PENDETA DI PERU YANG DIHUKUM DINAMIT

PENDETA DI PERU YANG DIHUKUM DINAMIT

Dikutip dari sebagian kotbah Ev. Yusak Tjipto.

 Copas : Althur Robertiga


Peristiwa ini terjadi di Peru, suatu desa diserbu oleh pasukan pemberontak, orang-orang percaya di desa itu dikumpulkan lalu diberi 2 pilihan: 1. Keluar dari daerah ini atau 2. Bila tidak keluar semuanya akan dibunuh, pasukan pemberontak memberi waktu 3 hari untuk siap-siap.

Orang-orang percaya itu kemudian berdoa bersama-sama untuk meminta petunjuk Tuhan Yesus,
"sebaiknya pergi atau tidak menurut Tuhan..?"

Ternyata Tuhan berbicara: "Tetap tinggal tenang".

Bila saudara dijawab begitu oleh Tuhan tentu saudara berpikir pasti ada mukjizat, benar kan..?

Tetapi pikiran saudara bukan pikiran Tuhan. Pada hari ke 3 para pemberontak itu datang kembali.

Pemberontak: "Pilih dibunuh atau pergi ?"

Orang-orang desa itu menjawab: "Kami disuruh Tuhan untuk tetap tinggal tenang"

Pemberontak: "Kalau begitu berarti menantang.!"

Pemberontak: "Oke, kalau begitu dimulai saja dibunuh satu demi satu", dimulai dari pendetanya dulu (yah, nasibnya pendeta).

Pendetanya diambil dibawa ke lapangan tapi tidak ditembak tapi didudukkan di kursi, diikat lalu dibawahnya dipasangi dinamit, dinamitnya tidak kecil tapi besar, semua jemaatnya menangis, pendetanya kan punya istri dan anak, istri dan anaknya kira-kira berkata:

"Haleluya" atau "menangis saudara.. ?"

Bila hal itu menimpa saudara maka pendapat saudara sebaiknya pergi atau mati ?, biarpun sudah ada firman lho "tinggal tenang", berani ?, ngomong sih gampang tapi bila mengalami sendiri ngeri apa tidak.. ?.

Pendeta itu berkata: "Aku sudah siap untuk pulang",
iya dia siap tapi anak dan istrinya..?,
lalu para pemberontak itu berseru: "Sudah siap..?, mau tetap tinggal ?",
jawab pendeta: "Ya, tetap tinggal".

Lalu saudara membayangkan itu dinamit nantinya tidak bisa meledak begitu..? Itu pikiranmu, bukan pikiran Tuhan. Kalau pikiran Tuhan meledak saudara.

Lalu dinamit diledakkan dan meledak dashyat saudara, potongan-potongan kursinya terbang dan berjatuhan ke tanah, semuanya serpihan yg kecil-kecil tidak ada yg besar, sambil menunggu asapnya menghilang, para pemberontak bersorak-sorai, tapi anak-anak Tuhan menangis.

Tapi setelah asap mulai menipis terlihat tangan pendeta terangkat keatas, setelah asap menghilang terlihat pendetanya berseru:

"Halleluya", dia hidup saudara !, sekarang ganti pemberontaknya yg diam tapi jemaatnya yg bersorak-sorai: 

"Halleluyah".

Kemudian para pemberontaknya kabur semua, mengapa ?, lha wong didinamit aja tidak mempan apalagi ditembak ya pasti tidak mempan to !.

Cara berpikir Tuhan bukan cara berpikirmu, Tuhan ingin kita rela mati untuk Tuhan Yesus baru nanti kita mendapat nyawa karena Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati

Komentar

Postingan Populer