Rabu, 27 Maret 2013

Tiga Masa Perjalanan Kehidupan



Tiga Masa Perjalanan Kehidupan
Preaching By : Ev. Iin Tjipto Wenas


Bahan Renungan :
Keluaran 16 : 1 – 3 dan 1 Samuel 18 : 6 – 13

Renungan :
Setiap dari kita anak – anak Tuhan mempunyai tempat, panggilan, fungsi yang spesifik dalam Tuhan. Ketika kita akan mencapai panggilan kita, kita harus melewati beberapa fase perjalanan dalam kehidupan kita yaitu :

1. Fase Penantian (Keluaran 16 : 1 – 3)
Bangsa Israel setelah mereka keluar dari tanah Mesir, ketika mereka akan memasuki Tanah Perjanjian, bangsa Israel harus melalui padang gurun, demikian juga hidup kita ketika kita akan menuju pada panggilan hidup kita, kita akan melewati dimana semuanya dan keadaan serba tidak jelas, semuanya abu – abu itu namanya Fase Penantian.
Ketika bangsa Israel berada di padang gurun, mereka mulai bersungut – sungut dan ngomel kepada Musa dan Harun (Keluaran 16 : 2). Fase Penantian adalah fase di mana kenyataan hidup yang kita alami berbeda dengan Janji Tuhan, pada fase ini kesalahan yang sering dilakukan oleh anak – anak Tuhan adalah mereka menjadi curiga sama Tuhan, kecewa sama Tuhan, mereka bersungut – sungut sama Tuhan dan menjadi tidak percaya sama Tuhan, seringkali kita bernostalgia dengan masa lalu kita yang nyaman dan tidak ada penderitaan yang dihadapi oleh kita.
Ketika Tuhan membawa saya untuk Kuliah ke Negeri Belanda, ada Visi Tuhan untuk saya : Hidup saya sebagai tanda yang ajaib bagi orang – orang yang ada disekitar saya, Tuhan katakan kemanapun kamu pergi akan ada persekutuan – persekutuan yang dibuka, kamu akan jadi berkat buat Belanda.
Namun kenyataannya dalam setahun pertama tidak ada persekutuan yang dibuka, bahkan saya kehilangan iman saya, saya mulai menyukai lagu – lagu dunia, saya kehilangan saat teduh, saya sempat berpikir bahwa semua nubuatan yang diberikan adalah salah.
Pada tahun yang ke dua saya tinggal di Belanda, saya menemukan titik balik dalam hidup saya. Iman dan saat teduh saya mulai Tuhan kembalikan dalam hidup saya, ada persekutuan yang dibuka.
Ketika kita berada dalam fase penantian ini, tetaplah setia sama Tuhan, jangan tinggalkan Tuhan.

2. Fase Naik (1 Samuel 18 : 6 – 13)
Daud merupakan seorang anak yang tidak masuk dalam hitungan, ketika Nabi Samuel menemui ayahnya Isai, Samuel berbicara kepada Isai untuk mengumpulkan anak – anaknya, Daud tidak dipanggil dari padang rumput, ketika Samuel melihat anak – anak Isai, ia berkata : Inikah anakmu semuanya ? Isai menjawab : masih tinggal yang bungsu tetapi ia sedang menggembalakan kambing domba.
Samuel menyuruh Isai untuk memanggil Daud, setelah Samuel bertemu Daud, ia langsung tahu bahwa Daudlah yang dipilih Tuhan, lalu Samuel mengambil tabung tanduknya untuk mengurapinya. Daud mendapatkan promosi dari Tuhan.
Setelah masa penantian ini, Tuhan membuka pintu, maka kita memasuki fase naik. Tuhan membuat kebaikan, kemurahanNya dalam hidup kita, Dia menunjukkan setelapak tanganNya pada kita untuk membuat perkara yang besar dalam hidup kita.
Ketika Daud melakukan tugasnya menggembalakan domba – dombanya, selama bertahun – tahun ia tidak mendapatkan promosi bahkan ia terbuang diantara keluarganya, Daud sehari – harinya bergaul dengan kambing dombanya ia juga mengalahkan Beruang dan Singa yang akan menerkam gembalaannya, kemudian Daud tiba – tiba bisa mengalahkan Goliat, Daud mulai mendekati apa yang Tuhan janjikan.
Fase Naik ini tidak dilakukan dalam satu kali ketukan saja, ketika Tuhan mulai membawa kita naik, maka gunung akan kelihatan. Gunung tersebut akan hilang dan tidak kelihatan ketika kita mulai menaikinya. Dalam proses menaikinya ini adalah hal yang tidak mudah, baru sejam saja kita mendaki, kita akan merasakan kelelahan. Jika kita tidak terus naik maka kita tidak akan mendapatkan apa yang Tuhan janjikan dalam hidup kita.
Dalam fase naik ini maka kita akan menemui banyak masalah, kita mulai letih karena permasalahan kita. Ketika Daud mulai diangkat naik setelah ia mengalahkan Goliat, disini Daud mulai mengalami masalah atau intrik terjadi dalam kehidupannya. Saul mulai membenci Daud, karena Daud lebih dielu – elukan oleh rakyat Israel.
Ketika kita mulai memasuki fase naik maka kita akan menghadapi masalah tipu daya, ada banyak hal yang mudah terjadi ketika kita mulai naik, ada orang – orang yang membenci kita dan berusaha menjatuhkan kita dengan tipu daya.
Penipuan, iri hati, kita dijanjikan banyak hal namun semuanya tidak menjadi kenyataan, akan ada banyak orang yang berusaha menjegal atau menghentikan kita  baik itu dari kiri atau kanan, dalam fase naik ini kita harus waspada. Jika fokus kita berubah maka kita akan turun.
Tuhan menginginkan agar kita tetap fokus sama Dia apapun yang terjadi dalam kehidupan kita supaya kita bisa mencapai garis akhir. Fase naik ini kita bisa mengalami berulang kali karena kita merasa capai, lelah, letih.
Dalam kehidupan ini kita akan mengalami beberapa puncak, tidak hanya satu puncak. Puncak didalam hidup kita bisa bermacam – macam, puncak adalah masa sedikit mendatar, ditempat itu kita bisa melihat pemandangan yang indah, tetapi masih ada puncak yang sesungguhnya. Banyak orang berhenti ditempat yang ada sedikit dataran itu dan tidak melanjutkan perjalanannya.
Puncak sama dengan Plato, jangan pernah berhenti sejenak atau sementara. Ditempat ini kita akan menikmati sedikit fasilitas, fasilitas bisa mengikat kita dan kita mendewakan fasilitas tersebut dan bisa merusak banyak hal. Fasilitas itu bisa Uang, Mobil, Laptop, BB, Android, Smartphone, DVD dan sebagainya.
II Samuel 11 : 1 – 3 Daud mengalami posisi yang nyaman, ia tidak ikut berperang, pada saat raja – raja pergi untuk berperang, Daud tidak ikut berperang ia tinggal di istananya. Ketika ia di atas sotoh istananya, ia melihat batsyeba, sehingga kejatuhan terjadi. Kemalasan mulai menyerang Daud, jangan sampai fasilitas membuat kita malas dan tidak efektif. Ketika kita berada di posisi puncak jangan kita mempunyai mental bos.   
Seorang Ibu yang sudah menjadi pengusaha sukses, mempunyai kekayaan yang berlimpah dan mempunyai banyak staf di kantornya, namun ia tetap melakukan checking staf kantornya, checking setiap jumlah pemasukan, pemesanan barang dan sebagainya, ia juga masih melakukan marketing sendiri walaupun dikantornya sudah ada staf marketing, walaupun sangat sibuk, ia juga masih bisa melayani Tuhan, menyiapkan makanan untuk keluarganya dengan memasaknya, ia  juga nyetir mobil sendiri walaupun ada supir pribadi. Ibu ini tidak menjadi malas dengan segala fasilitas yang dia punya, bahkan untuk urusan penyediaan bahan masakan di dapur ia sendiri yang menyiapkannya.
Jangan sampai setiap fasilitas yang Tuhan berikan kepada kita membuat kita menjadi malas. Kita harus hati – hati jika berada di tempat yang mendatar atau plato, jangan sampai rohani kita tertidur. Hati – hati jangan sampai kita tidak mempunyai visi, cita – cita, panggilan dan bahkan api yang membara mulai padam, karena iblis mulai menyodorkan kekuasaan, harta dunia yang melimpah, tahta, pria atau wanita.
Hati – hati jika kita berada di puncak jangan sampai kita jatuh oleh karena kesombongan. Ada banyak tokoh dalam Alkitab yang jatuh karena Kesombongan; Raja Uzia, Raja Hizkia, Raja Nebukadnezar mereka jatuh karena kesombongan.



3. Fase Menurun (1 Samuel 30:6,10)
Kehidupan Kekristenan kita ada kalanya Tuhan membawa kita pada fase naik, ada kalanya kita dibawa ke fase yang menurun. Daud juga mengalami namanya fase menurun, ia pernah mengalami masa terjepit di Ziklag, ia tahu bahwa keadaan sedang terjepit dan terkepung musuh namun Daud menguatkan kepercayaannya pada Tuhan.
Ketika kita mengalami fase menurun itu tidak enak, kita mengalami kekeringan baik secara rohani dan jasmani. Dalam fase ini sering kali kita mengalami keadaan ekonomi yang memburuk, sudah banyak berkorban tetapi masih juga mengalami fitnahan sehingga nama baik kita jadi jelek dan sebagainya. Seolah – olah kita menjadi batu sandungan karena keadaan kita memburuk, padahal kita sudah sungguh – sungguh mengasihi Tuhan.
Ketika Daud berada di daerah Filistin, ia hanya mempunyai 400 orang yang menjadi pasukannya, sedangkan ia mempunyai istri dan anak – anak dan penghasilan yang banyak. Daud mengalami namanya ditawan, ia mau dilempari batu, hal ini merupakan fase – fase yang tidak enak yang dialami oleh Daud.
Fase naik itu datang dengan tiba – tiba demikian juga fase menurun datang juga secara mendadak, tiba – tiba engkau mengalami hal yang buruk terjadi dalam hidupmu, terjepit, orang – orang yang sangat dekat dengan engkau tiba – tiba menjauh bahkan engkau dilempari dengan ”batu”. Dalam fase ini kita harus menguatkan diri kepada Tuhan seperti Daud. Kita harus menguatkan iman kita, kasihmu pada Tuhan.
Janganlah kita menjadi lelah seperti banyak orang yang mengalami fase menurun, tetap mengikuti Tuhan dan jangan berhenti. Amin.

Jatiwangi, 27 Oktober 2012
By His Grace,

Joshua Ivan Sudrajat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar