Yehuda

YEHUDA



I. Yehuda, putra Yakub

    Putra Yakub yang ke-4 dari Lea (Kej 29:35) disebut Yehuda ( יְהוּדָה - YEHUDAH); arti nama itu diterangkan di sana sebagai 'bersyukur', akar katanya dari ידה - YADAH, yang artinya 'bersyukur kepada atau memuji'. Kejadian 49:8 bermain kata tentang pengertian ini. Banyak ahli menolak muasal akar kata itu, tapi tak satu pun etimologi lain yang sudah disarankan yang diterima secara umum (mengenai kepustakaannya, lihat Kohler dan Baumgartner, Lexicon in Veteris Testamenti Libros).

    Yehuda sudah sejak dini memimpin kakak-adiknya, seperti terungkap dalam cerita Yusuf (Kejadian 37:26-27; 43:3-10; 44: 16-34; 46:28). Kejadian 38, walaupun hanya sekilas menerangkan permulaan suku Yehuda, tapi jelas menunjukkan pertentangan sifat Yehuda dengan sifat Yusuf. Dan walaupun Kejadian 49:8-12 bukanlah harfiah menjanjikan kerajaan kepada Yehuda, dan kendati hanya menjanjikan kepemimpinan, kemenangan, dan stabilitas suku itu, tapi janji mengenai 'dia yang berhak atasnya' pada akhir sekali mencakup kerajaan. Silsilah keturunan Yehuda terdapat dalam 1 Tawarikh pasal 2-4.

      Image

    Nama Yehuda digunakan untuk suku Israel yang tinggal di Palestina Selatan, dan kemudian juga dipakai sebagai nama daerah itu dan Daud diurapi sebagai Raja Yehuda (2 Samuel 2:4), namun setelah merebut Yerusalem, ia juga menjadi raja wilayah Utara (Israel), dan dengan demikian, keduabelas suku Israel dipersatukan hingga kematian Salomo. Setelah perpisahan atau perpecahan (922 sM), terjadi perang saudara antara Kerajaan Yehuda (Israel Selatan) dan Kerajaan Israel (Israel Utara). Namun, posisi geografis Yehuda memberi keuntungan untuk bertahan, dan ketika Israel serta negara-negara lainnya dilibas oleh Asyur, Yehuda tetap bertahan, bahkan ketika Sanherib menyerbu Yerusalem pada 701 sM. Sejarah keagamaan negara ini silih-berganti antara kolusi dengan penduduk non-Israel, dengan jalan melegalkan penyembahan barhala ala Kanaan, seperti pada masa pemerintahan Hizkia (727-698 sM; 2 Raja 18:2) dan Yosia (639-609 sM; 2 Raja 22:3-20). Yosia terbunuh di Megido ketika berupaya mencegah pasukan Mesir yang bermaksud membantu Asyur yang merana akibat serangan Babel yang sedang menanjak (2 Raja 23:29). Setelah Babel mengalahkan Mesir di Karkhemis pada 605 sM, Kerajaan Yehuda (Israel Selatan) menjadi wilayah kekuasaannya, namun Raja Yoyakim memberontak, dan Yerusalem jatuh ke tangan Babel pada bulan Maret 597 sM, diikuti pembuangan penduduk yang terkemuka ke Babilon (Babel). Lebih serius lagi, pemberontakan Zedekia berikutnya menyebabkan Nebukadnezar menyerang Yerusalem selama dua tahun dan menghancurkan kota itu pada 586 sM, diikuti dengan pembuangan sebagian besar penduduknya (2 Raja 25:11), meskipun Nabi Yeremia, yang lebih senang menyerah kepada Babel, ditangkap oleh sekelompok nasionalis dan bersama mereka dilarikan ke Mesir. Sebagai kerajaan mandiri, Kerajaan Yehuda (Israel Selatan) berakhir hingga kaum Makabe berhasil menyingkirkan kuk Seleukid. Kemudian lahirlah Kerajaan Hasmonean Yehuda yang mandiri, dari 164 sM hingga kemenangan Pompey pada 63 sM.

    Dari nama Yehuda, dikenal nama Yudea, yaitu bentuk Latin dan Yunani untuk "Yehuda". Kadang-kadang Yudea diartikan seluruh Palestina, sebagai wilayah Herodes Agung (37-34 sM). Pada zaman PB, Arkhelaus, anak Herodes, memerintah sebagai kepala wilayah Yudea (4 sM-6 M), yang tidak meliputi Galilea dan Perea. Namun, setelah Arkhelaus, Nama daerah Yudea menjadi bagian Kerajaan Romawi, provinsi Siria, yang diperintah oleh seorang gubernur atau prokurator Romawi, yang berkedudukan di Antiokia. Kadang-kadang PB menggunakan "Yudea" dalam arti politis yang lebih luas (mis. Matius 19:1) yang mencakup Perea, daerah sebelah timur Yordan, berbatasan dengan Samaria, dan bukan menjadi bagian "Yudea" yang diperintah Romawi. (Perea, Galilea, dan Samaria, diperintah oleh Herodes Antipas.)
    Catatan mengenai Yehuda:
      Arti nama : Pujian
      Ayah : Yakub - Kejadian 29:35; 35:23
      Ibu : Lea - Kejadian 29:35; 35:23
      Istri : Syua - Kejadian 38 ; 3-5, 27-30 (berhubungan dengan Tamar)
      Anak laki-laki : Er, Onan, Sela, Forez dan Zara - Kejadian 38:3-5, 27-30
      Saudara laki-laki : Saudara kandung : Ruben, Simeon, Lewi, Isakhar dan Zebulon - Kejadian 35:23
      Saudara perempuan : Dina - Kejadian 30:21
      Keturunan : Kristus - Kejadian 49:10, Ibrani 7:14
      Disebut pertama : Kejadian 29:35
      Namanya disebut : 43 kali
      Kitab yang menyebut : 8 buku : Kejadian, Keluaran, Bilangan, Rut, 1 Tawarikh, Nehemia, Matius dan Lukas
      Tempat kelahiran : Haran - Kejadian 29:4, 35
      Terakhir disebut : Lukas 3:33
      Fakta penting : Ia putra Yakub yang ke-empat dan menurut garis keturunannya lahir Yesus Kristus (Kejadian 49:10, Ibrani 7:14)


II. Orang-orang lain dengan nama yang sama

    Sesudah Pembuangan ke Babel nama 'Yehuda' menjadi salah satu nama yang makin digemari di antara orang Yahudi. Ada 5 orang lagi dalam Perjanjian Lama (PL) memakai nama ini, yaitu :

      1. Seorang Lewi, leluhur Kadrniel (Ezra 3:9), Mungkin bapak atau anak Hodawya (Ezra 2:40);
      2. Seorang Lewi yang pulang bersama Zerubabel (Nehemia 12:8);
      3. Teman sebaya Ezra, dari suku Lewi (Ezra 10:23);
      4. Seorang Benyamin yang berjiwa pemimpin pada zaman Nehemia (Neh 11 :9);
      5. Seorang imam pada zaman Nehemia(Neh 12:36).

    Dalam Nehemia 12:34 boleh jadi anggota suku ini pada umumnya disebut dengan nama 'Yehuda'. Dalam PB nama itu diganti dengan Yudas, yaitu bentuk yang di-Helenis-kan, Bentuk Ibrani (Yehuda) dipertahankan untuk garis leluhur Yesus yang disebut dalam Matius 1 :2-3 dan Lukas 3:30.
     
III. Suku Yehuda


a. Dari masa Keluaran sampai raja Saul

Tidak ada peranan khusus suku Yehuda dalam peristiwa Keluaran dan pengembaraan di padang gurun, namun perlu diperhatikan bahwa suku ini berada di barisan paling depan (Bilangan 2:9). Dalam kedua cacah jiwa yang dilakukan pada masa ini (Bilangan :27; 26:22) tidak ada perubahan yang berarti.

Akhan, dari suku Yehuda, adalah penyebab kekalahan Israel menghadapi bangsa Ai (Yosua 7). Boleh jadi inilah alasan menimpakan tugas khusus kepada Yehuda untuk melakukan serangan tersendiri terhadap bangsa-bangsa Kanaan (Hakim 1: 1-2). Memang tidakada keterangan yang diberikan, tapi jelas bahwa bagian milik pusaka Yehuda tidak ditentukan dengan undi di Silo (Yosua 18:1-10) sebelum negeri itu ditaklukkan (Hakim 1 :3). Milik pusaka Yehuda dibatasi di utara oleh milik pusaka suku Dan dan Benyamin, di sebelah timur oleh Laut Mati, di sebelah barat oleh Laut Tengah, di sebelah selatan oleh keempat desa Gibeon (Yosua 9: 17) dan meluas sejauh lahan yang dapat ditanami (bandingkan Yosua 15).

Mula-mula Yehuda menaklukkan bagian terbesar dataran pantai, yang tidak lama kemudian diduduki oleh orang Filistin (Hakim 1:18), tapi mereka segera menarik diri dari pertempuran (Hakim 1:19; 3:3; Yosua 11:22; 13:2-3). Karena daerah yang terbaik itulah yang ditentukan menjadi milik pusaka Yehuda tapi kemudian dengan ikhlas diberikannya kepada Simeon (Yosua 19: I, 9), maka sangat mungkin bahwa Yehuda mengharapkan daerah Simeon itu menjadi penyanggah antara Yehuda dan dataran pantai yang belum ditaklukkan.

Penaklukan daerah selatan yg dicatat dalam Hakim 1: 1-17 ditafsirkan sangat luas seolah-olah mengandung pengertian, bahwa Yehuda (dan suku-suku lain) memasuki tanah Kanaan dari selatan sebelum penyerbuan Yosua (bandingkan H.H Rowley, From Joseph to Joshua, 1950, hlm 4 dst, 101 dst, 110 dst, dengan kepustakaannya), tapi seluruh perkembangan 'arkeologi modern kelihatannya tidak mendukung teori ini, yang memang tidak dapat diterima berdasarkan alasan-alasan lain, yang bersifat umum.

Kegagalan mempertahankan Yerusalem (Hakim 1:8,21), ditambah adanya empat desa Gibeon yg setengah merdeka (Yosua 9; 2 Samuel 21: 1-2), menciptakan kendala psikologi antara Yehuda dan suku-suku yang bermukim di pusat. Walaupun tidak ada rintangan untuk melintasi negeri ini (bandingkan Hakim 19:10-13), Yehuda makin lebih mengarahkan pandangannya ke selatan ke Hebron, daripada ke tempat kudus yang di Silo. Dan kendati hakim pertama berasal dari suku Yehuda, yaitu Otniel (Hakim 3 :9-11), dan Yehuda turut dalam gerakan menentang Benyamin (Hakim 20: 18), agaknya ia tidak diharapkan turut dalam gerakan melawan Yabin dan Sisera (Hakim 5). Akibatnya, tatkala Yehuda harus membayar upeti kepada Filistin (Hakim 15: II), nampaknya mereka tidak mengharapkan reaksi dari suku-suku lain, dan suku-suku lain itu pun agaknya tidak memusingkannya.

Fakta keterpisahan ini agaknya diterima secara umum, sebab pada zaman Saul kontingen Yehuda dihitung terpisah (I Samuel 11:8; 15:4; 17:52; 18:16).


b. Pada zaman Daud dan Salomo

Sesudah kematian Saul perpecahan yang semakin meruncing itu dilestarikan lagi dengan dimahkotainya Daud menjadi raja Yehuda di Hebron (2 Sam 2:4). Boleh jadi A Alt benar dalarn mengemukakan ('The Formation of the Israelite State in Palestine', Essays on DT History and Religion, 1966, hlm :461 dst) bahwa pemahkotaan Daud menjadi raja atas 'seluruh Israel' (2 Samuel 5:1-5), membuat dia raja dari dua kerajaan yang di dalamnya Yehuda mempertahankan identitasnya terpisah. Memang benar, selama pemberontakan Absalom agaknya Yehuda mempertahankan kenetralannya, sedang bagian utara mengikuti pemberontak.

Tak ada bukti bahwa Yehuda diistimewakan oleh Salomo jika dibandingkan dengan suku-suku lainnya, sebab kalimat 'dan dialah satu-satunya kepala daerah yang ada di tanah itu' (l Raj 4: I 9), menunjuk kepada Yehuda saja.


Artikel terkait :
III. DAUD DAN SALOMO, di israel-vt134.html#p274

YAHUDI, di yahudi-vt137.html#p280

NUBUAT TENTANG MESIAS : 7. SUKU YEHUDA, di nubuat-pl-tentang-mesias-terpenuhi-dalam-diri-yesus-kristus-vt2217.html#p11950

DAUD, di daud-vt3003.html#p16839

SALOMO, di salomo-vt738.html#p1723IV. Kerajaan Yehuda


a. Hubungannya dengan Kerajaan Israel (Israel Utara)

Jika pandangan A AIt benar, maka Yehuda dan Israel dalam mengangkat raja-raja yang berbeda, bertindak sesuai hak-hak mereka sebagai kekuatan politik yang sah dan terpisah-pisah. Kecuali Yerobeam, kelihatannya raja-raja Israel tidak menginginkan keruntuhan Yehuda (bandingkan 2 Raja 14:13-14), dan tak pernah para nabi mempersoalkan hak keberadaan Israel sebagai satu kerajaan, walau mereka sudah terlebih dahulu melihat saatnya Israel akan kembali taat kepada 'Daud'.

Warisan kekayaan peninggalan Salomo kelihatannya menopang Yehuda saat terjadinya perpecahan, kendati tanahnya kurang subur dan penduduknya sedikit dibandingkan penduduk kerajaan Utara. Walaupun ada yg mengatakan kebalikannya, tapi tidak ada bukti bahwa kemudian Rehabeam melanggar perintah Semaya (1 Raja 12:22-24) sehingga menyerang Yerobeam. Isyarat bahwa serangan Sisak terhadap Yehuda (1 Raja 14:25-26) bermaksud menopang Yerobeam, sekutunya itu, tak mempunyai bukti positif. Lenyapnya harta kekayaan peninggalan Salomo sebagai akibat serangan Sisak, dan walaupun kelihatannya Israel juga menderita kerugian akibat serangan Sisak itu, menunjukkan bahwa sekarang dalam hal kekayaan harta benda Yehuda tetap berada pada posisi lebih rendah dibandingkan Israel. Kenyataan membuktikan bahwa Yehuda membutuhkan Israel yang makmur untuk kemakmurannya sendiri.

Suatu tolok ukur kejayaan mutlak Yehuda - jadi bukan yang relatif, ialah kemampuannya menguasai Edom, atau mengerahkan tenaga sejauh yang diperlukan untuk melindungi jalur perdagangan ke Teluk Akaba. Rehabeam tidak berusaha melanjutkan tuntutan bapaknya yang kurang beralasan atas daerah itu. Nampaknya Yosafat-lah yang menundukkan seluruh negeri itu (1 Raja 22:47), tapi kemudian dia harus mengangkat seorang raja bawahan (2 Raja 3:9, 'raja Edom').

Pada pemerintahan Yoram, anaknya, Edom mendapat kemerdekaannya kembali (2 Raja 8:20-22). Kira-kira setengah abad kemudian Amazia menaklukkan Edom lagi (2 Raja 14:7). Sekali ini penaklukan itu lebih berhasil, sebab barulah pada masa kesukaran dalam pemerintahan Ahas, yaitu 60 thn kemudian, Edom berhasil membebaskan dirinya (2 Raja 16:6). Sesudah saat ini agaknya tak pernah lagi Yehuda berusaha menaklukkan Edom.

Hanya kemenangan Abia (Abiam) yang begitu menentukan yang memulihkan keseimbangan kedua kerajaan itu. Asa, yang berhadapan dengan Baesa yang kuat, dapat mempertahankannya hanya dengan mempersekutukan dirinya dengan Ben-Hadad, raja Damsyik (1 Raja 15:18-20).

Dinasti Omri, yang terancam oleh kekuasaan Damsyik yang makin meningkat, dan lebih-lebih lagi oleh Asyur, berdamai dengan Yehuda, yang kemudian dikukuhkan oleh perkawinan Atalya, putri Ahab, atau barangkali adiknya (2 Raja 8:26), dengan Yoram. Banyak yang berpendapat bahwa pada saat ini Yehuda merupakan taklukan Israel. Sebaliknya kenyataan mengisyaratkan bahwa Yosafat memanfaatkan Israel sebagai daerah penyanggah antara dia dan Asyur. Inilah keterangan yang paling mungkin mengapa Yehuda tak terdapat baik dalam daftar musuh-musuh Salmaneser pada pertempuran Karkar, maupun di 'Tiang Batu Hitam'. Agaknya dia mengamati dulu, kecuali pertempuran di Ramot-Gilead (1 Raja 22:1-38) sebagai satu-satunya kekecualian, sementara Israel dan Damsyik bertempur mati-matian saling menghancurkan. Maka menjelang akhir pemerintahannya yang panjang, Yosafat merasa cukup kuat menolak permintaan Ahazia melakukan usaha gabungan ke Ofir, sesudah usaha pertama gagal (1 Raja 22:48-49; bandingkan dengan 2 Tawarikh 20:35-37). Kekuatan kedua kerajaan itu agak berimbang saat ini terlihat pada kenyataan bahwa Yehu, yang sudah membunuh Ahazia, raja Yehuda (2 Raja 9:27), tidak berani melancarkan gerakan anti-Baalnya di tanah Yehuda, dan pada pihak lain, Atalya tidak berusaha membalaskan kematian anaknya itu.

Dalam kurun waktu antara penobatan Yehu naik takhta dan kematian Yerobeam II dan Uzia, agaknya keadaan Yehuda sama dengan Israel, baik dalam penderitaan maupun keberuntungan. Boleh jadi keberuntungan datang terlambat ke selatan, dan alpanya kemujurannya itu diungkapkan beberapa saat kemudian daripada di Israel.

Artikel terkait :
ISRAEL, di israel-vt134.html#p271
IV. KERAJAAN ISRAEL (Israel Utara), di israel-vt134.html#p275


b. Musuh-musuh luar negeri yang terdahulu

Sampai kepada runtuhnya kerajaan Israel, Yehuda secara istimewa tidak goyah oleh ancaman dari luar. Serbuan Sisak adalah goncangan terakhir dari pihak penguasa Mesir kuno, dan kebangkitan Asyur hanya memaksa Yehuda untuk membenahi pertahanannya. Orang Filistin sudah sedemikian lemahnya, sehingga tampil sebagai penyerang hanya bila Yehuda berada pada keadaan -paling lemah, yaitu pada zaman Yoram (2 Tawarikh 21: 16) dan Ahas (2 Tawarikh 28: 18). Pada puncak kekuasaan Hazael, tatkala Israel sudah hampir dimusnahkannya, Yoas dipaksa membayar upeti kepada Damsyik, tapi ini tak dapat berlangsung lama. Kedua ancaman paling berbahaya pada saat ini ialah serangan-serangan mendadak bangsa-bangsa pengembara dan semi pengembara dari gurun pasir yang dilancarkan secara periodik. Zerah, 'orang Etiopia itu' (2 Tawarikh 14:9) lebih mungkin adalah orang Arab (bandingkan Kejadian 10:7) ketimbang orang Etiopia, yaitu seorang Sudan. Bahaya kedua adalah serangan mendadak penduduk padang tandus Transyordan (2 Tawarikh 20:1, 10).


c. Yehuda dan Asyur

Sudah dikatakan.di atas bahwa kebangkitan Asyur terdahulu tidak mempengaruhi Yehuda. Tatkala Damsyik dan Israel menyerang Ahas (2 Raj 16:5), itulah usaha terakhir untuk mempersatukan sisa-sisa negeri-negeri Asia Ba'fat untuk menghadapi kebangkitan Tiglat-Pileser III. Tak ada alasan untuk menyangka Yehuda terancam' oleh Asyur, sebab sebelum Asyur tampil menentang Mesir, mereka tidak akan gegabah buru-buru bergerak menuju perbatasan gurun pasir. Dengan mengakui keunggulan Asyur secara nyata Ahas memeteraikan nasib Yehuda. Di satu pihak Yehuda tetap menjadi bangsa taklukan sampai dapat diduga kehancuran Asyur yg makin mendekat (612 sM);di pihak lain, Yehuda terjaring dalam persekongkolan yang diprakarsai oleh Mesir, dan akibatnya Yehuda menderita secara wajar.

Pemberontakan Hizkia pada thn 705 sM, yang dipadamkan oleh Sanherib 4 tahun kemudian, menciutkan Yehuda menjadi tinggal bayang-bayang dari dirinya semula. Paling sedikit dua pertiga penduduknya meninggal atau .dibawa sebagai tawanan, dan bagian terbesar daerahnya hilang. Mengenai perinciannya lihat J Bright, AHistory of Israel, 1960, hlm 267-271, 282-287.


d. Bangkit kembali, kemudian runtuh

Gelora keagamaan dan nasionalisme bangkit kembali pada pemerintahan raja Yosia yang muda, segera sesudah Asyur-banipal meninggal (thn 631 sM), tatkala kelemahan Asyur makin parah dan nyata. Usaha-usaha pembaruan seperti dicatatdalam 2 Tawarikh 34:3, 8 menunjukkan bagaimana agama dan politik saling terkait, sebab setiap kebijakan pada dirinya adalah penolakan akan agama Asyur, dan itu berarti menolak kekuasaan politik Asyur. Menjelang puncak pembaruan itu pada thn 621 sM, Secara nyata Yosia sudah merdeka, dan praktis tidak lagi membayar upeti kepada Asyur. Dengan atau tanpa izin penguasa Asyur - tuannya yang sudah tidak berkuasa lagi, Yosia mengambil alih propinsi-propinsi Asyur, yaitu Samaria dan Galilea Timur (2 Tawarikh 34:6) dan tanpa ragu-ragu merebut kembali daerah yg hilang pada zaman Hizkia sebagai hukuman karena pemberontakannya. Tak ada bukti yang dapat dipercaya bahwa serbuan orang Skit, yang menimbulkan luka yang begitu mematikan pada Asyur, mempengaruhi atau melanda Yehuda.

Tak ada tanda bahwa untuk membantu Asyur pada thn 616 sM Yosia menentang gerakan militer Firaun Psamatik, tapi waktu gerakan militer itu diulangi oleh Firaun Nekho pada thn 609 sM, Yosia tahu jelas bahwa dalam suasana baru internasional kebijakan satu-satunya untuk mempertahankan kemerdekaan Yehuda ialah berperang. Dalam pertempuran berikutnya di Megido ia menjumpai ajalnya. Tidak ada bukti bagi pendapat bahwa dia bersekutu dengan Babel yg bintangnya sedang cemerlang, walaupun itu mungkin.

Mesir menunjukkan keperkasaannya dengan menurunkan Y oahas, anak Yosia dari takhta dan menggantinya dengan adiknya, Yoyakim, tapi dia harus mengakui Babel sebagai tuan segera.sesudah Nebukadnezar menang dalam pertempuran di Karkemis (thn 605 sM; Daniel 1:1; 2 Raja 24:1).

Tahun 601 sM serangan Nebukadnezar dipatahkan oleh Nekho dalam suatu pertempuran dekat perbatasan Mesir, dan sewaktu Nebukadnezar mundur ke Babel, Yoyakim memberontak. Yehuda dihancurkan oleh tentara Babel dan sekutunya (2 Raja 24:2). Yoyakim mati dengan cara yang kurang jelas dalam bln Desember 598 sM, sebelum ia menjalani tuntas seluruh hukuman yang ditimpakan kepadanya karena pemberontakannya itu. Dan Yoyakhin, anaknya yg berumur 18 thn, menyerahkan Yerusalem kepada Nebukadnezar pada tgl 16 Maret 597 sM.

Zedekia - adik dari Yoyakim - menjadi raja Yehuda yang terakhir, tapi ia memberontak pada thn 589 sM. Menjelang Januari 588 sM tentara Babel sudah di depan tembok-tembok Yerusalem. Bulan Juli 587 sM tembok-tembok itu diruntuhkan dan Zedekia ditangkap. Ia dihukum sebagai pengkhianat (2 Raja 25:6-7); sebulan kemudian kota itu dibakar habis dan tembok-temboknya dihancurkan sama sekali.


e. Hidup keagamaan dalam zaman kerajaan Israel

Agama rakyat di Yehuda boleh jadi direndahkan dengan pengertian-pengertian agama alam seperti di Israel, tapi keterasingan Yehuda yang relatif dan keterbukaannya terhadap padang gurun membuat Yehuda kurang dipengaruhi oleh bentuk-bentuk agama Kanaan. Kurangnya tempat-tempat kudus utama - yang kita kenal hanya Hebron dan Bersyeba dan Gibeon di Benyamin - meningkatkan pengaruh Yerusalem dengan Bait Suci Salomonya. Masih dipertanyakan apakah ada raja Israel yang mampu sekalipun hanya mencoba mengadakan pembaruan keagamaan di pusat Yerusalem seperti Hizkia dan Yosia. Perjanjian Allah kepada Daud (2 Samuel 7:8-16), yang jauh melebihi suasana umum dari 'Tanah Sabit yang Subur', membuat raja Yehuda menjadi pemimpin mutlak agama nasional, kendati ia tidak boleh melakukan tugas-tugas ibadah keagamaan (2 Tawarikh 26:16-21).

Kekuasaan raja nampaknya dapat digunakan untuk tujuan-tujuan baik, seperti pembaruan, tapi jika kebijaksanaan nasional kelihatannya menuntut supaya menerima penyembahan Baal, seperti pada zaman Yoram, Ahazia dan Atalya, atau supaya mengakui dewa-dewa bintang Asyur, seperti pada zaman Ahas dan Manasye, tak ada kekuasaan yang mampu menolak kehendak raja. Kekuasaan raja dalam ihwal agama, menjerumuskan ibadah resmi menjadi umumnya hanyalah lahiriah dan formalitas saja.


f. Pembuangan (597-538 sM)

Di luar jumlah tawanan biasa yang tidak dirinci, yang dimaksudkan menjadi budak-budak, bagian inti penduduk Yehuda dibuang oleh Nebukadnezar pada thn 597 sM (2 Raja 24:14; Yeremia 52:28; perbedaan jumlah haruslah dikaitkan dengan perbedaan golongan-golongan tawanan yang dimaksud). Sekelompok kecil, termasuk keluarga raja, menjadi 'tamu' raja Nebukadnezar di Babel; orang-orang lain, umpamanya nabi Yehezkiel, tinggal dalam kelompok-kelompok persekutuan di Babel, dan di situ kelihatannya mereka mempunyai kebebasan penuh, kecuali untuk pindah tempat tinggal; para pengrajin yg menjadi bagian angkatan kerja yg mudah bergerak, yang dimanfaatkan oleh Nebukadnezar dalam gerakan pembangunannya. Keruntuhan Yerusalem memperbesar jumlah tawanan (2 Raja 25:11), dan Yeremia 52:29 menunjukkan adanya kelompok lain dari orang-orang buangan untuk maksud tertentu. Pembunuhan Gedalya, yang diangkat oleh Nebukadnezar menjadi gubernur Yehuda, membuat sejumlah besar orang Yahudi lari ke Mesir (2 Raja 25:25-26; Yeremia 41-43:7). Hal ini kemudian pada thn 582 sM disusuli oleh gelombang buangan yg lain ke Babel, yang jelas sifatnya hukuman (Yeremia 52:30).

Akibat pembuangan dan larinya orang Yahudi, tanah Yehuda tertinggal hampir kosong, dan tetap demikian selama suatu kprun waktu (lihat W.F Albright, The Archaeology of Palestine , 1954, hlm 140-142). Daerah sebelah selatan garis Bet-Zur dan Hebron agaknya sudah dirampas dari Yehuda pada thn 597 sM; dan orang Edom berangsur-angsur pindah ke situ. Akibatnya, daerah ini hilang dari tangan Yehuda sampai direbut kembali oleh Yohanes Hirkanus sesudah thn 129 sM, dan ia men-Yahudi-kan penduduknya secara paksa. Sisa-sisanya ditempatkan dalam kekuasaan gubernur Samaria dan tetap dibiarkan hampir kosong. Tidak ada bukti bahwa di kemudian hari ada bangsa-bangsa lain yg menghuninya. Dapat diduga bahwa Nebukadnezar ingin mengikuti kebiasaan Asyur-Babel, yakni meng-'impor' bangsa lain dari daerah taklukan yang lain, tapi entah apa sebabnya ia tidak melakukannya.
Arti Nama Yehuda dalam Alkitab


    * Kejadian 29:35LAI TB, Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN." Itulah sebabnya ia menamai anak itu Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi.KJV, And she conceived again, and bare a son: and she said, Now will I praise the LORD: therefore she called his name Judah; and left bearing. Hebrew,
    וַתַּהַר עֹוד וַתֵּלֶד בֵּן וַתֹּאמֶר הַפַּעַם אֹודֶה אֶת־יְהוָה עַל־כֵּן קָרְאָה שְׁמֹו יְהוּדָה וַתַּעֲמֹד מִלֶּדֶת׃
    Translit, VATAHAR 'OD VATELED BEN VATOMER HAPA'AM 'ODE ET-YEHOVAH (dibaca: 'Adonay) 'AL-KEN QARAH SYEMO YEHUDAH VATA'AMOD MILEDET

Ada 7 orang bernama Yehuda (Ibrani: יְהוּדָה - YEHUDAH) dalam Alkitab:

Yang pertama adalah Yehuda ( יְהוּדָה - YEHUDAH) yang adalah anak keempat Yakub dengan Lea (Kejadian 29:35). Yehuda menjadi menonjol ketika tiga saudara-saudaranya (Ruben, Simeon dan Lewi) mereka kehilangan posisi dalam hirarki kesulungan:

    1. Ruben tidur dengan Bilha - Kejadian 35:22, dan

    2. Simeon dan Lewi membalas pemerkosaan kakak mereka Dina dengan membunuh seluruh penduduk laki-laki dari desa Sikhem, dan penjarahan tempat (Kejadian 34:25).


Perlu dicatat bahwa bentuk feminin dari Yehuda ( יְהוּדָה - YEHUDAH), adalah Yudit/ Judith (Ibrani: יְהוּדִית - YEHUDIT), yang terlahir satu generasi lebih dahulu daripada Yehuda bin Yakub:

    * Kejadian 26:34
    LAI TB, Ketika Esau telah berumur empat puluh tahun, ia mengambil Yudit, anak Beeri orang Het, dan Basmat, anak Elon orang Het, menjadi isterinya.KJV, And Esau was forty years old when he took to wife Judith the daughter of Beeri the Hittite, and Bashemath the daughter of Elon the Hittite: Hebrew,
    וַיְהִי עֵשָׂו בֶּן־אַרְבָּעִים שָׁנָה וַיִּקַּח אִשָּׁה אֶת־יְהוּדִית בַּת־בְּאֵרִי הַחִתִּי וְאֶת־בָּשְׂמַת בַּת־אֵילֹן הַחִתִּי׃
    Translit, VAYEHI 'ESAV BEN-'ARBAIM SYANAH VAYIQAKH 'ISYAH 'ET-YEHUDIT BAT-BE'ERI HAKHITI VE'ET-BASMAT BAT-'EILON HAKHITI

Oleh karenanya bisa berarti bahwa nama יְהוּדָה - YEHUDAH berasal dari יְהוּדִית - YEHUDIT, bukan sebaliknya. Yudit/Judith adalah orang orang Het bibi Yehuda, menikah dengan paman Yehuda: Esau. Ini juga berarti bahwa makna Alkitabiah dari nama "Yehuda" dan "Yudit" mungkin telah dikenakan kepada nama-nama yang ada, dan ejaan mereka diubah agar sesuai makna.

Tokoh-tokoh Alkitab lain yang bernama Yehuda adalah:

    1. Seorang Lewi pada masa setelah pembuangan (post-exilic) Ezra 3:9.
    2. Seorang Lewi yang menceraikan istri yg berasal dari bangsa asing (dalam program pemurnian keturunan Israel oleh Ezra), Ezra 10:23.
    3. Seorang pengawas pada masa stl pembuangan (post-exilic), Nehemia 11:9.
    4. Seorang Lewi yang kembali dengan Zerubabel (Nehemia 12: 8).
    5. Seorang pemimpin pada masa stl pembuangan (postexilic), Nehemia 0:34.
    6. Seorang musisi imam/ kaum imam yang memegang nafiri (Nehemia 12:36).

Nama Yehuda dalam bahasa Yunani adalah Ιουδα - Iouda. Nama Yudas Ιουδας - Ioudas adalah versi Helenis dari nama Ibrani יְהוּדָה - YEHUDAH.


I. Etimologi dari nama Yehuda

    Nama יְהוּדָה - YEHUDAH tampaknya terkait dengan verba יָדָה - YADAH, yang berarti 'bersyukur kepada atau memuji' dan kata הוֹד - HOD, artinya: kemegahan/ keagungan.


    A. Kajian יָדָה - YADAH dan הוֹד - HOD.

      Dua kata יָדָה - YADAH dan הוֹד - HOD adalah 2 kata yang terpisah, tetapi bentuk mereka sangat mirip bahwa ketika salah satu dari mereka muncul dalam nama, bersama dengan unsur-unsur lain dan nampak ada keterkaitannya.

      Aksara di tengah ו - vav dalam kata הוֹד - HOD, dan aksara akhiran ה - he dari kata יָדָה - YADAH dimungkinkan untuk 'dihilangkan' di beberapa konstruksi gramatikal Ibrani, dan aksara י - yod sering muncul di depan akar kata untuk membuat bentuk yang berarti "dia akan .../ he will" atau "biarkan dia .../ let he will" (bentuk future/ yiqtol 3 ms).

      Dalam kajian teks yang biasa, asal kata biasanya dapat dipahami dari konteks tapi karena nama biasanya sering "kekurangan konteks/ konteks-nya tidak begitu jelas" maka kita bisa menganalisanya dalam dua arah. Nama yang mengandung salah satu dari kata-kata ini harus dipahami untuk memiliki dua makna yang lengkap.


    B. Kajian kata הוֹד - HOD

      Nomina הוֹד - HODkemegahan/ keagungan (splendour) berasal dari nomina yg sama הוֹד - HOD, majesty. Teologi Wordbook dari Perjanjian Lama melaporkan bahwa "sejauh ini tidak ada akar terkait dalam bahasa Semit lainnya ditemukan gerobak. Ini adalah unik kata Ibrani."

      Kata benda הוֹד - HOD, umumnya berarti kemegahan, keagungan, kekuatan, kemuliaan atau kehormatan, cukup sering dipakai dalam Alkitab, untuk menunjukkan otoritas atau keagungan raja (Yeremia 22:18) atau seorang nabi seperti Musa (Bilangan 27:20 ), untuk kemegahan ilahi Allah (Mazmur 104: 1), dan kemegahan Israel karena berkat Tuhan (Hosea 14:7 - semarak-nya seperti pohon zaitun).


    C. Kajian kata יָדָה - YADAH

      Verba יָדָה - YADAH berarti: mengaku dan memberi pujian, bersyukur. Buku HAW Theological Wordbook of the Old Testament menuliskan bahwa "makna utama" dari verba ini adalah untuk: mengakui dosa atau mengakui kesalahan; mengakui (apresiasi) karakter Allah dan karya-Nya; atau mengakui (apresiasi) karakter manusia. "'

      Awalnya verba יָדָה - YADAH ini mungkin dimaksudkan untuk "melemparkan dengan uluran tangan" yang secara intuitif - tampaknya harus dilakukan dengan tangan (Ibrani: יָד - YAD), bandingkan dengan kata יָדַד - YADAD, yang berarti: [i]melemparkan/ membuang, dan bandingkan pula dengan nama Daud (Ibrani: דָּוִד - DAVID) yang berhubungan dengan kata דּוֹד - DOD, artinya: yang dicintai/ cinta.

      Arti lainnya dari יָדָה - YADAH, ttg makna "melemparkan" (cast out) dapat ditemukan di Ratapan 3:53 dan Zakharia 2:4. Kemudian kata יָדָה - YADAH memiliki arti yang lainnya, yang berarti pengakuan pribadi terhadap sesuatu (ungkapan apresiasi) atau bahkan "pengakuan dosa" (misalnya dalam Imamat 16:21, Harun meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan (scapegoat) yang mengangkut segala kesalahan Israel).

      Kemudian kata יָדָה - YADAH ini berkembang untuk menunjukkan rasa terima kasih, dan hanya akhirnya datang untuk menunjukkan apa yang kita kenal sebagai pujian. Dan kemudian kita mengenal kata dalam bahasa Ibrani modern: תּוֹדָה - TODAH yang artinya adalah "terima kasih/ thank you). Claus Westermann, seorang theolog, ia berpendapat kata kerja יָדָה - YADAH ini dipergunakan untuk mengucapkan terima kasih: תּוֹדָה - TODAH, karena bahasa Ibrani tidak memiliki kata kerja khusus diperuntukkan bagi ungkapan rasa syukur/ ungkapan apresiasi.

      Kata kerja יָדָה - YADAH ini menghasilkan dua derivasi:


      Nama יְהוּדָה - YEHUDAH yang juga berasal dari verba: יָדָה - YADAH menghasilkan beberapa derivasi:



NAMA-NAMA YANG BERHUBUNGAN DENGAN YEHUDA:

    * Nama laki-laki ♂ : Abihud ( אביהוד atau Abiud - αβιουδ)

    * ♂ Ahihud ( אחיהוד atau ditulis אחיחד )

    * ♂ Ammihud ( עמיהוד )

    * ♂ Ehud ( אהוד atau ditulis אחוד ), nama ini juga digunakan untuk nama kelompok: Bani Ehud.

    * ♂ Eliud (Ελιουδ)

    * ♂ Hod ( הוד )

    * ♂ Hodaviah ( הודויה )

    * ♂ Ishhod ( אישהוד )

    * ♂ Jaddai ( ידי )

    * ♂ Jedaiah ( ידיה atau ditulis ידעיה )

    * ♂ Jehudi ( יהודי )

    * Nama perempuan: ♀ Jehudijah ( יהדיה )

    * Nama laki2/ perempuan: ♂♀Hodiah ( הודיה )

    * Nama kelompok biduan: ♂♫ Jeduthun ( ידותון atau ditulis ידיתון )

    * Nama bangsa/ suku: Jew (Ιουδαιος)

    * Nama tempat ⌂ : Baale-judah ( בעלי יהודה )

    dan lain-lain

Ketika Lea melahirkan Yehuda, ia memberi nama bayinya יְהוּדָה - YEHUDAH, ia berkata : "Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN." Hal ini mungkin dia berarti bahwa Lea menyadari bahwa sebelumnya, ketiga orang putranya yang terdahulu belum membawanya kepada hubungan yang lebih erat dengan suaminya: Yakub (sebab Yakub lebih mencintai Rahel), karenanya Lea harus mengarahkan fokus-nya kepada Tuhan.

Lea menamai anaknya dengan dasar kata kerja menggunakan kata kerja יָדָה - YADAH untuk bayinya יְהוּדָה - YEHUDAH, disitu ada bukti bahwa nama "Yehuda" sebenarnya berasal dari kata kerja itu.

Walaupun tampaknya "nama" יְהוּדָה - YEHUDAH dan kata kerja יָדָה - YADAH tampak sangat berbeda. Tapi melalui kajian konstruksi gramatikal (Bin'yan) tertentu yang disebut Huf'al, kedua kata tsb sangat mirip dan berhubungan. Bentuk terkait Hif'il ( יְהֹודֶה - YEHODEH) dari kata kerja ini ada dalam Nehemia 11:17, kalau dieja identik dengan nama YEHUDAH.

BDB Theological Dictionary "meragukan" koneksi antara יְהוּדָה - YEHUDAH dengan יָדָה - YADAH. BDB mengangap bahwa nama יְהוּדָה - YEHUDAH itu sangat mungkin berasal dalam bahasa lain yang dicangkokkan ke Ibrani. Tapi secara tekhnis gramatik, tampaknya lebih mudah menghubungkan nama YEHUDAH dengan verba YADAH, yang berarti: memuji sesuai dengan kisah historis yang dicatat dalam Kejadian 29:35.

Secara formal, nama יְהוּדָה - YEHUDAH tidak mengandung kata: יָהּ - YAH yang merupakan bentuk singkat dari konstruk Tetragrammaton, nama Tuhan: יְהֹוָה - YEHOVAH. Namun seandainya kita hilangkan aksara ד - dalet, nama יְהֹוָה - YHVH akan muncul :)

Meski BDB meragukan YADAH untuk makna nama יְהוּדָה - YEHUDAH, NOBSE Study Bible memaknakan nama "Yehuda" ini dengan : Let Him (God) Be Praised/ Biarkan Dia (Allah) dipuji.

Dan, dengan kajian kata & gramatik di atas, saya pribadi setuju bahwa nama יְהוּדָה - YEHUDAH berasal dari יָדָה - YADAH. Nama dari suku dimana Sang Mesias kita dilahirkan.



Let our God be praised!
Heleluyah,
Amen.

Sumber : http://www.sarapanpagi.org/yehuda-vt3001.html

Komentar

Postingan Populer