Perjalanan Hidup



Perjalanan Hidup



Created By : Joshua Ivan

 
Tiap menit berganti menit, waktu terus terus berputar dengan cepat. Kehidupan bagi roda yang terus berputar, ada kalanya roda itu berputar ke atas ada kalanya roda itu berputar ke bawah. Manusia hidup di bawah terik matahari semuanya adalah sia – sia, manusia bekerja dengan berpeluh dan berkeringat karena berada dibawah hukum akibat dosa manusia pertama.
Dengan bersusah payah manusia mencari makan, dengan kerja keras mereka memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia hari – harinya dengan berbagai warna ; ada kalanya waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada kalanya mengalami hal – hal yang menyakitkan, ada waktu menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam, ada waktu untuk menyembuhkan, dan banyak sekali yang dialami oleh manusia didalam hidup ini.
Perjalanan hidup manusia adalah proses pembelajaran yang dialaminya. Kita hidup adalah sementara di dunia ini, jika kita hidup tanpa kasih karuniaNya maka semuanya sia – sia. Kadang kala kita tidak mengerti apa yang sedang kita alami, yang bisa kita rasakan dan ingat adalah hal – hal yang menyakitkan dan menyesakkan dada. Tanpa Tuhan yang mengendalikan hidup kita, kita mungkin sudah jatuh dalam lubang yang dalam, kita mungkin sudah menyerah dengan keadaan kita.
Kita sebagai manusia sangatlah sulit untuk mengampuni orang yang telah menyakiti kita. Kekuatan kita terbatas sekali, jika kita tidak meletakkan hidup kita di atas Batu Karang yang kokoh maka kita dengan mudahnya tergerus oleh badai kehidupan. Saat – saat terakhir ini kita banyak sekali mengalami tekanan dan masalah, sebab hari – hari yang kit lalui adalah hari – hari yang jahat. Sebagai manusia kita adalah rapuh adanya, kita mudah sekali frustasi dan depresi dalam menghadapi perjalanan hidup kita, kita bisa menjadi gila jika meletakkan dasar hidup kita diatas yang ada dibumi ini.
Kita diciptakan Tuhan, sifat dasar manusia kita adalah menyukai hidup dalam kenyamanan, seringkali kita dibawa oleh Tuhan dalam padang gurun dan lembah kekelaman, ketika berada dalam lembah kekelaman dan padang gurun, sifat manusia kita memberontak dan mengeluh. Kita seperti orang yang kehausan, sendirian dipadang gurun, tidak ada yang menolong kita, kita menjadi takut dan kuatir.
Seorang pengrajin tembikar, akan membentuk ulang jika tembikar itu cacat, tembikar yang sudah jadi akan dihancurkan kembali menjadi tanah liat, dan dibentuk kembali oleh sang pengrajin, agar mendapatkan hasil yang indah. Demikian juga hidup kita seperti tanah liat yang sedang di bentuk oleh Tuhan Sang Penjunan yang Agung. Tuhan tidak menginginkan anak – anakNya didapati cacat cela, Ia menginginkan agar kita tampil seperti emas murni.
Semua kotoran yang ada didalam kita, dibakar habis, kotoran itu keluar dan menyakitkan sekali. Emas itu masuk dalam peleburan api yang panas, agar semua yang tidak murni dikeluarkan dari emas itu, agar emas itu menjadi murni. Demikian juga kita, kita akan mengalami sesuatu hal yang tidak enak, mungkin orang lain tidak mengerti apa yang sedang kita hadapi.
Seberapa lama kita mengikut Tuhan belum menjadi jaminan kita kuat, dan layak, karena kita seringkali tidak mau alami proses pembakaran, kita juga berusaha sekeras mungkin untuk menjaga penampilan kita agar kelihatan baik – baik saja. Setiap orang akan mengalami proses Tuhan, kelihatannya mirip tetapi berbeda – beda. Masalah yang kita hadapi satu dengan yang lainnya akan berbeda.
Jika kita mampu melewati perjalanan hidup yang tidak enak ini, semua karena anugerahNya, kita itu mampu karena dimampukan oleh Tuhan bukan karena kita mampu menghadapi semua badai kehidupan.  

Jatiwangi, 15 Maret 2013
By His Grace
Joshua Ivan

Komentar

Postingan Populer