Ukuran Keintiman

Ukuran Keintiman
J Windunatha Setia


"Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" - Matius 7:22-23

Bagaimana seseorang bisa dikatakan intim dengan Tuhan? Bagaimana seseorang bisa dikatakan bergaul karib dengan Tuhan? Kebanyakan orang akan menjawab dengan jawaban klise seperti,

"Saat teduh setiap hari."

"Baca Alkitab sekian pasal setiap hari."

"Memuji dan menyembah Tuhan setiap hari."

Dan sejenisnya, dan seterusnya demikian. Namun benarkah semua itu tadi ukuran keintiman seseorang dengan Tuhan? Karena kenyataannya, banyak yang melakukan semuanya itu secara rutin, tapi bahkan tidak mengenal dirinya sendiri dengan benar, tidak tahu siapa sesungguhnya dirinya di hadapan Tuhan.

Keintiman atau keakraban harus diawali dengan pengenalan yang sungguh. Itu sebabnya, buat saya pribadi salah satu ukuran keintiman yang paling tangible adalah ketika Tuhan sudah pernah minimal sekali berterus terang kepada diri kita berkata tentang sesuatu yang paling Dia benci atau yang paling Dia tidak sukai dalam hidup kita.

Kebanyakan yang paling Tuhan tidak sukai dari diri kita adalah karakter buruk atau dosa kelemahan yang masih kita sukai dan kita cenderung mengabaikan untuk menyalibkannya atau tidak menyadarinya. Dan ketika Tuhan berterus terang menyingkapkan itu kepada kita, harusnya hati kita terus gelisah setiap kali teringat hal itu. Bukan karena kita terintimidasi, namun karena kita merasa terganggu karena hati kita mengasihi-Nya dengan tulus.

Karakter buruk atau dosa kelemahan itu bisa macam-macam bentuknya, mulai dari mata duitan, mata keranjang, haus pujian, suka gosip, sulit merendahkan diri, angkuh, dan sebagainya. Dan berbahagialah ketika Tuhan tegor kita dengan keras bahkan dengan api cemburu-Nya, sebab itu tanda Dia peduli dan sangat mengasihi kita. Tapi jika sudah jalan dengan Tuhan sekian lama dan Dia tidak pernah sekalipun berterus terang secara demikian, waspadalah! Mungkin sebenarnya Anda tidak pernah dianggap oleh-Nya karena Anda sendiri tidak pernah mempedulikan Hati-Nya.

Mengapa demikian? Perhatikan hubungan dua orang yang akrab, dua sahabat, dua saudara ataupun sepasang suami istri. Mereka akan dengan lantang dan tanpa ragu untuk saling berterus terang mengoreksi sikap, karakter maupun kelemahan sahabat, saudara ataupun pasangannya. Hanya orang asing yang belum begitu kenal yang akan bicara hal-hal yang baik saja tentang diri kita. Namun ketika kita mulai lebih akrab dengan mereka dan mereka mulai lebih akrab dengan kita, maka keterusterangan akan hadir secara bertahap sejalan dengan keakraban itu sendiri.

Jadi apa itu ukuran keintiman atau keakraban kita dengan Tuhan? Yakni ketika Tuhan pernah berterus terang mengungkapkan Hati-Nya atas apa yang Beliau tidak sukai dari diri kita. Apalagi jika Tuhan jabarkan itu secara rinci dan terus menerus, berbahagialah. Dan itu sebabnya, pada akhir dari segalanya, mereka yang mengira bahwa mereka mengenal Tuhan namun sebenarnya tidak, akan terkejut dengan keterusterangan-Nya bahwa sesungguhnya Beliau tidak mengenal mereka, sekalipun Tuhan ada bicara dengan mereka setiap hari.

Bukankah si Sulung mengaku setia melayani Sang Ayah tanpa pernah melanggar perintah, lalu mengapa dia tidak bisa ikut dalam kebahagiaan Ayahnya ketika si Bungsu kembali?

Komentar

Postingan Populer