menunjukkan bahwa lemak tubuh sudah habis, dan kalau puasa itu tetap diteruskan, ini menjurus padastarvation (= mati kelaparan).
Lamanya tahap III ini tentu saja sangat berbeda untuk setiap orang, dan sangat tergantung pada gemuk / kurusnya orang yang berpuasa. Orang gemuk, karena cadangan lemak yang banyak, bisa bertahan lebih dari 40 hari, sedangkan orang kurus mungkin hanya bertahan 20 hari.
Dari sini bisa kita simpulkan, bahwa Yesus sudah sampai pada akhir dari tahap III, dan karena itu tidak aneh / tidak salah kalau dikatakan bahwa ‘setelah berpuasa 40 hari dan 40 malam, akhirnya laparlah Yesus’.
 
II) Setan dan pencobaan I:
1) Saat pencobaan:
    • setelah baptisan / pernyataan Bapa (Luk 3:21-22).

    • sebelum pelayanan / pada saat mau mulai pelayanan (Luk 4:14-dst).
Jadi, setelah kita mentaati Tuhan atau menerima suatu pernyataan dari Tuhan, atau kalau kita akan melayani Tuhan / mentaati Tuhan, setan pasti menyerang. Kalau saudara relatif tidak pernah diserang setan, maka mungkin itu karena dalam hidup saudara tidak ada ketaatan!
2) Kitab Suci tidak menjelaskan bagaimana caranya setan memberikan pencobaan ini kepada Yesus. Mat 4:3 memang berkata: "Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepadaNya". Tetapi apakah ia menampakkan diri? Atau hanya memperdengarkan suara? Kalau ia menampakkan diri, apakah ia muncul berbentuk ular, atau manusia, atau malaikat? Ini tidak dijelaskan. Tetapi yang jelas adalah: pencobaan ini bukannya muncul dalam pikiran / hati Yesus, karena kalau itu terjadi, maka Ia sudah berdosa!

3) Ada 2 tafsiran tentang kata-kata ‘Jika Engkau Anak Allah’ (ay 3).
Ini disebabkan karena kata Yunani yang diterjemahkan ‘jika’ adalah EI, yang bisa diterjemahkan sebagai:
 
a) ‘If / Jika’.
Kalau dipilih arti ini, maka pencobaan ini diberikan Iblis untuk meragukan keilahian Yesus. Yesus baru saja dibaptis dimana ia mendapat pernyataan ilahi dari BapaNya bahwa Ia adalah Anak Allah (Luk 3:21-22), dan sekarang Iblis berusaha membuat Yesus untuk meragukan hal itu!
Penerapan:
      • Kalau saudara baru mendengar Firman Tuhan di gereja, dan saudara lalu merasa dikuatkan / dihiburkan, tetapi begitu sampai di rumah saudara ragu-ragu lagi, maka saudara tahu siapa yang sedang bekerja saat itu!

      • saudara baru saja mendengar Injil dan percaya kepada Yesus, lalu saudara jatuh ke dalam dosa, dan setan berkata: ‘Dengan hidupmu yang seperti itu kamu yakin selamat / masuk surga?’.

      • saudara baru mendengar Ro 8:28, dan lalu saudara mengalami problem / penderitaan, dan setan berkata: ‘Mungkinkah penderitaan seperti itu bisa membawa kebaikan buat kamu?’.
Karena itu, hati-hatilah dengan semua keraguan terhadap Firman / janji Tuhan!
b) ‘Since / karena’.
Kalau dipilih arti ini maka jelas bahwa pencobaan I ini tidak dilakukan untuk meragukan keilahian Yesus, tetapi mungkin sekedar mbombongi Yesus.

Penerapan: Setan sering menyerang, dengan berkata:
      • kalau kamu laki-laki, pukul saja orang yang menghina kamu itu.

      • kalau kamu memang jantan, buktikan kejantananmu dengan seorang pelacur.
Jangan menjadi seorang yang bombongandengan mengikuti godaan setan ini.
 
4) Setan mencobai Yesus untuk mengubah batu menjadi roti.
 
a) Tyndale:
"That they were temptations implies that Jesus knew He had unusual powers. ‘It is no temptation to us to turn stones into bread or leap from a Temple pinnacle’ (Barclay)" [= Bahwa hal-hal itu adalah pencobaan, secara tidak langsung menunjukkan bahwa Yesus tahu bahwa Ia mempunyai kuasa yang luar biasa. ‘Bukanlah pencobaan bagi kita untuk mengubah batu menjadi roti atau untuk meloncat dari bubungan Bait Suci’ (Barclay)].
Dari sini bisa juga ditarik kesimpulan bahwa makin besar kuasa / kekuatan yang ada pada kita, makin banyak pencobaan yang bisa disodorkan oleh setan kepada kita! Misalnya: orang miskin tidak akan merasakan piknik ke Tretes pada hari Minggu sebagai suatu pencobaan, karena itu sama sekali di luar kemampuannya, tetapi bagi orang kaya hal itu merupakan godaan. Karena itu, makin saudara kaya / berkuasa, makin saudara harus mendekatkan diri kepada Tuhan dan belajar Firman Tuhan, supaya saudara kuat menghadapi pencobaan yang semakin banyak itu.

b) Seperti Adam, Yesus dicobai dengan menggunakan makanan. Tapi perbedaannya adalah:
      • Adam dicobai di taman Eden dimana ada banyak makanan dan pada saat Adam tidak lapar; Yesus dicobai di padang gurun dimana tidak ada makanan dan pada saat Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam.

      • kalau Adam I kalah, maka Adam ke II (Kristus) menang!
Pulpit Commentary:
"It was some wilderness, where nature affords no food or sustenance to man. What a contrast to the happy garden where the first Adam was tempted! Messiah meets the tempter in the most trying circumstances, and (in) the tempter’s defeat there is promise of his defeat everywhere" (= Itu adalah padang gurun dimana alam tidak menghasilkan makanan bagi manusia. Alangkah kontrasnya dengan taman yang indah dimana Adam yang pertama dicobai. Mesias menjumpai si pencoba dalam situasi yang paling berat, dan dalam kekalahan si pencoba itu ada janji kekalahannya dimanapun).

c) Setan menyerang titik lemah (‘lapar’ diserang dengan ‘roti’).
Setan tahu titik lemah kita dan setan selalu berusaha menyerang titik lemah kita. Karena itu kita harus tahu titik lemah kita, dan selalu waspada dalam hal itu dan setiap hari membentenginya dengan doa! Bahkan kalau perlu kita harus belajar bagian Firman Tuhan yang khusus berhubungan dengan kelemahan kita itu. Misalnya saudara mempunyai kelemahan dalam menguasai kemarahan saudara, maka carilah dan bacalah buku-buku rohani yang membahas tentang kemarahan / penguasaan diri.
d) Pencobaan untuk membuat batu menjadi roti ini sangat logis, karena saat itu Yesus membutuhkan roti, tetapi tidak ada roti, dan tidak bisa membeli roti ataupun membuat roti dengan cara biasa.
Hati-hati dengan godaan yang logis! Misalnya: istrimu sudah jelek dan tidak memuaskan kamu, dan kamu sebagai orang laki-laki mempunyai nafsu sex yang harus disalurkan. Kalau ditahan terus nanti bisa stress / gila! Jadi, carilah wanita lain / pelacur yang bisa memuaskan kamu.

e) Pencobaan ini mengarahkan Yesus dari hal rohani (puasa) ke hal jasmani (roti). Setan juga sering mengarahkan perhatian kita hanya pada hal jasmani!
Contoh:
      • saat teduh diganti acara TV, sampai kita sudah terlalu mengantuk untuk bersaat teduh.

      • Pemahaman Alkitab diganti gangthao, nonton bioskop, dsb.

      • Kebaktian diganti dengan piknik, pesta nikah / HUT dsb.

      • Kalau melihat orang sakit / miskin kita kasihan, tetapi kalau melihat orang berdosa yang belum kenal Yesus kita tidak kasihan.
Kalau saudara digoda oleh setan dengan mengarahkan diri saudara pada hal-hal jasmani, ingatlah kata-kata Paulus yang berkata dalam 2Kor 4:18 sebagai berikut:
"Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal".
f) Pencobaan ini bertujuan supaya Yesus tidak mempercayakan diri kepada BapaNya, tetapi menangani persoalan lapar itu dengan cara yang tidak halal yaitu dengan menggunakan keilahianNya. Mengapa itu tidak halal? Karena pada waktu hidup di dunia sebagai manusia Yesus tidak pernah menggunakan keilahianNya untuk kepentinganNya sendiri. Kalau Ia selalu menggunakan keilahianNya untuk kepentinganNya sendiri, maka Ia tidak akan bisa menderita bagi kita.

Setan juga selalu menyerang kita supaya kita tidak mempercayakan diri kita kepada Allah, tetapi menangani sendiri dengan menggunakan cara yang tidak halal (mencuri, korupsi, nyogok, berdusta, pergi ke dukun dsb).

g) Pulpit Commentary:
"The fallacy which underlies this temptation is one to which men are now most prone, viz. that ‘men must live’, and then this false principle passes through degrees of comparison, and men say to themselves they must, if possible, live well, and lastly, they must, is possible, live very well. But is it necessary that any of us should live? Who has given us this revelation? May not God’s revelation be that the best thing we could do would be to die for truth and righteousness?" (= Sekarang banyak orang paling condong pada pemikiran salah yang melandasi pencobaan ini, yaitu bahwa ‘manusia harus hidup’, dan lalu prinsip salah ini melalui tingkat-tingkat perbandingan, dan manusia berkata kepada diri mereka sendiri bahwa jika mungkin mereka harus hidup baik / enak, dan terakhir, jika mungkin mereka harus hidup sangat baik / enak. Tetapi haruskah kita hidup? Siapa yang telah memberikan wahyu ini kepada kita? Tidak bisakah bahwa Wahyu Allah adalah bahwa hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mati untuk kebenaran?).
 
III) Jawaban Yesus:
1) Yesus menangkis serangan setan dengan berkata: "Ada tertulis: ‘Manusia hidup bukan dari roti saja’" (ay 4).
 
a) Yesus menjawab dengan menggunakan Firman Tuhan yang Ia kutip dari Ul 8:3.
Disini kita lihat pentingnya pengertian terhadap Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah senjata / pedang Roh (Ef 6:17) yang harus kita gunakan pada saat setan menyerang.
Calvin:
"Those who voluntarily throw away that armour, and do not laboriously exercise themselves in the school of God, deserve to be strangled, at every instant, by Satan, into whose hands they give themselves up unarmed" (= Mereka yang secara sukarela membuang senjata itu, dan tidak melatih diri mereka sendiri dengan susah payah dalam sekolah Allah, layak dijerat, pada setiap saat, oleh Iblis, kedalam tangan siapa mereka menyerahkan diri mereka sendiri tanpa senjata).

Penerapan:
Rajinlah datang dalam Pemahaman Alkitab / belajar Firman Tuhan supaya bisa menggunakan Firman Tuhan untuk menangkis serangan setan.
Contoh menggunakan Firman Tuhan untuk menangkis serangan setan: saudara mengalami penderitaan, lalu ada pikiran bahwa Allah tidak mengasihi saudara (ini serangan setan). Maka saudara bisa menangkis / mendebat pikiran / serangan setan itu dengan menggunakan Yoh 3:16 Ro 5:8 1Yoh 4:8 dsb. Jadi ini seperti berdebat dengan diri sendiri.
b) ‘Manusia hidup bukan dari roti saja’ (ay 4).
Kata ‘saja’ dalam jawaban Yesus itu perlu diperhatikan. Yesus tidak berkata: ‘Manusia hidup bukan dari roti’. Tetapi Yesus berkata: ‘Manusia hidup tidak dari roti saja’. Ini menunjukkan bahwa hal jasmani juga penting dan tidak bisa diabaikan secara total, tetapi kita tidak boleh menekankan hal jasmani saja (bdk. 1Tim 4:8).
 
2) Jawaban Yesus dalam Luk 4:4 ini tidak / kurang lengkap. Mat 4:4 memberikan jawaban yang lengkap, karena di situ ditambahkan kata-kata ‘tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah’. Ada 2 penafsiran tentang arti dari ‘setiap firman yang keluar dari mulut Allah’:
 
a) Ini menunjuk pada Firman Allah atau pengajaran Kitab Suci.
Kalau diambil arti ini, maka seluruh jawaban Yesus itu maksudnya adalah: karena manusia terdiri dari tubuh dan jiwa / roh, maka manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi juga dari Firman Allah / pengajaran Kitab Suci.
Tetapi penafsiran ini rasanya tidak cocok dengan:
      • konteks Luk 4:3-4 / Mat 4:3-4.
Setan menyuruh Yesus mengubah batu menjadi roti, dan Yesus menjawab: manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari pengajaran Kitab Suci. Ini rasanya jadi kacau!
      • Ul 8:3, yang lengkapnya berbunyi:
"Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN".
Kalau kata-kata ‘segala yang diucapkan TUHAN’ itu diartikan pengajaran Kitab Suci, maka Ul 8:3 itu juga menjadi kacau artinya.
 
b) Calvin beranggapan bahwa kata-kata ini menunjuk pada ‘kehendak Allah’.
Jadi maksud Yesus adalah: sekalipun tidak ada roti, kalau Allah menghendaki Ia hidup, Ia akan hidup.
Penafsiran ini lebih cocok dengan konteks Luk 4:3-4 maupun Ul 8:3!

Calvin:
"In like manner, the Apostle says, that he ‘upholdeth all things by his powerful word’ (Heb i. 3); that is, the whole world is preserved, and every part of it keeps its place, by the will and decree of Him, whose power, above and below, is everywhere diffused" [= Dengan cara yang sama, sang rasul berkata bahwa Ia ‘menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan’ (Ibr 1:3); artinya, seluruh dunia / alam semesta dipelihara, dan setiap bagiannya dijaga pada tempatnya, oleh kehendak dan ketetapanNya, yang kuasaNya, di atas dan di bawah, tersebar dimana-mana].
 
3) Jawaban ini menunjukkan:
 
a) Yesus tetap mengarah kepada hal rohani (kehendak Allah). Setan mengarahkanNya pada hal jasmani, tetapi Yesus tetap mengarah pada hal rohani. Ini harus diteladani! Betapapun kuatnya daya tarik dari hal-hal jasmani, arahkanlah diri saudara pada hal-hal rohani!
b) Kepercayaan Yesus kepada BapaNya. Ia tidak mau menggunakan keilahianNya / cara yang tidak halal, dan Ia percaya BapaNya akan memeliharaNya.
 
4) Karena Kristus tidak mau mendapatkan roti dengan cara tidak halal, akhirnya kita melihat bahwa malaikat-malaikat datang melayani Dia (Mat 4:11 Mark 1:13), tentunya juga dalam hal makanan.

Penerapan:
Tirulah Yesus dalam hal ini; jangan mencari makan / uang dengan cara yang tidak halal, seperti:
    • menggunakan tipu daya, dusta, menyuap, dsb.

    • bekerja pada hari Sabat (Kel 20:8-11).
Maka Tuhan pasti akan mencukupi kebutuhan saudara! Bdk. Mat 6:25-34.


-AMIN-

Komentar

Postingan Populer