PERPECAHAN GEREJA DI KORINTUS DAN SOLUSI PAULUS SEBAGAI PRINSIP BAGI GEREJA MASA KINI

PERPECAHAN GEREJA DI KORINTUS DAN SOLUSI PAULUS SEBAGAI PRINSIP BAGI GEREJA MASA KINI

A.    Perpecahan Dalam Jemaat Korintus

1.        Latar Belakang

1.1.  Keberadaan Jemaat Korintus

Stuart dan Fee menjelaskan keadaan Kota Korintus,
Kota Korintus adalah sebuah kata yang relatif masih baru, umurnya  95 tahun ketika Paulus mengunjunginya kali pertama… kedudukannya yang strategis bagi perdagangan … Korintus adalah kota kosmolitan, kaya, pelindung kesenian, beragama (sekurang-kurangnya ada dua puluh enam kuil) dan terkenal dengan sensualitasnya (pemuasan hawa nafsu).[73]

Dengan mengetahui keadaan kota Korintus, maka terdapat berbagai macam masyarakat yang terdiri dari pendatang-pendatang dari daerah-daerah lain. Sebagai kota Kosmopolitan yang heterogen, Korintus menjadi kota yang memiliki bermacam-macam budaya sesuai dengan asal daerah mereka masing-masing. Percampuran dalam kebudayaan serta kebiasaan  terdapat juga dalam orang-orang Kristen di Korintus dan hal ini menyebabkan terjadi banyak konflik yang tidak terelakkan.
Terdapat perbedaan yang sangat besar dalam keadaan ekonomi di antara anggota-anggota gereja di Korintus. Paulus berkata bahwa di antara mereka tidak banyak orang yang terpandang atau kaum bangsawan dan karena itu tidak banyak  yang kaya. (I Kor 1:26), tetapi ia tidak berkata bahwa tidak seorangpun yang terpandang. Dari I Korintus 11:18-22 kita menyimpulkan bahwa anggota-anggota yang lebih kaya itu mengesampingkan yang miskin dan mengadakan pesta pada waktu perjamuan Tuhan.
Perbedaan-perbedaan di dalam jemaat Korintus itu tidak hanya terdapat di bidang sosial, kebangsaan, dan ekonomi, tetapi juga dalam doktrin dan etika. Meskipun Paulus dapat memuji  mereka sebagai satu jemaat karena berpegang teguh pada ajaran yang diteruskannya kepada mereka ( I Kor 11:2), namun beberapa orang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati ( I Kor 15:12).

1.2.  Alam Pemikiran

Dalam dunia Perjanjian Baru, selama abad pertama banyak muncul golongan-golongan dan sekte-sekte, bahkan bangsa Yahudi memiliki Ahli Taurat, orang Farisi, dan orang Saduki. Banyak di antara orang-orang Yunani berminat pada pemikiran yang serius masuk dalam golongan-golongan, seperti  golongan Stoa, Epikuros dan Sinis. Golongan-golongan dan aliran-aliran yang didirikan oleh Plato dan Aristoteles ini ada di Atena.  Tetapi di antara orang-orang dalam lima puluh tahun terakhir dari abad pertama timbullah satu kebangunan yang disebut “Neo-Sophisme”, yaitu suatu gerakan yang membangkitkan kembali minat yang semula dalam perdebatan dengan kurang memikirkan kebenaran.[74]
Hal  menggabungkan diri dengan aliran-aliran pikiran adalah soal rutin atau sudah biasa terjadi. Ada banyak orang orang di Korintus karena latar belakang Yunaninya menyombongkan diri mereka dengan hikmat. Orang Yunani merupakan orang yang suka berpikir dan bertindak dengan bebas, juga mereka cenderung pada penggolongan. Banyak orang di Korintus senang berdebat dan bertengkar hanya bagi kesenangan untuk berselisih dan berdebat saja.[75]



1.3.  Keadaan Agama

Agama Kristen tidak tumbuh dari suatu kekosongan agama, dimana masyarakat yang tidak mempunyai pegangan menunggu-nunggu sesuatu untuk mereka yakini, sebaliknya kepercayaan baru dalam Kristus harus berjuang melawan berbagai kepercayaan agama yang telah ada dalam masyarakat selama berabad-abad. Demikian juga dengan keadaan agama Kristen di Korintus. Keadaan agama di Korintus  berpengaruh pada kehidupan masyarakat. Brill menjelaskan, “Pengaruh agama terhadap penduduk Korintus sangat kuat, bahkan agamalah yang menyebabkan kejahatan mereka bertambah.”[76] Korintus terkenal karena kejahatan dan moral penduduk, mereka menyembah dewi Aprodite, dan disediakan 1000 pelacur bakti yang dianggap keramat untuk melayani hawa nafsu para penyembah. Teo Cristi menjelaskan keadaan moral Korintus,
Dipuncak gugusan tanah Akropolis berdiri sebuah kuil besar Aphrodite, dewi cinta orang Yunani, didalam Kuil tersebut terdapat lebih dari seribu pelacur bakti yang disebut dengan Hierodulli memenuhi kuil tersebut yang setiap senja hari menuruni bukit Akropolis untuk menjajakan dirinya di jalan-jalan kota Korintus.[77]


2.        Penyebab Perpecahan

2.1.  Pengkultusan Pemimpin

Istilah pengkultusan berasal dari kata dasar “kultus” yang memiliki pengertian, “Penghormatan secara berlebih-lebihan kepada orang, paham, atau benda, mengkultuskan berarti mendewa-dewakan, memuja-muja.”[78] Dalam hal ini mendewa-dewakan dan memberi penghormatan yang berlebihan ditujukan kepada pemimpin.  Pemimpin adalah orang yang memimpin, dan kepemimpinan adalah pengaruh, “yaitu kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain…orang hanya dapat memimpin orang lain sejauh ia dapat mempengaruhi mereka.” 7868
Dalam konteks pemimpin Kristen, pemimpin bukanlah seseorang yang memberikan perintah atau mengelola sesuai dengan kehendaknya sendiri, melainkan seorang pelayan Tuhan yang melayani umat Tuhan sesuai dengan panggilan dan kewenangan/karunia yang Tuhan berikan kepadanya. Abineno menjelaskan, “Kepemimpinan Rohani dalam pelayanan Kuasa menghasilkan suatu jemaat yang selalu bergerak ke dua jurusan ke dalam (sentripetal) dan ke luar (sentrifugal).”[80]
            Dalam hal jemaat Korintus, pemimpin menjadi suatu pribadi yang menjadi sangat penting dan bahkan mereka saling mengunggulkan pemimpin mereka masing-masing. Mereka berkata “aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus” (1 Kor. 1:12). Hal ini dilatarbelakangi oleh pengaruh filsafat yang kuat pada masa itu, dimana orang lebih condong kepada kata-kata hikmat yang disampaikan oleh orang-orang yang berhikmat dan menjadi pengikut atau penganut ajaran tersebut. Dalam hal ini mereka mengelompokkan diri sesuai dengan pemimpin yang mereka sukai dan kemudian mereka saling membanggakan pemimpin-pemimpin tersebut.
Muncul suatu kesombongan di antara golongan-golongan tersebut sesuai dengan kelebihan para pemimpin mereka dan sesuai dengan kehendak mereka. Mereka menamakan golongan mereka sesuai dengan nama pemimpin yang mereka sukai.
Ada empat golongan yang terjadi yang masing-masing mengklaim lebih hebat dari yang lain. Pertama, Paulus, yang memulai dan mendirikan jemaat di Korintus.
Kedua, Apolos, seorang Yahudi dari Aleksandria (Kis 18: 24-28). Ia datang ke Efesus tahun 52 pada kunjungan Paulus yang terburu-buru di Palestina (ayat 22). Ia memiliki pengetahuan yang cermat mengenai kehidupan Yesus. Ia menggabungkan bakat kefasihan berbicara (kemampuan belajar) dengan nalar yang jeli memahami Perjanjian Lama.  Ia penuh gairah memberitakan kebenaran yang dia ketahui, dari Efesus ia ke Korintus, dimana ia menunjukkan keahliannya membela ajaran Kristen terhadap orang Yahudi (Kis 18:27-28).[81]
Ketiga, Kefas merupakan murid Yesus yang sering juga disebut Petrus. Ia murid Tuhan  Yesus yang pertama. Kelompok Kefas tampaknya meragukan mandat Paulus, dan lebih memilih hubungan dengan Yerusalem melalui Petrus.
Keempat, golongan Kristus, yaitu golongan yang merasa mereka lebih tinggi dari yang lain, karena mereka mengikuti Kristus. Menurut Ibrahim, “Kemungkinan golongan ini adalah mereka yang dulu ada di Yudea dan sudah melihat Yesus, sehingga mereka lebih minta dihormati dan menganggap lebih daripada yang lain dan menjadi sombong.”[82]
Mereka mengkultuskan pemimpin karena menurut mereka pemimpin mereka memiliki kelebihan. Dalam hal ini kelompok Apolos menunjuk kepada, “Kelompok yang lebih menyenangi gaya dan retorika yang lebih halus dan berbakat…sementara golongan Kristus menganggap rendah semua hubungan dengan golongan-golongan lain sehingga mereka menjadi golongan tersendiri.”[83]
Biasanya pemimpin yang berkarisma dan memiliki kepopuleran menjadi pusat dari pengkultusan tersebut. Karisma dan kepopuleran seorang pemimpin menjadi penyebab seseorang pemimpin diidolakan, apalagi zaman dimana gereja Korintus bertumbuh dan berkembang merupakan masa dimana terjadi banyak sekali orang mendewa-dewakan seseorang yang memiliki kemampuan dan memiliki daya tarik.

2.1.1. Karisma

Karisma sangat dibutuhkan dalam pelayanan, semua pelayan menerima karisma dari Tuhan untuk keberhasilan dalam pelayanan. Dengan karisma pelayan dapat melayani secara efektif. Karisma dalam hal ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu secara umum dan secara khusus, karena karisma memiliki banyak pengertian sesuatu dengan konteksnya. Karisma secara umum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Keadaan atau bakat  yang dihubungkan  dengan kemampuan  yang luar biasa  dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya, atribut kepemimpinan yang didasarkan atas kualitas kepribadian individu.”[84]
Karisma berhubungan dengan daya tarik pribadi, pesona, kualitas bintang dan juga kepribadian yang merebut hati orang lain. Van den End menjeskan tentang pembagian karisma, “Pertama, karunia Allah dalam Yesus Kristus (keselamatan), kedua, karisma yang dianugerahkan kepada umat Israel, ketiga, karunia khusus yang dilimpahkan kepada salah seorang anggota jemaat agar menjadi sarana pelayanan kepada Allah dan sesama manusia, yang keempat, salah satu berkat Allah.”[85]
Banyak tokoh-tokoh yang memiliki karisma yang menjadi pemimpin yang memiliki banyak pengikut. Presiden Pertama RI Soekarno, merupakan salah satu dari pemimpin yang berkarisma, yang memiliki banyak pengikut, bahkan sampai sekarang di Indonesia Soekarno di beberapa daerah dikultuskan sekalipun ia sudah meninggal.
Secara khusus karisma berakar dari kata benda “cariV“ (karis) serta kata kerja “carisomai“ (karisomai) yang artinya, “memberi, mengaruniakan.”[86] Karis berarti, “sesuatu yang menggembirakan  atau menyenangkan artinya sesuatu itu mempunyai sifat menimbulkan rasa senang di pihak yang melihat atau mendengarnya.”[87]
Setiap orang percaya adalah orang yang berkarisma, karena setiap orang percaya menerima karunia dari Allah. I Korintus 12 menjelaskan tentang karunia-karunia yang diberikan bagi gereja. Edvardsen menuliskan, “…karunia Roh Kudus bagi orang Kristen akan melengkapkan orang-orang suci bagi pelayan, melayani di dalam mendirikan Tubuh Kristus, karunia itu diberikan …untuk meneguhkan sidang jemaat.”[88]
Paulus dalam suratnya kepada jemaat Efesus menjelaskan tentang pemberian karunia atau sering disebut jabatan dalam gereja yaitu, rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar dengan tujuan untuk memperlangkapi orang-orang kudus (Ef 4:7-12). Barclay menjelaskan, “Memperlengkapi dipakai kata “Katartismon" (katartismon), asal katanya ialah “katartizw" (katartizo), yaitu, memperbaiki, menyempurnakan, melengkapi, memulihkan… Istilah ini memiliki pengertian, menempatkan sesuatu kembali  di tempat dan keadaan dimana sesuatu itu seharusnya berada.”[89]
Jemaat Korintus telah beruntung karena dilayani oleh bermacam-macam rasul dan pemberita Injil. Sejumlah ahli memperlihatkan bahwa, “jemaat Korintus memandang Paulus dan Apolos sebagai para pengajar misteri religius yang membawa jemaat Korintus ke dalam suatu kebijakan spiritual baru. Jemaat Korintus secara mencolok  menyamakan  diri dengan pengajar-pengajar ini ketimbang kepada Kristus yang mereka ajarkan.”[90]
Fakta yang disebabkan oleh letaknya Korintus yang strategis dan juga  karena perjalanan yang jauh-jauh dari para utusan Injil pertama ( 2 Kor 1:19). Karena mereka terlalu mengutamakan hikmat duniawi, timbullah perselisihan intern pada waktu beberapa orang mengadu dombakan pemberita Injil kesayangan mereka antara satu dengan yang lain. Tetapi ini bukan sekedar soal kesukaan pribadi, semua orang percaya menaruh kasih sayang kepada pemberita Injil yang telah memimpin mereka bertobat. Kepribadian manusia yang begitu berbeda-beda yang menimbulkan bermacam-macam tarikan kepada bermacam-macam orang  pastilah merupakan salah satu sebab Allah memilih untuk memberitakan  Injil dengan perantaraan manusia, dan bukan dengan perantaraan malaikat.[91]

2.1.2.      Kepopuleran

Pada masa pelayanan Paulus kecenderungan memuja-muja pemimpin sudah sesuatu yang biasa. Ada orang-orang yang tidak bijaksana, yang menghormati pemimpin rohani dan penasehat mereka dengan cara yang tidak semestinya, dan cenderung untuk membesarkan yang satu dari yang lain. Situasi jemaat Korintus yang pada masa itu banyak sekali muncul pemikiran-pemikiran yang akhirnya berdampak muncullah golongan-golongan sesuai dengan daya tarik setiap pemimpin.

2.2.      Manusia Duniawi

Dalam 1 Korintus 3:2 dijelaskan, “Dan aku saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi…” Manusia duniawi yang dipakai dalam ayat ini adalah “sarkinoiV"  (sarkinois) yang berasal dari kata “sarkinoV" (sarkinos) yang memiliki pengertian, “dari daging, yang punya sifat daging.” Jadi manusia duniawi adalah manusia yang bersifat daging. Kata yang sama juga digunakan dalam Roma  7: 14, II Korintus 3:3, Ibrani 7: 16.  Manusia duniawi mengandung pengertian, bukan dari Allah, memusuhi Allah, menghendaki yang bertentangan dengan Allah, daging bukan bagian manusia yang, tubuh.[92]
Dalam Teologi Paulus manusia dikelompokkan ke dalam tiga golongan.
Pertama, “yukikoV" (Psukikos) atau bersifat jiwa, mereka tidak menerima apa-apa dari Allah karena mereka belum dilahirkan kembali, secara rohani mereka mati. Kedua, PneumatikoV (Pnemuatikos) manusia rohani, mereka  telah dilahirkan kembali dan mereka hidup menurut Roh Allah, mengalami persekutuan yang akrab dengan Tuhan Yesus. Ketiga, SarkikoV (Sarkikos) bersifat daging (manusia duniawi), sudah dilahirkan kembali, tetapi masih kurang dewasa secara rohani.[93]

Kata yang dipakai sebenarnya mengartikan tabiat manusia dalam segala kelemahannya dan tabiat manusia  yang mudah jatuh ke dalam dosa, bagian manusia yang menjadi pangkal dosa. Segala sesuatu yang mengikat manusia kepada dunia tidak kepada Allah. Barclay menjelaskan hidup menurut daging, “ialah suatu kehidupan yang dikuasai oleh suara dan keinginan dari tabiat manusia  yang berdosa sebagai ganti suatu kehidupan yang dikuasai oleh kasih Allah.”[94]
Paulus mendaftarkan perbuatan-perbuatan orang yang masih hidup dalam daging dalam suratnya kepada jemaat Galatia. Dalam Galatia 5: 19-21 dituliskan, “Perbuatan daging telah nyata yaitu, percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.”
Jemaat Korintus disebut oleh Paulus adalah jemaat yang masih duniawi dan masih belum dewasa atau masih bayi rohani (1 Kor 1:10). Dalam hal ini Paulus tidak mengatakan bahwa jemaat Korintus masih belum lahir baru, karena pada pembuka suratnya kepada jemaat ini ia mengatakan bahwa jemaat Korintus adalah orang-orang kudus. Dengan pemahaman demikian berarti Paulus menjelaskan bahwa orang-orang kudus di Korintus masih memiliki sifat duniawi atau masih hidup dalam daging. Paulus mengelompokkan jemaat Korintus ke dalam golongan “Sarkikos”.
Dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia ia membuat suatu karakteristik orang Kristen dalam daging, dan hal inilah yang menjadi penyebab terjadinya perpecahan dalam jemaat Korintus. Dalam hal karunia jemaat Korintus merupakan jemaat yang kaya, dan sering mereka menyombongkan diri dengan karunia yang  mereka miliki (1 Kor 13: 1-8). Tetapi dari aspek moral dan dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat Korintus, mereka memiliki banyak kekurangan atau kelemahan, bahkan itulah yang menjadi pokok permasalahan yang sedang dihadapi dan menjadi alasan Paulus menulis surat. Kehidupan yang masih duniawi dan dengan keberadaan kehidupan Korintus yang bobrok secara moral membuat banyak masalah yang timbul.
Perpecahan menjadi dampak dari kehidupan yang masih duniawi. Mereka masih hidup dalam iri hati dan perselisihan, ini merupakan kehidupan orang yang masih duniawi. Paulus dalam tulisannya kepada jemaat Korintus menjelaskan bahwa jemaat tersebut masih hidup dalam daging yang ditandai dengan iri hati dan perselisihan.

2.2.1.      Iri Hati

Kata yang dipakai untuk iri hati adalah “zeloV"  (zelos), yang memiliki pengertian “semangat, ingin melebihi, atau keinginan untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi.”[95] Iri hati membuat jemaat Korintus selalu melihat kepada yang ada pada jemaat lain dan coba untuk membandingkan diri dengan keadaannya sendiri, sehingga mereka mencari kelebihan dan menonjolkan kelebihan pemimpinnya. Karena iri hati akhirnya mereka saling menonjolkan kelebihan-kelebihan dari pemimpin yang mereka sukai.

2.2.2 Perselisihan

Istilah perselisihan merupakan istilah yang memakai tiga kata. Kata pertama perselisihan (1:11, 3:3), sama dengan pertengkaran dan perbantahan kata yang digunakan “dicostasia" (dichostasia), yang artinya “separately, faction, division, dissension.” [96] (terpisah, golongan, pembelahan, pertikaian) Kata ini terdapat dalam karakteristisk manusia dunia yang ada dalam Galatia 5:20. Kata kedua dalam 1 Korintus 11:19, perpecahan dipakai kata, “eresiV” (heresis) kata ini digunakan untuk mazhab-mazhab saduki dan Farisi (Kis. 5:17), dalam daftar perbuatan daging roh pemecah. Sedangkan kata ketiga dalam I Korintus 1:10, kata yang dipakai “scisma" (schisma) yang artinya, “to split, tear, to be divided in mind.”[97] (robek, sobekan, bercabang dalam pikiran) Kata ini berarti, “Kain yang koyak atau robek, seperti yang terjadi pada waktu  kita menambalkan secarik kain yang baru kepada baju yang tua.”[98]

2.2.3. Bayi-bayi Rohani

Paulus menyebut bahwa orang-orang percaya di Korintus masih bayi-bayi rohani atau belum dewasa (1 Kor 3:1). Ibrahim menjelaskan, “Bayi memakai kata “nepioV” (nepios) yang berarti seorang yang pikirannya masih sederhana, seorang yang belum sanggup mengerti pengajaran Kristus dengan dalam.”[99] Persoalannya bahwa mereka bukan bodoh secara pikiran tetapi karena sikap daging (Yak 1: 25). Seorang bayi tidak dapat makan makanan keras, tetapi mereka makan makanan yang lunak dan minum susu. Dalam suratnya Paulus menjelaskan, “Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras sebab kamu belum dapat menerimanya, dan sekarangpun kamu tidak dapat menerimanya” (1 Kor 3:2). Wongso menjelaskan, “minum susu melambangkan suatu kenaifan, kebodohan atau menyatakan sikap yang terlalu bersahaja secara rohani.”[100]

3.            Akibat Perpecahan

3.1. Berdirinya Golongan-golongan

Dengan melihat kepada kelebihan-kelebihan yang ada dalam pemimpin mereka kemudian mereka menggolongkan diri mereka sesuai dengan nama-nama pemimpin mereka. Mereka mengganggap bahwa yang lain lebih rendah, dan perbedaan ini menyebabkan mereka mendirikan golongan-golongan dalam gereja. Gereja terpecah ke dalam golongan-golongan yang sebenarnya tidak perlu, hal itu membuat terjadinya suatu keterpisahan dalam tubuh Kristus. Berdirinya golongan dalam gereja secara tidak langsung membatasi dan membuat jurang pemisah dalam persekutuan tubuh Kristus.
Ada empat kelompok yang membuat golongan-golongan sesuai dengan ketertarikan mereka terhadap pemimpin,
Golongan Paulus terdiri dari kaum Libertin, mereka mendengar khotbah Paulus tentang kemerdekaan Kristen yang menimpulkan bahwa mereka dapat hidup seenaknya, golongan Kefas terdiri dari kaum Legalistik yang terdiri dari orang Yahudi dan bukan Yahudi yang takut akan Tuhan sebelum masuk Kristen. Golongan Apolos terdiri dari kaum Filsuf yang mengikuti pandangan Yunani dan golongan Kristus terdiri dari kaum Mistik yang menekankan hal-hal supra alami.[101]

Mereka mengelompokkan sesuai dengan keinginan mereka dengan konsep yang berbeda tentang ajaran kristen, dan memiliki pandangan yang berbeda tentang Injil. Mereka menekankan salah satu dan mempertahankan pandangan mereka.

3.2.      Tidak Bertumbuh


Perpecahan dalam gereja membuat jemaat Korintus terhambat bertumbuh. Paulus menjelaskan dalam 1 Korintus 3:2, “Susulah yang kuberikan  kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya, dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.” Disini Paulus menjelaskan bahwa perpecahan dengan membuat-golongan-golongan membuat mereka sulit untuk bertumbuh. Berquist menjelaskan, “Kegagalan untuk bertumbuh merupakan hal yang menyedihkan sekali, kenyataan bahwa ada perasaan cemburu dan pertengkaran di tengah-tengah mereka merupakan bukti yang cukup bahwa mereka itu terhambat tumbuhannya di dalam hal-hal rohani.”[102]
Ungkapan “dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya” memiliki pengertian, “Mereka sudah lama tetapi bandel, yang memerlukan pemulihan kepada persekutuan atau keadaan sehat yang memungkinkan menyerap gizi melalui pengakuan dosa.”[103] Dengan adanya golongan-golongan secara langsung itu berpengaruh kepada pertumbuhan rohani jemaat. Mereka hanya akan lebih mendengar ajaran-ajaran yang disampaikan oleh pemimpin-pemimpin mereka dan tidak menerima ajaran-ajaran dari pemimpin lain, sehingga ada ketidakseimbangan dalam makanan rohani. Hal itu menyebabkan mereka tidak menerima berita Injil dengan penuh. Pengaruh dunia filsafat pada zaman Paulus  telah mempengaruhi pola berpikir jemaat Korintus sehingga mereka mulai meninggalkan iman mula-mula dan menggantikannya dengan hikmat manusia.

B.     Solusi Paulus

1. Menasehati

1.1 Menasehati Demi Yesus Kristus

1 Korintus 1:10, Paulus menuliskan, “Tetapi aku menasehatkan kamu saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus…” Menasehati berasal dari kata ‘Para (para) dan "kalew’ (kaleo) yang berarti, “comfort, exhort, an encouragement, consolation, advocate.”[104] (menghibur, mendesak, pengobaran semangat, penghibur, pengacara) Kata ini dapat  diartikan dipanggil mendekat untuk dinasehati.  Paulus memulai dengan suatu nasehat. Ia menasehati demi Nama Tuhan Yesus, ini merupakan suatu nasehat yang sangat serius dan mendesak. Brill menjelaskan, “Seolah-olah Paulus berkata; aku menasehatkan kamu demi nama Dia yang memanggil ke dalam persekutuan dengan-Nya, dan demi nama Dia  yang telah memberi kasih karunia dan damai sejahtera Allah.”[105] Nasehat ini adalah nasehat yang sungguh-sungguh. Nama Kristus menjadi ikatan yang mempersatukan semua orang Kristen dan karena mereka semua mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan mereka. Kata ini juga memiliki arti dengan kekuasaan nama-Nya atau dengan penghormatan akan Yesus sebagai Tuhan.
Rasul mendesak mereka dengan penekanan demi nama Tuhan Yesus supaya jemaat Korintus menyadari bahwa hal ini sesuatu yang sangat penting untuk dilakukan dan tidak boleh ditunda-tunda. Paulus tidak mau jemaat Korintus menganggap bahwa masalah yang dihadapi mereka adalah masalah yang biasa, sehingga tidak cepat diselesaikan. Paulus menyadari bahwa perpecahan merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang berasal dari dalam yang dapat merusak gereja dan dapat merusak persekutuan kasih yang ada. Perpecahan dalam jemaat sama dengan menyakiti tubuh Kristus. Paulus tahu apabila masalah ini tidak segera diselesaikan maka akan berdampak kepada perkembangan gereja dan akan mengalami stagnasi.

1.2. Bersatu

Dalam 1 Korintus 1:10, Paulus menuliskan, “Tetapi aku menasehatkan kamu…tetapi sebaliknya erat bersatu dan sehati sepikir.” Kata bersatu yang dipakai Paulus dalam ayat ini adalah “katartizo” (katartizo) yang memiliki pengertian, “Menyempurnakan, membereskan, menjadikan utuh.”[106] Kata ini juga memiliki pengertian meletakkan sesuatu tepat pada tempatnya, menyusun, membetulkan, menyempurnakan seperti sebelumnya. Paulus menasehatkan supaya jemaat Korintus kembali seperti semula yaitu bersatu dalam satu tubuh. Paulus menghendaki jemaat untuk dipulihkan seperti pada saat jemaat itu berdiri.
Paulus menasehatkan mereka agar bersatu dengan sehati dan sepikir. Kata sehati  dipakai kata “noi" (noi) dari kata dasar “nous" (nous), yaitu, “Pikiran, akal, akal budi dan nalar.” [107]  Ini merupakan bagian tubuh sebagai wasit, tempat pertimbangan, tanggapan untuk memahami. Sepikir berasal dari kata “gnwme" (gnome) yang berarti, “Kehendak, pendapat, keputusan, persetujuan.”[108] Sehati sepikir berarti memiliki kesatuan bersama dengan sempurna, dengan memiliki pikiran dan kesehatian yang diikat dalam kasih Kristus yang mempersatukan setiap perbedaan. Sehati sepikir mempunyai arti tidak membeda-bedakan keadaan yang ada dalam jemaat tetapi menanamkan rasa kesatuan dalam hati jemaat dan pemikiran. Memiliki pemahaman yang sama tentang pelayanan dan kehidupan orang percaya. Dengan kesehatian dan sepikir akan terhindar dari rasa iri hati dan perselisihan, karena akan menganggap satu sama lain sama di dalam Tuhan.

2. Menjelaskan bahwa Semua Pemberita Injil Sama

2.1. Pelayan dan Hamba Tuhan

Dalam 1 Korintus 3:5 dituliskan, “Jadi, apakah Apolos, Apakah Paulus…pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan kepadanya.” Pelayan berasal dari kata “diakonoV" (diakonos) yang berarti pelayan yang berhubungan dengan pekerjaan. Brill menjelaskan, “Setiap pelayan Tuhan mempunyai pekerjaan yang ditentukan Tuhan baginya dan orang lain tidak dapat melakukan pekerjaan itu, karena itu semua pekerjaan itu penting dan semua pekerja juga penting.”[109]
Paulus menjelaskan bahwa dirinya, Apolos maupun Petrus merupakan pelayan Tuhan yang bekerja untuk Tuhan sebagai hamba yang hanya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh tuannya yaitu Tuhan. Kata hamba digunakan “upereteV” (huperetes), yang artinya, “pendayung yang berada pada lambung Triremes (sejenis kapal Perang) yang mengarungi lautan.”[110] Kata ‘apakah’ dalam ayat 5 menunjukkan bahwa manusia tidak berarti, sebab mereka dalam hal ini Paulus dan Apolos hanya pelayan-pelayan saja. Dalam ini meletakkan perhatian kepada fungsi mereka yaitu sebagai pelayan bukan siapa mereka.
Pemikiran di sini adalah bahwa mereka hanyalah alat biasa yang olehnya Allah memberi segala berkat-Nya kepada orang-orang Korintus, mereka hanya hamba yang hanya melakukan apa yang ditugaskan oleh majikan kepada mereka, seperti yang tertulis dalam Lukas 17: 10, “Demikian jugalah kamu, apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

2.2. Tidak Ada yang Lebih Utama

2.2.1        Menanam Dan Menyiram

Paulus menjelaskan tugas mereka, “Aku menanam, Apolos menyiram…(1 Kor 3:6).” Paulus mencoba memberikan gambaran yang tentang menanam dan menyiram sebagai bagian dari pertanian. Dalam hal ini Paulus menjelaskan bahwa menanam dan menyiram itu merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam pertanian. Setiap orang mempunyai tugas baik apakah dia menanam maupun tugas menyiram dan kedua-duanya saling berkaitan dan tidak dapat terpisah dan tidak dapat hanya melakukan yang satu saja.
Dalam pekerjaan Tuhan setiap orang atau pelayan memiliki bagian masing-masing, dalam hal ini Paulus mencoba menjelaskan bahwa bagiannya adalah menanam dan Apolos menyiram. Ia yang memulai menanam benih Firman Allah kepada jemaat Korintus, dan kemudian dilanjutkan oleh Apolos. Menanam dan menyiram penting sekali, tetapi Paulus menjelaskan bahwa yang membuat jemaat Korintus bertumbuh adalah benih Firman Tuhan yang disampaikan oleh setiap pelayan yang dipercayakan oleh Tuhan.
Hillyer menjelaskan, “Perbuatan mereka baik menanam maupun menyiram adalah satu dan saling melengkapi, karenanya tidak selayaknya menjadi sebab perpecahan, masing-masing mempunyai tanggung jawab sendiri dan masing-masing akan menerima upah, sesuai dengan pekerjaan.”[111]
Menanam merupakan karunia yang diberikan Tuhan dan tugas ini dipercayakan Tuhan kepada Paulus, sedangkan Apolos mendapat karunia sebagai penyiram, yang menyirami jemaat dengan pengajaran Firman Tuhan.  Kedua-duanya bekerja tanpa ada yang lebih tinggi diantara karunia yang menjadi tugas mereka dalam pelayanan.

2.2.2.      Allah Pemberi Pertumbuhan

Dalam pertumbuhan Allahlah yang menjadikan benih tumbuh dan berkembang. Allah sebagai sumber dari pertumbuhan benih itu. Tanpa Allah sia-sia orang yang menanam dan menyiram. Gambaran ini menunjukkan bahwa petani akan sia-sia menabur dan mengairi benih, jika Allah tidak memberi pertumbuhan/kehidupan.
Hanya Allah satu-satunya pemberi kehidupan yang menyebabkan benih itu dengan kuasa Roh Kudus menjadi hidup. Pekerjaan menanam dan menyiram akan selesai tetapi pekerjaan menumbuhkan berlangsung terus sampai masa penuaian. Dengan menyatakan bahwa Allahlah yang memberi pertumbuhan, “Paulus bermaksud agar dia dan Apolos tidak ditinggikan karena pelayanan mereka, melainkan Allah yang membangun gereja tersebut sampai kesudahannya, yang harus ditinggikan.”[112]

2.2.3.      Rekan Sekerja Allah

Paulus menjelaskan dalam 1 Korintus 3:9, “Karena kami adalah kawan sekerja Allah…” Rekan berarti suatu team yang bekerjasama untuk suatu pekerjaan. Dalam hal ini Paulus menjelaskan bahwa pelayan-pelayan Tuhan adalah rekan sekerja yang bekerja bersama-sama untuk satu pekerjaan yang sama yang besar dan mulia. Mereka tidak bekerja sendiri-sendiri, karena mereka bergantung satu sama lain sesuatu  dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka.
Pelayanan begitu luas sehingga tidak dapat dilakukan oleh satu atau dua orang saja, itulah sebabnya Kristus memberikan bermacam-macam pelayan dengan bermacam-macam pemberian dan tugas. Abineno menjelaskan, “Diantara pelayan itu tidak ada perbedaan kualitatif, mereka sama-sama rendah dan tidak ada yang lebih mulia atau lebih berharga dari yang lain.”[113] Pada dasarnya rekan sekerja merupakan suatu team kerja yang memiliki kesatuan, tidak ada seorangpun yang  memiliki perspektif bahwa semua yang terjadi dalam setiap lingkup pelayanan mengatakan “semua karena aku”,  tetapi pada dasarnya adalah karena kebersamaan.

2.2.4.      Menerima Upah

Setiap pelayanan membuahkan hasil, semua pelayan sama tapi mereka mempunyai karunia yang berbeda dan pekerjaan dalam bidang yang berbeda. Setiap pekerjaan merupakan suatu kepercayaan yang telah diberikan Tuhan sesuai dengan kasih karunia yang diberikan Tuhan. Pekerjaan tersebut akan mendapat upah sesuai dengan usaha mereka masing-masing. Dalam I Korintus 3: 13-14 dicatat,
Sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing orang-orang akan diuji dengan api itu. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.

Paulus mencoba menjelaskan kepada jemaat Korintus bahwa, “Setiap pelayan Tuhan masing-masing harus bertanggung-jawab atas pekerjaannya di hadapan Tuhan, sehingga tidak ada alasan untuk mengganggap pelayan sebagai pribadi yang dapat diunggulkan.”[114] Semua pelayan hanya melaksanakan tugas masing-masing dan hasilnya itu terlihat dari upah yang diberikan kepada pelayan. Setiap pekerjaan akan diuji melalui api, sehingga terbukti siapa yang benar-benar pelayan Tuhan. Brill menjelaskan, “Cara tiap-tiap orang membangun di atas dasar Kristus itu menentukan macam upahnya, sebab tiap-tiap orang akan menerima upah sesuai dengan pekerjaannya.”[115]

3.            Merendahkan Diri

Dalam 1 Korintus 3:18 Paulus menyatakan, “Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada diantara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat.” Disini Paulus menjelaskan bahwa kehidupan orang percaya yang menyombongkan pemimpinnya dengan alasan bahwa mereka berhikmat dan lebih dari yang lain, mereka adalah orang yang menipu dirinya sendiri, karena hikmat menurut dunia adalah kebodohan bagi Allah (I Kor 3:19). Paulus juga menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan sebagai orang berhikmat menurut mereka adalah sia-sia dan tidak menghasilkan apa-apa. Paulus menyatakan supaya mereka jangan memegahkan diri (1 Kor 3:21). Dengan mereka menyatakan dan membuat golongan sebenarnya mereka sedang berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang hebat dan berhikmat sama seperti kebiasaan yang ada di kota Korintus. Jemaat Korintus telah terpengaruh kepada hikmat manusia. Hikmat mendapat tempat yang sangat utama dalam kehidupan, sehingga Paulus menjelaskan secara terbuka kepada jemaat dalam 1 Korintus 1:17-18,
…tetapi untuk memberitakan Injil, dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan sia-sia. Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

Mereka terpesona dengan kata-kata yang disampaikan oleh pelayan-pelayan Tuhan yang telah melayani mereka. Mereka memiliki konsep yang salah tentang berita Injil dan pemberita Injil. Mereka menganggap berita Injil sama dengan hikmat duniawi dan pelayan Tuhan sebagai orang yang layak untuk ditinggikan. Mereka sedang mengagungkan manusia yang pada hakekat tidak layak menerima pengagungan. Paulus maupun Apolos merupakan hamba-hamba Tuhan yang tidak patut ditinggikan, sebab semua hikmat mereka datangnya dari Allah. Ibrahim menyatakan, “Seseorang yang memegang Injil, harus menjauhkan diri untuk bergantung pada hikmat dunia dan harus menjadi seperti seorang anak dihadapan Tuhan.”[116]
Kemudian Paulus menyatakan bahwa Allahlah sumber hikmat dan ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya (1 Kor 3:19). Pengaruh keadaan masyarakat Korintus yang pada saat itu mengagungkan hikmat manusia berdampak kepada ketertarikan mereka terhadap pemimpin yang dapat memuaskan mereka. Mereka salah mengerti tentang berita Kristen dan pelayan Tuhan.

4. Menyadarkan bahwa Gereja Milik Allah

4.1. Ladang Allah

Ladang dalam bahasa Yunaninya,  georgion” (georgion) yang artinya, “ladang yang dikerjakan.”[117]  Kata ini merupakan kata yang di pakai dalam bidang pertanian, sering juga disebut kebun anggur Tuhan. Ladang yang sedang dikerjakan ini dikerjakan oleh para hamba Tuhan, supaya menghasilkan buah (Yes 5:1-7). Dalam istilah pertanian pelayan adalah seorang petani yang menanam dan merawat kebun. Dalam pengertian ini jemaat adalah ladang dimana ditaburi benih Firman Tuhan oleh para pelayan-pelayan yang telah dipilih Tuhan. Ladang itu harus terus dipelihara yaitu merawatnya dengan baik dan inilah yang menjadi tugas dari para pelayan.

4.2. Bangunan Allah

Barclay menjelaskan, “Setiap gereja adalah bagian dari sebuah gedung besar, dan bahwa setiap orang kristen adalah batu yang merupakan bagian bangunan gedung gereja itu.”[118] Dalam 1 Korintus dijelaskan, “Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus diatasnya…” Dalam hal ini Paulus sebagai ahli bangunan bijaksana yang telah meletakkan pondasi itu, ia yang memulai pekerjaan di Korintus, tetapi ia tidak menjadi sombong.
Yesus sebagai batu penjuru dan batu penjuru itulah yang mempersatukan segalanya dalam gereja itu. Paulus berbicara mengenai seluruh bangunan yang dipersatukan bersama-sama sehingga rapi tersusun dan tumbuh menjadi bait Allah yang kudus, sebagai bangunan masing-masing bagian itu penting selama diikatkan pada keseluruhan. Bangunan terdiri dari batu-batu yaitu jemaat, dan setiap pelayan adalah tukang bangunan. Setiap tukang bangunan harus benar-benar membangun dengan dasar yang kuat sehingga bangunan itu kokoh. Pelayan memiliki peran yang besar dalam pekerjaan pembangunan.

4.3 Bait Allah

            Dalam I Korintus 3:16 dikatakan, “Tidak tahukah kamu bahwa kamu bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” Bait disini adalah “oikos” (oikos) yang berarti, “Rumah, gedung, keluarga, umat.”[119] Ini merupakan suatu kebenaran yang coba dijelaskan Paulus untuk menyatakan bahwa betapa mulianya orang percaya karena Allah dalam Roh-Nya berkenan tinggal dengan manusia. Bait Allah merupakan pernyataan di dunia akan kehadiran Allah. Ini juga menunjukkan bahwa betapa orang-orang percaya harus menjaga kehidupannya, untuk menghormati kehadiran Allah dalam diriNya dan jangan merusak bait Allah. Paulus memakai kata, “tidak tahukah kamu” untuk membukakan suatu kebenaran yang dilupakan oleh jemaat Korintus. Paulus menyatakan bahwa Roh Allah yang kudus diam dalam kamu. Kata yang dipakai adalah “oikew" (oikeo) yang artinya diam, mendiami, bersemayam dalam.[120]

4.3.1. Kudus

Paulus menjelaskan bahwa bait Allah adalah Kudus, disini ia ingin agar mereka mengetahui bahwa kesucian harus  menjadi bagian dalam hidup mereka, seperti halnya dalam Perjanjian lama, dimana Allah begitu menekankan tentang kekudusan kepada orang Israel sebagai bangsa pilihan Allah. Kata yang dipakai adalah “agioV" (hagios) yang memiliki arti suci, murni dipisahkan (I Tes 4:3). Abineno menjelaskan, “Pengertian kudus dalam Perjanjian Baru mempunyai arti yang sama dengan pengertian “           “ (kadosh) dalam Perjanjian Lama, yaitu diasingkan untuk suatu maksud, diasingkan supaya dipakai sebagai alat (dalam karya penyelamatan Allah).”[121] Paulus menjelaskan bahwa orang percaya harus berbeda dan terpisah dengan orang-orang yang belum mengenal Tuhan dalam kehidupannya. Perselisihan merupakan pola kehidupan orang yang tidak percaya sehingga Paulus menjelaskan bahwa mereka harus berbeda dalam pengertian “tidak boleh berselisih seperti hal yang biasa dilakukan oleh orang yang tidak percaya.”

4.3.2. Membinasakan bait Allah, dibinasakan

            Paulus bukan sekedar menjelaskan bahwa orang percaya harus hidup kudus, tetapi dia juga memberi peringatan keras dengan menyatakan jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membalas. Pembalasan disini menurut Hillyer, “Bukan terdorong karena dendam, tetapi tidak dapat dihindarkan, sebab orang yang bertanggung jawab itu ternyata oleh perbuatannya sudah menolak penyelamatan Allah.”[122] Disini Paulus dengan keras menyatakan bahwa Allah tidak akan membiarkan atau Allah akan berurusan dengan dia serta memberi hukuman. Kata membinasakan memakai kata, “phtheirw” (peteiro) yang artinya merusakkan, menghancurkan, menyia-nyiakan.[123] Dalam hal ini yang dimaksudkan sebagai membinasakan adalah perpecahan yang ditimbulkan oleh orang-orang percaya. Berquist menjelaskan, “Disini ada peringatan yang cukup jelas untuk menjadikan para pendeta berpikir sejenak sebelum ia merusak gereja agar ia dapat membinasakan dirinya sendiri.”[124]







[73] Gordon D. Fee dan Douglas Stuart, Hermeneutik (Malang: Gandum Mas, t.th), hlm. 42
[74] Russell P. Spittler, Pertama dan Kedua Korintus (Malang: Gandum Mas, 1971), hlm. 29
[75] Millard J. Berquist, Penyelidikan Surat Korintus Yang Pertama (Bandung: Gereja-gereja Baptis, t.th), hlm. 5
[76] J Wesley. Brill, Tafsiran Surat Korintus Pertama (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, t.th). hlm 11
[77] Teo Christi, Diktat :I dan II Korintus (Tawangmangu: STT Tawangmangu, t.th), hlm. 3
[78] Departemen Pendidikan Nasional, op.cit., hlm. 396

[79] J. Oswald Sanders, Kepemimpinan Rohani (Bandung: Kalam Hidup, 1979), hlm 20
[80]  Abineno, Jemaat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, t.th), hlm. 32
[81] R. E Nixon, “Apolos”, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, 2 Jilid (Jakarta: Yayasan Bina Kasih/OMF), I: 74
[82] David Ibrahim, Surat I Korintus (Jakarta: Mimery Press, 1999), hlm. 12
[83] Ed. Charles F. Pfieffer dan Everett F. Harrison,  The Wycliffe Bible Commentary, 2 Jilid (Malang: Gandum Mas, 2001), II: 605
[84] Departemen Pendidikan Nasional, op.cit., hlm. 391
[85] Van den End, Surat Roma, Seri Tafsiran Alkitab (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995), hlm. 41
[86] Newman, op.cit., hlm, 187
[87] Ayub Ranoh, Kepemimpinan Kharismatis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), hlm. 111
[88] Aril Edvardsen, Baptisan dan Karunia Rohul Kudus (Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil Immaneul, t.th), hlm. 10
[89] William Barclay, Galatia-Efesus, Seri Pemahaman Alkitab Sehari-hari (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), hlm. 223
[90] David L. Berlett, Pelayanan Dalam Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), hlm. 42
[91] Spittler, op.cit., hlm. 27
[92] Th. Van den End, Surat Roma (Jakarta: BPK: Gunung Mulia, 2000), hlm. 324
[93] Dave Hagelberg, Tafsiran Roma (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1998). Hlm. 137
[94] William Barclay, Surat Roma, Seri Pemahaman Alkitab Sehari hari (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986), hlm. 155
[95] Hasan Susanto, Interlinier Yunani-Indonesia & Korkondansi Perjanjian Baru, 2 Jilid (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2003), II: 315
[96] Spiros. Zodhiates, The Hebrew-Greek Key, Study Bible (USA: Chattanoga Amg Publisher, 1984). p. 1660
[97] Ibid. hlm. 1732
[98] Spittler, op.cit. hlm. 45
[99] Ibrahim, op.cit.,  hlm. 42
[100] Peter Wongso, Surat Ibrani, Eksposisi Doktrin Alkitab (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1993), hlm. 317
[101] John Drane, Memahami Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), hlm. 352
[102] Berquist. op.cit., hlm. 29
[103] Pfeiffer dan Harrison, op.cit., hlm. 610
[104] Zodhiates, op.cit., hlm. 1718
[105] Brill, op.cit., hlm. 39
[106] Susanto, op.cit., II: 437
[107] Newman, op.cit., hlm. 113
[108] Ibid, hlm. 34
[109] Brill, op.cit., hlm. 79
[110] Christi, op.cit., hlm. 8
[111] Norman Hillyer, Tafsiran Alkitab Masa Kini, 3 jilid (Jakarta: OMF, 1983), III:501
[112] Ibrahim, op.cit., hlm. 45
[113] J.L. Ch. Abineno, Surat Efesus, Seri Tafsiran Alkitab (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989), hlm. 125
[114] Ibid, hlm. 46
[115] Brill, op.cit., hlm. 84
[116] Ibrahim, op.cit., hlm. 55
[117] Newman. op.cit., hlm. 33
[118] Barclay, Galatia-Efesus, hlm. 178
[119] Newman, op.cit., hlm. 116
[120] Newman, op.cit., hlm. 115
[121] Abineno, op.cit., hlm. 13
[122] Hillyer, op. cit., hlm. 502
[123] Ibrahim, op.cit., hlm. 54
[124] Berquist, op.cit., hlm. 33

Komentar

Postingan Populer