Wadah dan Parit Bagi Tuhan

Wadah dan Parit Bagi Tuhan

Ev Lisa Sanusi

 
Judul ringkasan khotbah ini sebenarnya sangat berbeda dengan judul aslinya, tapi aku mengambil part ini dan menamainya demikian. Judul asli dan link khotbah ada di bagian paling bawah notes ini.
 
Seringkali kita mendengar cerita tentang Perkawinan di Kana. Tapi ketika kita mengaplikasikan dalam hidup sehari-hari, apakah kita bisa benar-benar percaya bahwa Tuhan mampu mengubah air menjadi anggur? Ketika Tuhan sudah siap mengubah air menjadi anggur, sudahkah kita siapkan wadahnya?
 
Yohanes 2:1-11
Ceritanya di hari ke3 pernikahan, Yesus dan ibunya pergi kondangan. Di tengah pesta, Maria berkata kepada Yesus, bahwa anggurnya habis.
 

Kenapa permasalahan anggur habis itu jadi masalah besar?

 
1) Bagi orang Yahudi, anggur adalah lambang kelimpahan dan prestige. Jadi ketika pesta dan kehabisan anggur itu sangat memalukan.
 
2) Anggur juga adalah lambang kemanisan, secara profetis. Jadi kalau namanya kehabisan anggur dalam pernikahan itu mengerikan.
 
Ada 3 jenis orang yang meresponi suatu kondisi. Dan secara khusus, kita hanya akan bahas satu orang disini :
 
MARIA : Pelayan dan Pemimpin pesta
 
1. Memiliki hati yang berbelas kasihan
Maria memiliki belas kasihan ketika melihat kondisi ini. Ada hati yang mengasihi dan peduli kepada kerabat yang sedang berpesta.
 
2. Percaya kepada Yesus
Maria tahu ketika dulu ia mengandung Yesus, ia sedang mengandung Allah Jehovah di kandungannya. Meski ia belum pernah melihat Yesus melakukan mujizat namun ia tahu siapakah pribadi di hadapannya.
 
3. Memiliki hati sebagai wadah dan parit
Maria memiliki hati yang bisa mengerti dan menangkap sesuatu, memiliki hati yang memiliki iman.
 
Maria belum tau Yesus akan melakukan apa, tetapi respon pertamanya adalah membuka hatinya dan mendatangi pelayannya untuk menyuruh mereka melakukan apa yang Yesus katakan.
 
Orang dengan jenis Maria ini, meski belum tahu apa yang akan Yesus lakukan, sudah menyiapkan hati dan wadahnya, dalam kondisi apapun.
 
Tuhan ingin kita belajar memiliki hati seperti Maria, hati yang siap dalam segala hal, percaya bahwa akan ada satu masa keajaiban yang akan tiba, dan cukup menantikan apa yang Tuhan sudah pernah katakan. Bahkan sebelum Dia berkata apa-apa, sudah menyiapkan jalan bagi Dia untuk dapat bekerja.
 
Pak Agung dulu pernah mendengungkan untuk menyiapkan parit, sebab akan ada satu masa ketika kondisi ekonomi di Indonesia akan pulih. Pada waktu itu, Ibu Lisa masih duduk saja dan belum mengerti. 
 
Namun akhirnya Ibu Lisa mulai bergerak, menyiapkan segala sesuatunya.
Belajar untuk menyiapkan segala sesuatunya sampai pada masanya Tuhan nyuruh untuk lakuin sesuatu kita udah siap dan tinggal melangkah.
 
4. Percaya pada waktunya Tuhan
Seringkali, kita malahan udah denger juga masih nanya lagi, "Bener gak ya? Bener gak ya"
Belajar untuk memiliki respon, mau kapanpun itu waktunya itu urusan Tuhan mengerjakan, tapi bagian kita adalah menyediakan wadah dan paritnya.
Kalau kita mau buka usaha. Atau kalau kita mau mengalami breakthrough dan berkat dari Tuhan, mengalami perubahan, belajar untuk bersiap dan nantikan Tuhan.
Kapan waktunya, bukan urusan kita, nanti Tuhan yang akan bergerak.
 
Ibu Lisa saat kecil berasal dari keluarga yang sebenarnya kaya, punya pabrik dan rumah besar. Saat kelas 5 SD, Papanya ditipu orang sehingga semuanya habis, semua dijual, bahkan sampai tinggal di rumah yang sangat kecil dan kumuh.
Namun meski Papanya merasa trauma, namun seorang yang visioner dan memiliki integritas. Papanya tidak pernah menceritakan yang buruk, yang sulit, tetapi menceritakan hal-hal yang membangkitkan semangat.
Kalau kita sedang mengalami masa yang sedang terpuruk, tetapi percayalah bahwa akan ada masanya air menjadi anggur.
Maria saat mendatangi Yesus, tetapi Yesus malah berkata, "Mau apa, Ibu? WaktuKu belum tiba."
 
Namun Maria tidak marah dan memaksakan kehendaknya.
Seringkali respon kita juga marah kepada Tuhan, keadaan sudah mepet, sudah habis, malah berkata, "WaktuKu belum tiba"
Mungkin seringkali kita merasa, ketika sudah di ujung tanduk, rasanya sudah hampir mati, baru ditolongin. Tapi sesungguhnya, tidak sampai seperti itu.
Belajarlah seperti Maria untuk memiliki respon yang tepat. Mungkin kita pikir, kita sudah di ujung tanduk. Tapi justru nantikan Tuhan, siapkan jalan bagi Tuhan, siapkan diri kita, siapkan mau usaha apa, punya rencana apa, dll.

Di tahun 2002, Ibu Lisa pernah dinubuatkan bahwa ia akan menjadi seorang konglomerat, ke bangsa-bangsa dan diberkati. Dan hari ini, semuanya itu jadi!
Akan ada waktunya, air akan menjadi anggur. Hidup kita cuma air, tawar atau malah jangan-jangan terasa asam.
Ini diulang-ulang karena ini adalah dasar dan fondasi, untuk kita melangkahkan kaki dan berharap sekalipun tidak ada dasar untuk berharap. Kalau kita tahu itu adalah destiny dan panggilan kita, kalau kita tahu bahwa kita hidup kita sebagai anak Tuhan tidak ada yang miskin.
Kalau orang ngerti hidup dalam perjanjian dan covenant, dia tidak akan merasa kepahitan dan hidup menderita. Kita harus ngerti perjanjian dan covenant!
-------------------------------------------------
KESIMPULAN :
1. Memiliki hati yang berbelas kasihan
2. Sadari siapakah Yesus dan apa yang bisa Dia lakukan dalam hidup kita
3. Miliki hati yang beriman dan percaya bahkan saat belum melihat apapun - Persiapkan jalan bagi Tuhan
4. Nantikan waktu Tuhan dan jangan paksakan waktu kita
5. Percayalah akan ada masanya air Tuhan ubah menjadi anggur - Percayalah bahwa semua yg Tuhan pernah nyatakan, suatu hari kita akan melihat penggenapannya.
6. Belajar mengerti perjanjian dan covenant
 
Jurnalis : Selviani Lakmudin

Sumber : Kotbah “Seminar Ekonomi Bag 1” oleh Ev. Lisa Sanusi

Komentar

Postingan Populer