“DIPERLENGKAPI UNTUK KEMENANGAN”

Peperangan Rohani

Loddy Lintong - California





“DIPERLENGKAPI UNTUK KEMENANGAN”



PENDAHULUAN

Berperang seumur hidup. Kita sudah pelajari selama dua pekan terakhir bahwa pertentangan besar antara Setan melawan Kristus merupakan sebuah perang semesta, yaitu peperangan yang medan pertempurannya meliputi langit dan bumi (dimulai di surga dan dilanjutkan di bumi ini), berlangsung sepanjang sejarah planet ini (mulai dari Taman Eden sampai turunnya kota Yerusalem Baru ke dunia ini), dan melibatkan setiap manusia yang pernah hidup di atas bumi ini. Secara pribadi, perang rohani yang kita hadapi adalah peperangan seumur hidup.

Adalah Allah sendiri yang menubuatkan peperangan besar yang berlanjut di dunia ini setelah Setan berhasil menggoda Hawa sehingga memakan buah larangan itu. Allah berfirman kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kej. 3:14, 15; huruf miring ditambahkan).

Ular di Taman Eden itu adalah personifikasi dari Setan atau Iblis (Why. 12:9). Kekalahan Setan di surga tidak serta-merta membuat Setan menyerah, bahkan hal itu telah memicu kegeramannya terhadap Hawa dan keturunan perempuan itu yang diramalkan akan meremukkan kepalanya. “Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu” (ay. 13). Tetapi Setan tidak berhasil, bahkan “Anak laki-laki” dari perempuan itu (Yesus Kristus) kemudian “meremukkan tumitnya” dan mengalahkannya sekali lagi di Salib Golgota. Namun kekalahan Setan itu tidak serta-merta membuat Setan menyerah kalah, sebaliknya dia semakin meningkatkan gempuran-gempurannya. “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus” (ay. 17; huruf miring ditambahkan).

Dengan beralihnya sasaran serangan-serangan Setan yang kini diarahkan kepada “keturunan yang lain” dari perempuan itu, yakni satu umat yang memelihara hukum-hukum Allah dan kesaksian Yesus (kesaksian Yesus adalah roh nubuat, Why. 19:10), maka gempuran Setan menjadi lebih terarah kepada sekelompok orang Kristen yang memiliki dua ciri tersebut. Peperangan semesta itu telah berubah menjadi perang pribadi dari setiap umat Tuhan. Dalam pengertian inilah nasihat rasul Paulus menjadi sangat relevan bagi anda dan saya, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis…Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri” (Ef. 6:11, 13).

“Tujuan utama Setan adalah merebut untuk dirinya sendiri kesetiaan semua orang percaya sejati yang telah diberikan kepada Kristus. Sebelum pertobatan, manusia menjadi milik dari si jahat; dia menguasai mereka. Meskipun pertobatan kepada Kristus melepaskan orang percaya itu dari kekuasaan Setan, hal itu tdak sepenuhnya menghancurkan kuasa Setan. Sebaliknya, Setan meningkatkan usahanya untuk meluluhkan iman kita dan merebut kita kembali kepadanya” [alinea pertama: tiga kalimat pertama].

Ketika menulis surat kepada orang-orang Kristen di Efesus itu, sekitar tahun 60 TM, Paulus sedang berada di penjara Roma yang dijaga ketat oleh serdadu-serdadu Romawi dengan perlengkapan senjata lengkap. Dapat dibayangkan bahwa sambil menulis matanya terus memperhatikan gerak-gerik para prajurit itu yang tampak gagah dan sangat percaya diri. Mungkin dalam benak Paulus ketika itu adalah kerinduan agar setiap umat Tuhan yang mengenakan perlengkapan senjata Allah itu juga akan berperangai penuh percaya diri dan gagah sebagai laskar Kristus, bukan prajurit yang loyo dan rendah diri atau terlihat konyol tanpa perlengkapan senjata.

PERANG PRIBADI (Perlunya Mempersenjatai Diri)


Senjata rohani. Sebuah pepatah mengatakan, It’s not the gun, but the man behind the gun (Bukan senjatanya, tapi orang yang memegang senjata itu). Memang senjata dibuat untuk dioperasikan oleh manusia, tanpa manusia yang menggunakannya maka senjata secanggih apapun adalah sia-sia. Tentu saja peribahasa ini tidak semata-mata berbicara perihal senjata dalam arti kata yang sebenarnya, tetapi sebagai sebuah falsafah hidup tentang pentingnya faktor manusia–tepatnya, ketrampilan manusia–dalam memanfaatkan sarana yang tersedia. Dalam prinsip dan konsep duniawi, “senjata” itu sekadar alat pelengkap dalam mencapai sesuatu tujuan, bukan sesuatu yang paling penting dan terutama. Namun, dalam kehidupan kerohanian justeru “persenjataan” itulah yang lebih penting, “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:12; huruf miring ditambahkan). Kata asli untuk “perjuangan” dalam ayat ini, yang hanya digunakan satu kali dalam seluruh PB, adalah πάλη, palē, sebuah kata-benda feminin yang secara harfiah artinya “gulat” atau “pertarungan antara dua pegulat” yang masing-masing berusaha untuk saling mengalahkan.

“Setiap orang Kristen terbawa ke dalam keadaan ini. Dalam ayat 13 dia menyarankan pembacanya untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah. Hanya dengan senjata Allah kita harus memperlengkai diri kita, dan persenjataan itu sudah disiapkan untuk kita gunakan. Paulus memulai ayat ini dengan kata ‘sebab itu’ yang menunjukkan bahwa di dalam suasana peperangan itu persenjataan tersebut diperlukan. Kemudian Paulus menggambarkan cara di mana orang Kristen harus dipersenjatai dan dengan demikian menggunakan kiasan tentang bagaimana seorang prajurit Romawi dipersenjatai untuk bertempur” [alinea pertama: lima kalimat terakhir].

Rasul Paulus sangat menyadari dahsyatnya peperangan rohani yang semua umat percaya sedang hadapi, termasuk dirinya sendiri dan rekan-rekannya para rasul. Itulah sebabnya dia perlu mengingatkan kita semua secara jelas dan terang. “Jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang?” (1Kor. 14:8). Anda dan saya sedang berada dalam kancah peperangan rohani, melawan musuh yang sama seperti yang dihadapai oleh rasul-rasul itu, dan jika kita tidak menyadari serta menyiapkan diri maka sangat mungkin kita akan mengalami kekalahan dengan risiko kebinasaan kekal.

Perjuangan pribadi. Nabi Yeremia menyadari betapa manusia memerlukan pertolongan dan pimpinan ilahi untuk menjalani kehidupan di dunia ini. “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya” (Yer. 10:23). Seperti juga diingatkan oleh raja Salomo, “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Ams. 14:12). Sebagaimana perjalanan hidup di dunia ini adalah pergumulan pribadi, demikian pula peperangan rohani itu merupakan perjuangan pribadi.

“Perumpamaan tentang sepuluh anak dara dalam Matius 25:1-13, meskipun dalam konteks yang berbeda dari apa yang sedang diperbincangkan di sini, namun berbicara tentang masalah keterlibatan pribadi dalam perkara-perkara rohani. Ellen White menerapkan keadaan rohani dari kelima orang gadis yang bijaksana itu pada uraian Paulus mengenai sekelompok orang pada akhir zaman yang memiliki suatu bentuk kesalehan tapi kekurangan kuasa (2Tim. 3:1-5)” [alinea ketiga: dua kalimat pertama].

Oleh karena peperangan rohani adalah suatu perjuangan pribadi, anda dan saya harus menghadapinya sendiri dan tidak mungkin dibantu atau diwakilkan kepada orang lain. Dan tidak seperti dalam peperangan fisik di mana tentara diterjunkan sebagai satu pasukan, sehingga anda dapat berjuang secara bahu-membahu dalam satu strategi bersama pasukan-pasukan lain, dalam peperangan rohani anda harus berjuang sendiri. Musuh kita, yaitu Setan dan malaikat-malaikat jahat, mereka itulah yang biasa datang menyerang secara berkelompok seperti dalam pengalaman Maria Magdalena yang dirasuk oleh tujuh setan (Mrk. 16:9), dan seorang laki-laki di desa Gadara yang dikeroyok oleh ribuan Setan (Mat. 8:28-32; Luk. 8:27-30). Bahkan dalam peperangan fisik yang sedahsyat apapun, pihak-pihak yang bermusuhan itu harus tunduk pada Protokol Jenewa 1929 dan Konvensi Jenewa 1949 yang membatasi tindakan-tindakan tertentu, tetapi dalam peperangan rohani Setan tidak terikat dengan konvensi apapun. Itulah sebabnya, kalau anda berharap untuk bisa menang dalam peperangan rohani, mau tak mau anda harus mengenakan dan mahir menggunakan “seluruh perlengkapan senjata Allah” (Ef. 6:11, 13).

Apa yang kita pelajari tentang perlunya mempersenjatai diri dalam peperangan rohani?

1. Menghadapi peperangan rohani setiap umat Tuhan harus menggunakan perlengkapan senjata “made in Heaven” yang disediakan oleh Allah sendiri. Manusia sama sekali tidak memiliki perlengkapan apapun dalam dirinya untuk melawan serangan Setan, itulah sebabnya Allah telah menyediakan persenjataan itu yang diberikan secara cuma-cuma.

2. Peperangan rohani adalah perjuangan yang harus dihadapi setiap orang secara pribadi. Meskipun Allah juga menyediakan bala bantuan surga dalam keadaan di mana anda dan saya terdesak oleh musuh, tetapi kita tidak dapat mewakilkan perjuangan itu kepada pihak lain. Yesus Kristus boleh mati menggantikan anda dan saya, tapi dalam berperang melawan Setan kita sendiri yang harus menghadapinya.

3. Perlengkapan senjata Allah itu sangat sempurna dan berdayaguna, tetapi itu hanya efektif jika kita mengenakannya secara lengkap dan tahu bagaimana menggunakannya. Setan bisa saja datang menyerang secara berkelompok dan mengeroyok anda pada suatu waktu, tapi dengan kelengkapan serta ketrampilan menggunakan senjata Allah niscaya anda pasti menang.

TENTARA KRISTUS (Ikat Pinggang Kebenaran dan Zirah Keadilan)

 

Simbol prajurit Romawi. Harus dipahami bahwa ketika rasul Paulus menulis tentang “perlengkapan senjata Allah” ini dia sedang hidup di abad pertama pada masa kejayaan Romawi. Tentara-tentara dengan pakaian perang mereka yang khas ada di mana-mana dalam seluruh wilayah kekuasaan Romawi pada abad pertama itu. Senjata-senjata rohani yang disebutkannya dalam surat “kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus” (Ef. 1:1) tersebut tentu saja adalah ilham surga, tetapi ide penggunaan kiasannya berasal dari pengamatannya terhadap perlengkapan prajurit Romawi yang merupakan pemandangan yang lazim waktu itu. Rasul Paulus, seperti juga Yesus Kristus yang dilayaninya, adalah seorang yang gemar menggunakan kiasan-kiasan dalam menyampaikan pekabaran, baik secara lisan dalam sebuah orasi maupun secara tertulis dalam surat-surat penggembalaannya. Isi surat yang ditujukan kepada jemaat di Efesus itu bukan saja berguna bagi seluruh jemaat di Asia Kecil pada abad permulaan, tapi di kemudian hari akan bermanfaat juga bagi jemaat-jemaat Tuhan di seantero dunia pada zaman akhir ini. Penggunaan simbol-simbol persenjataan prajurit Romawi abad pertama itu adalah untuk memudahkan pembacanya memahami makna pekabarannya.

Menurut informasi sejarah, pakaian perang prajurit Romawi purba terdiri atas sekitar 15 artikel (items), dengan bagian-bagian tertentu terbuat dari bahan yang berlainan untuk musim kemarau dan musim dingin. Tetapi dalam pemaparan pada kitab Efesus pasal 6 ini rasul Paulus hanya menyebut enam barang saja, dimulai dengan ikat pinggang (Latin: cingulum militare) dan baju zirah (sagum), seperti disebutkan dalam ayat 14. Ikat pinggang militer adalah bagian yang penting di mana berbagai perlengkapan digantungkan pada ikat pinggang itu, misalnya pedang pada zaman dulu atau pisau komando dan pistol pada tentara moderen, di samping juga berbagai perlengkapan lain. Sabuk ini berguna untuk membuat seorang prajurit merasa nyaman dan bebas bergerak. Sedangkan baju zirah yang melindungi bagian atas badan dari bahu sampai ke perut serta punggung itu kurang-lebih sama dengan rompi anti peluru bagi tentara moderen, sebuah perlengkapan pelindung diri. Rasul Paulus melambangkan kedua benda itu sebagai “kebenaran” (truth) dan “keadilan”(righteousness) yang diperlukan dalam peperangan rohani. Biasanya ikat pinggang dan baju zirah adalah perlengkapan perang yang dikenakan paling akhir, tapi rasul Paulus menyebutkannya sebagai perlengkapan yang pertama dalam persenjataan rohani.

“Ketika rasul Paulus berbicara tentang keadilan sebagai baju zirah dalam konteks peperangan rohani, dalam benaknya dia terpikir soal moral. Berbuat benar dan mempraktikkan keadilan, atau dalam perkataan lain menghidupan ‘kebenaran’ itu adalah sama pentingnya bagi orang-orang Kristen dalam peperangan melawan kuasa-kuasa kejahatan seperti halnya rompi anti peluru bagi tentara di medan perang. Bilamana kita lalai berbuat apa yang benar, apabila kita membelakangi apa yang kita tahu sebagai kebenaran, kita menjadi mangsa yang empuk terhadap serangan Setan oleh sebab kita membiarkan bagian yang terbuka lebar pada pakaian perang kita” [alinea kedua].

Kebenaran Kristus. Pada suratnya yang lain, rasul Paulus menyebutkan bahwa kebenaran yang ada pada kita adalah kebenaran Kristus “yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan” (Flp. 3:9). Rasul Yohanes berkata bahwa apabila kita berbuat kebenaran (=berlaku benar) maka kita “adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar” (1Yoh. 3:7). Sementara kebenaran dalam diri kita merupakan karunia Allah, dengan menghidupkan (=mempraktikkan) kebenaran itu kita menjadi sama dengan Kristus. Jadi, sebagai umat percaya kita memiliki kebenaran di hati kita, dan kita harus mengamalkan kebenaran itu dalam kehidupan kita. Kebenaran Kristus bersifat melindungi dengan menutupi kesalahan kita, pada waktu yang sama juga bersifat agresif karena kebenaran Tuhan ini tak bisa dipendam tetapi selalu ingin mendesak ke luar agar dinyatakan kepada oleh orang lain.

“Pada waktu yang sama, meskipun ‘keadilan’ ini termasuk mengamalkan suatu kehidupan yang benar, kita harus selalu mengingat aspek lain dari keadilan, dan itu adalah kebenaran Kristus yang membungkus orang percaya serta meninggalkan satu-satunya pengharapan keselamatan dari orang percaya. Selama kita bergantung pada kebenaran–sehingga keselamatan kita bertumpu pada Yesus–kita bisa terlindung dari salah satu serangan rohani Setan yang paling efisien: keputusasaan” [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Banyak yang merasa pasti bahwa mereka adalah orang-orang Kristen, hanya karena mereka memelihara prinsip-prinsip teologia tertentu. Tetapi mereka belum menampilkan kebenaran itu dalam kehidupan yang praktis. Mereka belum percaya dan mengasihi hal itu, dengan demikian mereka belum menerima kuasa dan anugerah yang datang melalui pengudusan kebenaran. Orang-orang bisa saja mengaku beriman dalam kebenaran; tetapi kalau hal itu tidak membuat mereka menjadi tulus, ramah, sabar, tahan nafsu, berpikir saleh, itu adalah sebuah kutuk bagi orang-orang yang mengakuinya, dan melalui pengaruh mereka itu menjadi kutuk bagi dunia” (Ellen G. White, The Desire of Ages, hlm. 310).

Apa yang kita pelajari tentang ikat pinggang kebenaran dan zirah keadilan dari seorang tentara Kristus?
1. Dalam peperangan rohani, setiap umat percaya adalah tentara Kristus yang sedang berperang melawan Setan. Dua perlengkapan senjata Allah yang harus kita pakai adalah kebenaran dan keadilan. Paulus menempatkan kedua perlengkapan ini sebagai yang pertama dipakai oleh seorang tentara Kristus dalam peperangan rohani.

2. Kebenaran Kristus kita peroleh sebagai anugerah Allah karena kita percaya kepada Yesus Kristus. Keadilan itu ibarat pakaian tahan peluru yang dikenakan kepada kita untuk menutupi kelemahan diri kita akibat dosa dan kesalahan. Sebagai perlengkapan pelindung, kebenaran dan keadilan Kristus harus dikenakan pada bagian luar, atau harus ditonjolkan.

3. Ikat pinggang kebenaran adalah integritas diri kita sebagai orang Kristen, suatu ciri tabiat yang harus selalu tampak dalam kehidupan kita sehari-hari, dan yang membuat kita bebas bergerak dan bertinteraksi. Orang Kristen yang hanya mengaku-aku sebagai orang benar tapi perilakunya berlawanan akan langsung disergap oleh musuh.

KESIAPAN PERTAHANAN (Kasut Kesediaan dan Perisai Iman)


(“Testudo” atau “Formasi Penyu” sebagai pertahanan terhadap serangan anak panah musuh)

Mobilitas. Kasut (Latin: caligae) bagi seorang tentara Romawi sama pentingnya dengan sepatu lars bagi seorang tentara moderen. Alas kaki ini melambangkan mobilitas seorang prajurit Kristus yang siap diterjunkan ke mana saja. Sepanjang peradaban manusia, apalagi pada zaman kita sekarang, alas kaki adalah bagian dari cara berpakaian. Setiap orang memerlukan sepatu atau sandal untuk berbagai keperluan dan aktivitas sehari-hari, tetapi kasut bagi seorang tentara sangatlah khusus. Saya masih ingat sekitar tahun 1970-an banyak orang yang gemar membeli sepatu inventaris tentara bukan lars (PDH=pakaian dinas harian?) karena satu alasan utama: daya tahannya. Sementara sepatu modis harganya mahal dan kurang kuat, sepatu catu militer yang berwarna hitam itu lebih murah dan jauh lebih tahan banting untuk dipakai sehari-hari.

Setiap tentara Kristus harus mengenakan kasut yang alasnya memiliki “cengkeraman kuat” (good grip) menjejaki tanah yang melambangkan keteguhan hati untuk menginjil, namun dengan penampilan sederhana yang melambangkan sikap bersahaja. Orang Kristen tidak selayaknya memperlengkapi diri dengan “sepatu rohani modis” yang hanya tampak indah di luar tapi di dalamnya rapuh oleh sikap pamrih (suka dipuji, mencari popularitas, dan lain-lain) dalam menjalankan tugas-tugas injil. Pena inspirasi menulis: “Pada setiap tangan ada pekerjaan yang harus dilaksanakan. Ada pekerjaan di daerah-daerah sekitar kita, dan ada satu ladang yang luas untuk pekerjaan di daerah-daerah seberang. Allah membantu kita untuk tampil siap bagi pertempuran, mengenakan seluruh perlengkapan senjata, dan kaki kita berkasutkan kerelaan injil damai sejahtera” (Ellen G. White, General Conference Bulletin, 3 April 1901).

“Untuk menyediakan kelenturan gerakan di segala jenis jalan, tentara-tentara Romawi sering mengenakan kasut yang dipenuhi dengan paku-paku yang tajam. Kasut seperti itu menjamin suatu cengkeraman yang kuat, dan Paulus menyamakan kasut itu dengan ‘kerelaan’ atau ‘kesiapan’ untuk ‘memberitakan Injil damai sejahtera’ (Ef. 6:15)” [alinea pertama: dua kalimat terakhir]. Nabi Yesaya berkata, “Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik” (Yes. 52:7, bag. pertama).

Menahan panah iblis. Perlengkapan lain yang rasul Paulus sebutkan bersamaan dengan kasut adalah perisai (Latin: scutum). “Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,” katanya (Ef. 6:16; huruf miring ditambahkan). Kata dalam bahasa Grika untuk “perisai” dalam ayat ini adalah θυρεός, thyreos, sebuah kata-benda maskulin yang berarti “tameng” untuk melindungi diri dari serangan musuh khususnya anak panah. Kata ini berasal dari akar-kata θύρα, thyra, kata-benda feminin yang artinya pintu, seperti digunakan antara lain dalam Mat. 6:6; 25:10; Yoh. 20:19 dan Kis. 12:6.

Ada beberapa versi perihal bentuk perisai tentara zaman purba, tetapi bagi prajurit Romawi perisai atau tameng itu lazimnya berbentuk persegi lonjong yang jika didirikan di atas tanah saat prajurit dalam posisi istirahat tinggi perisai itu mencapai bagian perut. Versi lain menggambarkan perisai itu berbentuk persegi lonjong tetapi bagian atasnya melengkung seperti pintu gerbang. Dengan bentuk seperti itu sebuah perisai akan tampak bagaikan daun pintu rumah ataupun gerbang kota, dan melambangkan pertahanan oleh sebab pintu maupun gerbang pada zaman dulu adalah bagian paling kokoh namun mudah dibuka-tutup. Gerbang zaman dulu hampir mustahil untuk ditembus apabila dalam keadaan tertutup, tetapi menjadi bagian yang paling mudah diterobos tatkala dalam keadaan terbuka.

“Analogi rohaninya tidak sukar untuk dipahami: di antara ‘anak panah bernyala-nyala’ dari Setan itu adalah nafsu, keragu-raguan, keserakahan, kesombongan, dan sebagainya. ‘Tetapi iman kepada Allah yang diangkat tinggi bagaikan sebuah perisai, menahan panah-panah itu, memadamkan nyala apinya, dan membuatnya terhempas ke tanah tak berdaya–The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1045′” [alinea terakhir: dua kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang kasut dan perisai dalam perlengkapan senjata Allah?

1. Kasut yang melambangkan kerelaan dan kesiapan mobilitas adalah bagian yang penting bagi perlengkapan rohani umat Allah. Tetapi “sepatu rohani” orang Kristen haruslah yang kuat dan sederhana, bukan semacam “sepatu Cinderella” yang diperlakukan sebagai alat konfirmasi status. Kerelaan bekerja pengikut Kristus mesti bersahaja tetapi tangguh.

2. Sepatu rohani bukan sekadar bagian dari gaya berpakaian Kekristenan yang modis, tapi adalah perlengkapan untuk melindungi telapak kaki terhadap duri-duri dunia ini. Selain itu, alasnya (fondasinya) harus bisa membantu pemakainya untuk berpijak kukuh pada kebenaran, bahkan memiliki daya cengkeram yang kuat sehingga pemakainya tidak mudah tergelincir oleh ajaran menyesatkan atau godaan duniawi.

3. Perisai orang Kristen adalah iman, dan semakin tebal iman kita akan semakin ampuh untuk menahan serta mematahkan anak-anak panah Setan. Serangan anak panah selalu berasal dari atas, oleh karena itu selain faktor ketebalan iman dibutuhkan juga ketrampilan dan kesigapan untuk setiap kali mengangkat perisai iman itu.

UTAMAKAN SELAMAT (Ketopong dan Pedang)

Alat pertahanan utama. Dalam dunia persepakbolaan kita mengenal strategi total footballdengan semboyan offensive is defensive (menyerang berarti bertahan). Kesebelasan yang terkenal sering menerapkan gaya permainan yang memang sangat menggairahkan untuk ditonton ini adalah “tim oranye” Belanda, setidaknya pada dekade 1970-an. Perhitungan sederhananya begini: dengan menggempur pertahanan lawan secara total dan bergelombang akan membuat lawan kerepotan dan dipaksa untuk terus bertahan, dengan demikian lawan tidak sempat untuk menyerang. Tetapi, sebagaimana kita tahu, kelemahan utama dari strategi ini ialah pertahanan sendiri menjadi agak terbengkalai sehingga rentan terhadap sebuah serangan balik yang cepat. Seingat saya, itulah yang terjadi pada final Piala Dunia 1974 di Olympiastadion, Munich tatkala tim favorit Belanda yang terdiri dari Johan Cruijff dkk dipecundangi tim Jerman Barat (waktu itu) di bawah komando “Der Kaizer” Franz Beckenbauer dengan skor akhir 2-1, melalui gebrakan blitzkrieg (serangan kilat) yang mengagetkan.

Dalam perang fisik (perang betulan) menyerang dan bertahan mesti dilakukan secara bersamaan dengan perhitungan dan persiapan yang matang, baik secara kolektif maupun individual. Para anggota pasukan yang diperintahkan untuk maju menyerbu wilayah musuh harus mempersiapkan perlengkapan pertahanan diri sambil menyerang. Dalam perang zaman dulu (seperti yang kita tonton dalam film “perang kerajaan”), tentara-tentara itu harus maju berhadapan langsung dengan musuh dalam jarak sangat dekat sebab senjata mereka masih berupa pedang atau tombak. Dalam perang frontal jarak dekat seperti itu, perisai, baju zirah dan ketopong adalah andalan utama pertahanan diri. Anda tidak akan maju menghunus pedang atau tombak mendekati musuh tanpa perlindungan tubuh yang memadai.

Untuk bertempur dalam peperangan rohani, Rasul Paulus menasihati, “Terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah” (Ef. 6:17). Versi moderen menerjemahkan ayat ini, “Ambillah keselamatan sebagai topi baja, dan perkataan Allah sebagai pedang dari Roh Allah” (BIMK). Ketopong atau topi baja (Latin: galea) adalah perlengkapan pertahanan diri paling penting karena melindungi bagian tubuh paling vital, yaitu kepala. Dalam peperangan rohani, sasaran utama dari serangan Setan terhadap manusia adalah pikiran anda dan saya yang terdapat di kepala kita. Iblis menyerang pada sasaran paling telak, sehingga dapat membuat korbannya menjadi tidak percaya karena “pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil” (2Kor. 4:4). Seorang yang pikirannya sudah buta akan dengan sangat mudah digiring Setan menuju kebinasaan.

“Dalam Yesaya 59, adalah Allah yang mengenakan ketopong keselamatan; di sini, dalam kitab Efesus, orang Kristen diserukan untuk menerima ketopong keselamatan itu. Sementara alat-alat perlengkapan yang terdahulu itu mungkin saja telah diletakkan untuk diambil oleh si prajurit, ketopong diserahkan kepadanya. Barangkali hal ini untuk menekankan ‘pemberian’ keselamatan secara total…Oleh sebab sasaran utama dari serangan Setan adalah untuk membuat orang-orang Kristen kehilangan keselamatan mereka, maka jaminan keselamatan yang ‘diberikan’ kepada mereka terlepas dari usaha mereka sendiri itu menjadi sebuah senjata paling ampuh untuk bertahan dalam peperangan itu” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir; alinea kedua: kalimat ketiga].

Kedahsyatan pedang. Senjata utama dari seorang prajurit Romawi purba untuk menyerang lawan adalah pedang (Latin: gladius). Biasanya pedang itu bermata dua, atau tajam di kedua sisi, dengan ujung yang runcing. Jadi, selain untuk menebas pedang itu juga bisa untuk menusuk lawan. Dalam peperangan rohani, menurut penggambaran rasul Paulus, senjata ofensif yang utama adalah “pedang Roh, yaitu firman Allah” (Ef. 6:17, bag. kedua). Seperti pedang betulan di tangan prajurit Romawi itu, pedang Roh yang adalah firman Tuhan itu juga sangat berbahaya bagi lawan. “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibr. 4:12; huruf miring ditambahkan). Jadi, kalau Setan menyerang pikiran manusia untuk membutakannya, pedang firman Allah itu dapat menyehatkan kembali pikiran itu melalui operasi “bedah otak” menggunakan pedang Roh Allah yang sangat tajam itu, sehingga pikiran manusia bisa berfungsi kembali dan mampu untuk membedakan mana yang benar dan mana yang palsu.

Semasa hidup-Nya di dunia Yesus Kristus juga pernah mengalami peperangan rohani secara pribadi ketika dia langsung berhadapan dengan Setan yang datang menggoda. Saat itu Yesus sepenuhnya mengenakan keadaan kemanusiawian, sama seperti anda dan saya, dan Setan tahu itu. Hal ini sangat masuk akal, sebab Setan mencobai Kristus dengan perkara-perkara duniawi untuk memuaskan keinginan daging (Mat. 4:2-3), keangkuhan ego (ay. 6), dan hawa nafsu kekuasaan (ay. 9). Sekiranya pada saat itu Kristus sedang mengenakan keadaan-Nya yang asli sebagai Raja Surga, sangat tidak masuk akal kalau Setan berusaha menggoda-Nya dengan iming-iming ketiga hal duniawi tersebut seperti ketika dia menggoda anda dan saya, bukan? Setan tidak sebodoh dan sekonyol itu.

“Penggodaan yang dihadapi Kristus sebagaimana tercatat dalam Matius 4:1-10 merupakan sebuah ilustrasi yang indah tentang bagaimana Firman Allah bisa menjadi senjata yang efektif. Ayat-ayat ini tentu juga memberi suatu dorongan kepada orang-orang Kristen untuk menopang diri mereka dengan kebenaran-kebenaran yang dinyatakan dalam Firman Allah” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kehandalan ketopong selamat dan pedang Roh dalam peperangan rohani?

1. Ketopong atau topi baja adalah “pengharapan keselamatan” (1Tes. 5:8), perlengkapan yang harus senantiasa dikenakan oleh setiap orang percaya. Melepaskan ketopong keselamatan itu barang sejenak saja akan memberi peluang bagi Setan melakukan serangan dadakan terhadap pikiran kita dengan akibat yang fatal, kehilangan keselamatan.

2. Ketopong keselamatan sebagai pelindung pikiran adalah alat yang “dipakaikan” kepada kita, bukan kita memakainya sendiri, menunjukkan bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah kepada umat percaya tanpa usaha apapun di pihak manusia yang menerimanya.

3. Pedang Roh, yaitu Firman Allah (Alkitab), bukan saja dapat digunakan untuk melawan Setan tapi juga untuk memperbaiki kerusakan yang dibuat Setan terhadap pikiran manusia. Setan dan para pengikutnya tidak dapat dikalahkan dengan ketajaman pikiran kita, tetapi hanya oleh ketajaman Firman Allah yang dahsyat dan penuh kuasa itu.

PENTINGNYA KOMUNIKASI (Berdoalah Setiap Waktu)

 

Berkomunikasi dengan surga. Ada satu perlengkapan yang tidak dimiliki oleh prajurit Romawi purba, dan merupakan ide dari Rasul Paulus ketika menulis teologia kelengkapan senjata Allah, yakni alat komunikasi. Dalam dunia kemiliteran moderen perangkat komunikasi termasuk perlengkapan utama sebagai sarana pendukung di lapangan. Melalui alat komunikasi itu pasukan yang sedang bertempur di garis depan dapat berkoordinasi dengan satuan-satuan lainnya, menghubungi pusat komando atau markas, dan sebagainya. Putusnya komunikasi dengan komandan di lapangan akan sangat mengganggu strategi penyerangan bahkan membahayakan taktik bertahan.

Dalam peperangan rohani, markas besar kita ada di surga dan Panglima kita adalah Yesus Kristus. Doa adalah sarana komunikasi paling ampuh dan tercanggih yang disediakan Yesus untuk kita gunakan kapan saja dan dalam kondisi apa saja untuk berkomunikasi dengan surga. “Lakukanlah semuanya itu sambil berdoa untuk minta pertolongan dari Allah. Pada setiap kesempatan, berdoalah sebagaimana Roh Allah memimpin kalian. Hendaklah kalian selalu siaga dan jangan menyerah,” pesan sang rasul (Ef. 6:18, BIMK; huruf miring ditambahkan). Meskipun doa tidak termasuk sebagai bagian dari persenjataan, tapi doa adalah bagian dari pertahanan dan ketahanan. Pena inspirasi menulis: “Doa adalah nafas jiwa. Itulah rahasia dari kuasa rohani. Tidak ada sarana kasih karunia yang lain dapat menggantikannya dan kesehatan jiwa terpelihara. Doa membawa hati ke dalam hubungan langsung dengan Mata Air kehidupan, menguatkan sendi dan otot pengalaman rohani. Lalai berdoa, atau berdoa secara tidak teratur, sesekali saja bila waktu memungkinkan, maka anda akan kehilangan pegangan pada Allah. Kesanggupan-kesanggupan rohani kehilangan vitalitasnya, pengalaman rohani berkurang kebugaran dan kekuatannya” (Ellen G. White, Gospel Workers, hlm. 254-255).

Doa dan iman. Doa adalah sumber kuasa. Rasul Tuhan menyatakan, “Doa orang yang benar, biladengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yak. 5:16; huruf miring ditambahkan). Tidak cukup menjadi “orang benar” untuk dapat beroleh kuasa dari doa itu, tetapi harus juga berdoa “dengan yakin.” Meminjam istilah-istilah dunia internet, doa itu ibarat aplikasi yang kita bisa gunakan mengakses server surgawi untuk download berkat dan kuasa ilahi, sedangkan iman adalahpassword untuk mengaktifkan aplikasi itu. Berdoa tetapi tanpa disertai iman membuat doa itu menjadi sia-sia. Yesus menegaskan, “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya” (Mat. 21:22; huruf miring ditambahkan). Bahkan, dalam catatan Markus, pernyataan Yesus yang diucapkan pada peristiwa yang sama itu lebih meyakinkan lagi: “Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Mrk. 11:24; huruf miring ditambahkan).

“Namun dalam konteks berperang melawan kuasa-kuasa jahat yang Paulus maksudkan dalam Efesus 6, dia menekankan fakta bahwa setiap peristiwa dalam kehidupan harus terbungkus dalam doa. Sikap terhadap doa seperti itu bukanlah tuntutan yang sepele terhadap orang Kristen, utamanya karena naluri pertama kita pada saat-saat yang sulit ialah menghubungi teman-teman atau rekan-rekan yang memang bagus dan pada tempatnya. Tetapi doa harus selalu menjadi garis depan pertahanan dan adalah sesuatu yang kita harus ‘lakukan setiap waktu'” [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

Mendoakan orang lain. Sementara kita harus berdoa untuk diri sendiri, kita juga perlu mendoakan orang lain. “Berdoalah selalu untuk semua umat Allah,” kata Paulus (Mrk. 6:18 bag. akhir, BIMK). Apabila setiap orang percaya saling mendoakan, berarti kita semua didoakan oleh orang lain. Bahkan, di bagian lain sang rasul menasihati, “Pertama-tama, saya minta dengan sangat supaya permohonan, sembahyang, dan doa syafaat serta ucapan terima kasih disampaikan kepada Allah untuk semua orang; untuk raja-raja dan untuk semua orang yang memegang kekuasaan” (1Tim. 2:1, 2, BIMK; huruf miring ditambahkan). Ayat yang kedua ini membuka wasasan kita tentang empat jenis doa: permohonan (supplication/petition), doa pribadi(dedication/concecration), doa syafaat atau doa pengantaraan (intercession), dan doa pengucapan syukur (thanksgiving).

Melalui injil Lukas kita dapati nasihat Tuhan Yesus berikut ini: “Berjaga-jagalah dan berdoalahselalu supaya kalian kuat mengatasi semua hal yang bakal terjadi dan kalian dapat menghadap Anak Manusia” (Luk. 21:36, BIMK; huruf miring ditambahkan). Dalam peperangan rohani berdoa harus dibarengi dengan sikap waspada (berjaga-jaga), dengan demikian kita mampu mengatasi apa saja yang bakal terjadi serta sanggup berdiri di hadapan Kristus. “Dari sudut pandang Lukas, berjaga-jaga dikaitkan dengan doa sebagai suatu hal menetap yang memberikan kekuatan rohani kepada orang Kristen. Dalam Efesus 6:18 penekanannya pada doa bagi orang lain. Tidak disangsikan lagi, sementara kita berdoa untuk orang lain, kita sendiri dikuatkan secara rohani dan kita sendiri dipersenjatai dengan lebih baik untuk pertempuran berikutnya, apa pun bentuknya” [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir]. “Dalam segala hal, berdoalah dan ajukanlah permintaanmu kepada Allah. Apa yang kalian perlukan, beritahukanlah itu selalu kepada Allah dengan mengucap terima kasih” (Flp. 4:6, BIMK).

Apa yang kita pelajari tentang pentingnya berdoa di tengah peperangan rohani?
1. Doa adalah alat komunikasi yang disediakan Tuhan bagi setiap umat-Nya untuk berhubungan dengan surga. Doa adalah komunikasi dua-arah antara seorang prajurit surgawi dengan Kristus sebagai Panglima. Itulah sebabnya bilamana kita berdoa harus dengan cara sedemikian rupa agar kita juga dapat memberi kesempatan Roh Allah berbicara kepada sanubari kita.

2. Adalah sangat aneh kalau kita yang mengaku sebagai umat percaya tetapi kurang yakin terhadap jawaban doa kita. Doa itu mengandung kuasa apabila diutarakan dengan keyakinan. Selain doa-doa rutin setiap hari, ada pula doa pribadi yang bersifat khusus dengan permohonan tertentu yang kita layangkan secara istimewa (Mat. 6:6).

3. Di samping doa untuk diri sendiri, kita juga perlu berdoa bagi orang lain. Dalam doa syafaat (doa pengantaraan) ini kita bertindak sebagai “imam” bagi orang lain, dan sebaliknya orang lain juga dapat menjadi “imam” untuk mendoakan kita. Itulah manifestasi dan makna dari kita sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (1Ptr. 2:9).

PENUTUP

Tidak ada yang luput. Tidak pernah ada suatu peperangan di dunia ini yang melibatkan seantero bumi. Bahkan Perang Dunia I dan II yang pernah dialami manusia dalam sejarah peradaban moderen pun tidak sampai menyeret setiap negara dan seluruh bangsa di dunia. PD I (1914-1918), misalnya, hanya terpusat di benua Eropa yang waktu itu merupakan tempat berkumpulnya kekuatan-kekuatan militer dunia. Negara-negara yang terlibat utamanya adalah Inggris, Prancis, Rusia, Jerman, Austria, Hongaria dan Jerman. Pada PD II (1939-1945), yang melibatkan lebih banyak negara dan wilayah yang lebih luas dari PD I, antara Sekutu di bawah kepemimpinan AS melawan Nazi Jerman di kawasan Eropa dan menghadapi Jepang di wilayah Asia Timur dan Pasifik, negara-negara di benua Afrika dan Amerika Latin praktis tidak ikut terlibat.
Tetapi dalam peperangan rohani yang meliputi alam semesta, perang ini juga melibatkan setiap manusia yang pernah hidup di atas Bumi ini, tidak peduli apapun ras dan kebangsaannya. Perang yang telah berlangsung ribuan tahun lamanya sejak dunia dijadikan ini akan terus berkecamuk, dan akan berujung pada Perang Armagedon yang pada akhirnya akan memunahkan eksistensi Setan dan anasir-anasir kejahatan dari muka bumi ini untuk selamanya. “Ini adalah suatu peperangan yang berhadap-hadapan langsung, dan pertanyaan yang besar adalah, Pihak mana yang akan beroleh kemenangan? Pertanyaan ini harus dijawab oleh diri kita masing-masing. Dalam peperangan ini semua harus terlibat, berperang di satu pihak atau di pihak yang lain. Dari peperangan ini tidak ada yang luput…” [alinea pertama: kelimat kelima hingga kedelapan].

Jangan takut! Keberanian adalah sifat dasar yang dituntut dari setiap tentara. Ketrampilan dapat dilatih dan kedisiplinan dapat ditumbuhkan, tetapi kalau pada dasarnya orang itu penakut maka dia tidak dapat menjadi seorang prajurit yang berhasil. Keberanian juga adalah sikap yang dihargai oleh Tuhan. Ketika memilih Gideon sebagai penyelamat umat-Nya, malaikat Tuhan menyapa orang muda itu dengan “Tuhan menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani” (Hak. 6:12). Allah menghendaki orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan-Nya agar tidak takut. Yesus berkata “Jangan takut!” kepada murid-murid-Nya (Mat. 17:7; 28:10); Tuhan berkata kepada Paulus, “Jangan takut!” (Kis. 18:9; 27:24); malaikat Tuhan berkata kepada perempuan-perempuan yang datang ke kubur Yesus pada pagi hari Minggu itu, “Jangan takut!” (Mrk. 16:6); dan malaikat yang lain juga mengatakan “Jangan takut!” kepada imam Zakharia (Luk. 1:13) dan kepada Maria ibu Yesus (Luk. 1:30). Bahkan, Tuhan berkata kepada kita sekarang, “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!” (Why. 22:10). Keberanian adalah prasyarat dalam peperangan rohani yang tak terelakkan di mana anda dan saya harus terlibat.

“Kita harus mengenakan setiap senjata dan berdiri teguh. Tuhan telah menghormati kita dengan memilih kita sebagai serdadu-serdadu-Nya. Hendaklah kita berperang dengan berani bagi Dia, mempertahankan kebenaran dalam setiap urusan. Ketulusan dalam segala hal adalah penting bagi kesejahteraan jiwa. Sementara kamu berjuang untuk kemenangan atas kecenderungan-kecenderunganmu, Ia akan menolongmu oleh Roh Kudus-Nya supaya berhati-hati dalam setiap tindakan, sehingga kamu tidak akan memberi kesempatan kepada musuh untuk berbicara jahat mengenai kebenaran” [alinea kedua: lima kalimat pertama].
“Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng” (2Kor. 10:3, 4).

Komentar

Postingan Populer